Sekretaris DPD GAMKI Maluku, Prof. Dr. Fransina Latumahina bersama delegasi Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia saat berkesempatan mengikuti rangkaian ‘The 4th Maritime Silk Road Youth Exchange Camp’ di Fuzhou, Fujian, Tiongkok, 24-28 Agustus.

Dari Fuzhou, Kader GAMKI Maluku Bawa Pulang Inspirasi Bisnis dan Jejak Diaspora Tionghoa

189

Beijing, JejakInfo.id — Perjalanan ke Fuzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok, menjadi pengalaman yang membuka cakrawala baru bagi Prof. Dr. Fransina Latumahina, Sekretaris DPD GAMKI Maluku.

Bersama 18 delegasi lainnya dari berbagai daerah di Indonesia, Latumahina mengikuti rangkaian The 4th Maritime Silk Road Youth Exchange Camp yang berlangsung di Fuzhou pada 24-28 Agustus 2026.

Bagi Latumahina, perjalanan tersebut bukan sekadar agenda pertukaran pemuda. Ada banyak pelajaran yang menurutnya relevan untuk dibawa pulang dan dikembangkan di Maluku, terutama dalam membangun dunia usaha.

“Saya belajar banyak tentang kegigihan usaha dan integritas diri untuk maju dan berkembang dari keberhasilan para pengusaha di Cina. Ini menjadi motivasi tersendiri bagi saya untuk mengembangkan diri menjadi pengusaha yang handal, khususnya di bidang fashion dan wastra yang sedang saya geluti saat ini di Maluku,” kata Latumahina.

Selain sebagai kader GAMKI Maluku, Latumahina juga merupakan akademisi pada Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon. Pengalaman melihat langsung perkembangan dunia usaha di Fujian membuatnya semakin yakin bahwa kreativitas, ketekunan dan keberanian mengembangkan potensi lokal merupakan modal penting untuk membangun usaha yang berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Umum DPP GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat menilai keikutsertaan 19 delegasi GAMKI dari berbagai daerah di Indonesia menjadi kesempatan berharga untuk memperluas jejaring.

Menurutnya, pertemuan tersebut membuka ruang bagi para kader GAMKI untuk membangun relasi dengan pengusaha Tiongkok maupun Indonesia yang berada di negeri tersebut.

Delegasi GAMKI juga mendapatkan pemahaman mengenai panjangnya sejarah hubungan Indonesia dan Tiongkok, sekaligus pentingnya aspek hukum dalam menopang perkembangan dunia usaha.

“Ini merupakan momentum berharga untuk menjalin relasi dengan pengusaha Tiongkok maupun Indonesia. Kami juga belajar tentang kuatnya sejarah hubungan kedua negara dan pentingnya aspek hukum dalam menopang bisnis,” ujar Sahat.

Sebanyak 19 anggota delegasi GAMKI yang mengikuti kegiatan tersebut berasal dari berbagai tingkatan organisasi, mulai dari Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah hingga Dewan Pimpinan Cabang. Mereka datang dari berbagai wilayah Indonesia, dari Medan hingga Merauke.

Prof. Dr. Fransina Latumahina.

Selama berada di Fuzhou, delegasi mengikuti sejumlah agenda yang mempertemukan mereka dengan berbagai unsur pemuda, akademisi dan pelaku usaha.

Kegiatan dibuka oleh Chairman of Fuzhou Youth Federation Lin Dun, First Vice Chairman Perkumpulan Fuqing Indonesia Wang Yuzhong, President of Fuyao University of Science and Technology Wang Shugio, serta perwakilan pemuda Tionghoa perantauan dan mahasiswa Central University of Finance and Economics Chen Han.

Dalam kegiatan tersebut juga berlangsung penandatanganan kerja sama antara Fuzhou Youth Federation, Perkumpulan Fuqing Indonesia dan Australian Fuqing Association.

Tak berhenti pada forum pertemuan, delegasi GAMKI diajak melihat langsung perkembangan Kota Fuzhou dan kawasan sekitarnya.

Mereka mengunjungi Fuzhou Urban Planning Exhibition Hall, Liangcuo Historical and Cultural District, kawasan industri Fuqing, Liem Sioe Liong Memorial Hall, serta kawasan kota tua Three Lanes and Seven Alleys.

Rangkaian kunjungan kemudian ditutup dengan studi banding ke Maritime Silk Road Legal Service Zone.

Bagi delegasi, kunjungan tersebut memberikan gambaran bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya dibangun dari kebijakan pemerintah, tetapi juga dari keterlibatan masyarakat dan para pelaku usaha yang memiliki ikatan kuat dengan daerah asalnya.

Sekretaris Umum DPP GAMKI Alan Singkali mengatakan, salah satu hal yang menarik perhatian delegasi adalah kuatnya perhatian para perantau asal Fujian terhadap tanah leluhur mereka.

“Selama di Fujian ini kami juga belajar betapa para perantau di Tiongkok sangat hormat dan memperhatikan kampung halamannya,” ujar Alan.

Ia mencontohkan sejumlah pengusaha asal Fujian yang sukses di Indonesia, seperti Liem Sioe Liong, Tahir, Djuhar Sutanto dan The Ning King. Pada era 1990-an, mereka disebut turut berinvestasi di tanah leluhur sehingga ikut mendorong perkembangan ekonomi Fujian.

Menurut Alan, fenomena tersebut kemudian ikut menarik perhatian perusahaan-perusahaan besar dari Singapura untuk melakukan langkah serupa.

Kini, Fujian berkembang menjadi salah satu kawasan yang maju dan memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan berbagai negara, termasuk Indonesia melalui investasi di sejumlah kawasan industri.

Bagi delegasi GAMKI, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa hubungan dengan tanah asal tidak harus terputus oleh jarak. Justru, diaspora dapat menjadi kekuatan untuk membangun daerah sekaligus membuka hubungan ekonomi yang lebih luas.

Perjalanan ke Fuzhou pun tidak sekadar menjadi pengalaman internasional bagi kader GAMKI. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk belajar, membangun jejaring dan mencari inspirasi yang dapat dibawa kembali ke daerah masing-masing, termasuk Maluku. (ji6)

1 Menyukai postingan ini