-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026




Oleh:
Rully Puturuhu
(Reporter JejakInfo.id)
AIR mata itu jatuh bukan di titik kedatangan, melainkan di sepanjang perjalanan yang lebih pantas disebut luka daripada jalur penghubung.
Gubernur Hendrik Lewerissa (HL), bersama sang istri, Ketua TP PKK Maluku, Maya Baby Lewerissa, menyaksikan sendiri bagaimana waktu seperti berhenti di Pegunungan Inamosol, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Keduanya tak kuasa menahan haru saat menapaki jalan menuju Desa Rumberu, Kecamatan Inamosol, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Perjalanan itu bukan sekadar kunjungan kerja, melainkan pengalaman yang mengguncang batin. Di hadapan mereka, terbentang kenyataan yang nyaris tak tersentuh waktu: jalan tanah berlubang, bebatuan tajam, jembatan kayu berdiri seadanya, rapuh menghadapi arus dan usia, jejak keterisolasian yang seolah dibiarkan selama puluhan tahun.
Di sinilah, selama hampir delapan dekade, warga Rumberu, Rambatu, dan Manusa bertahan dalam keterisolasian yang tak kunjung benar-benar diputus. Mereka hidup dalam keterbatasan akses yang sama. Janji pembangunan pernah datang, bahkan sempat membongkar jalan lama. Namun yang tersisa kini hanya harapan yang menggantung. Jalan tetap rusak, akses tetap sulit, dan kehidupan terus berjalan di atas ketidakpastian.
Di tengah perjalanan itu, HL memilih berhenti. Ia turun dari kendaraan. Bersama istrinya, HL berjalan kaki hampir 300 meter, menapaki lumpur, batu, dan lubang yang selama ini menjadi keseharian warga. Langkah demi langkah terasa berat. Bukan hanya bagi kaki, tetapi juga bagi hati. Setiap langkah seolah memindahkan rasa sakit itu ke tubuhnya sendiri.
“Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga perjalanan batin,” ujar HL, suaranya bergetar saat berdiri di hadapan Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Rumberu Klasis Kairatu, Minggu (22/3).
Pengalaman itu bukan yang pertama. Justru membuka kenangan lama yang kembali menyeruak, ketika jauh sebelum menjadi pejabat, ia pernah menembus medan serupa saat berjalan kaki dari Honitetu menuju Hukuanakota. Luka yang sama, cerita yang sama tentang masyarakat pegunungan Pulau Seram yang terus bertahan di tengah keterbatasan.
Ia tak pernah benar-benar lupa. Kini, dengan kewenangan di tangan, ia berjanji tidak akan memalingkan wajah dari wilayah-wilayah yang lama terabaikan, terutama di Pulau Seram.
Baginya, pembangunan jalan dan jembatan bukan sekadar proyek pembangunan. Ia adalah denyut kehidupan. Penghubung ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan. Tanpa jalan, hasil bumi terhenti. Tanpa jalan, akses kesehatan menjadi perjuangan. Tanpa jalan, masa depan terasa jauh. Di wilayah seperti Inamosol, jalan bukan hanya akses, tetapi harapan.
Namun ia juga tak menutup mata. Realitas tak sesederhana tekad. Keterbatasan anggaran masih menjadi tembok yang harus ditembus. Meski begitu, ia memastikan upaya terus berjalan, termasuk melalui skema pembiayaan dari PT Sarana Multi Infrastruktur di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
"Keterbatasan fiskal menjadi tantangan nyata. Pemerintah provinsi terus berupaya membuka isolasi secara bertahap, termasuk melalui skema pembiayaan dari PT SMI. Semoga ada harapan di tengah situasi bangsa yang tidak baik-baik saja," ucapnya penuh optimis.
Usai meresmikan Gereja GALED Jemaat GPM Rumberu, gubernur duduk bersama tokoh masyarakat dan agama. Di forum sederhana itu, satu komitmen kembali ditegaskan: jalan yang telah rusak selama 80 tahun harus diperbaiki.
“Kita akan mengupayakan dana Inpres untuk merealisasikan pembangunan ini. Sebab bukan status jalan, tapi soal pemerataan pembangunan yang layak bagi rakyat,” katanya mantap.
Bagi warga Inamosol, jalan bukan sekadar persoalan infrastruktur. Ia adalah musuh sehari-hari. Jalan adalah cerita panjang tentang kesabaran. Saat hujan turun, desa bisa terputus total. Hasil pertanian membusuk sebelum sampai pasar. Akses ke layanan kesehatan menjadi pertaruhan nyawa.
Di tengah harapan yang kembali tumbuh, suara warga terdengar jujur dan dalam.
“Kami sudah menunggu puluhan tahun. Semoga ini benar-benar terwujud, agar anak cucu kami tidak lagi merasakan penderitaan yang sama,” ujar Caroles Niak dengan mata berkaca-kaca.
Hari itu, di Pastori Jemaat GPM Rumberu, bukan hanya gereja yang diresmikan. Ada harapan yang kembali ditegakkan, bahwa negara akhirnya hadir, meski terlambat.
Komitmen yang disampaikan di Pastori Jemaat GPM Rumberu itu kini menjadi penanda baru bahwa perhatian akhirnya mulai menyentuh wilayah yang lama terabaikan. Namun bagi warga, janji saja tidak cukup. Mereka menunggu langkah nyata. Sebab di Inamosol, setiap jalan yang diperbaiki bukan hanya membuka akses, tetapi juga membuka masa depan. (*)






