Sambutan Rektor Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura di Zest Hotel Ambon, Kamis (30/7). (Ist)

Fakultas Kedokteran Unpatti Siapkan Arah Baru Lima Tahun ke Depan, Libatkan Seluruh Pemangku Kepentingan Susun Renstra 2026–2030

1

Ambon, JejakInfo.id – Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura (Unpatti) mulai menyiapkan peta jalan pengembangannya untuk lima tahun mendatang. Langkah itu diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Diskusi Kelompok Terarah Pemangku Kepentingan untuk Pengembangan Rencana Strategis Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura Tahun 2026–2030 yang digelar di Zest Hotel Ambon, Kamis (30/7).

Forum tersebut menjadi ruang bersama bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menyampaikan gagasan, masukan, dan rekomendasi dalam merumuskan arah pengembangan Fakultas Kedokteran Unpatti agar semakin adaptif terhadap tantangan pendidikan kedokteran sekaligus mampu menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan di Maluku.

FGD dihadiri Rektor Universitas Pattimura, jajaran pimpinan universitas, Dekan Fakultas Kedokteran dr. Farah Christina Noya, M.HPEd., Ph.D., beserta sivitas akademika, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, dinas kesehatan, rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan, organisasi profesi, alumni, dosen, mahasiswa, hingga para mitra Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura.

Membuka kegiatan tersebut, Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., menegaskan bahwa penyusunan Rencana Strategis (Renstra) bukan sekadar menyusun dokumen perencanaan, tetapi menjadi momentum penting untuk mengevaluasi perjalanan Fakultas Kedokteran sekaligus menentukan arah pengembangan di tengah perubahan dunia pendidikan kedokteran yang berkembang sangat cepat.

Menurut Rektor, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus mendorong peningkatan jumlah tenaga kesehatan dengan membuka fakultas kedokteran di berbagai perguruan tinggi. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan baru bagi setiap institusi pendidikan kedokteran untuk tetap menjaga mutu lulusannya.

"Pertanyaan besar bagi kita bukan hanya bagaimana meningkatkan produktivitas lulusan, tetapi bagaimana menjamin kualitas lulusan yang dihasilkan. Kualitas lulusan ditentukan oleh kualitas input mahasiswa, proses pembelajaran, sarana dan prasarana, tata kelola, hingga outcome dan dampaknya bagi masyarakat. Lima aspek ini harus menjadi perhatian dalam penyusunan Renstra," tegas Rektor.

Ia juga mengungkapkan bahwa tingginya minat masyarakat untuk menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas proses pendidikan.

Rektor menjelaskan, kapasitas ideal penerimaan mahasiswa baru setiap tahun berada pada kisaran 150 orang. Namun, dalam lima tahun terakhir jumlah mahasiswa yang diterima mencapai 175 hingga 200 orang. Kondisi tersebut menuntut pengelolaan yang semakin baik agar mutu pendidikan tetap terjaga.

Menurutnya, peningkatan jumlah mahasiswa berdampak langsung terhadap pendidikan profesi. Keterbatasan rumah sakit pendidikan, stase klinik, serta jumlah dokter spesialis pembimbing menyebabkan masa tunggu mahasiswa untuk memasuki pendidikan profesi menjadi lebih panjang.

"Kondisi ini berdampak pada proses pendidikan profesi. Dengan keterbatasan rumah sakit pendidikan, stase klinik, dan dokter spesialis pembimbing, masa tunggu mahasiswa untuk mengikuti pendidikan profesi menjadi lebih panjang. Karena itu, penguatan tata kelola dan strategi pengembangan menjadi sangat penting agar kualitas pendidikan tetap terjaga," tambahnya.

Foto bersama peserta dan tamu undangan.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura, dr. Farah Christina Noya, M.HPEd., Ph.D., menjelaskan bahwa penyusunan Renstra 2026–2030 dilakukan melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan Fakultas Kedokteran.

"Kami melakukan Focus Group Discussion sebagai diskusi yang terarah dengan melibatkan pemerintah daerah, dinas kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, organisasi profesi, alumni, dosen, mahasiswa, serta para pengguna lulusan. Forum ini menjadi ruang untuk mengkalibrasi kembali capaian Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura, baik dari indikator kinerja utama maupun program-program unggulan yang telah dijalankan," jelasnya.

Menurut Dekan, keterlibatan berbagai pihak menjadi sangat penting mengingat Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura merupakan satu-satunya fakultas kedokteran negeri di Provinsi Maluku yang selama ini telah melahirkan sebagian besar dokter yang kini mengabdi di rumah sakit maupun puskesmas di berbagai kabupaten dan kota di Maluku.

Melalui forum tersebut, Fakultas Kedokteran juga ingin memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai sejauh mana lulusan yang dihasilkan telah mampu menjawab tantangan pembangunan kesehatan di wilayah kepulauan. Evaluasi tidak hanya difokuskan pada jumlah dokter yang dihasilkan, tetapi juga terhadap kontribusi nyata para lulusan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan serta indikator kesehatan masyarakat.

Dekan turut memaparkan salah satu program strategis yang akan terus diperkuat, yakni pengembangan Academic Health System berbasis kepulauan melalui konsep Rural Clinical School. Program ini dirancang agar mahasiswa memperoleh pengalaman pendidikan klinik secara langsung di rumah sakit daerah maupun puskesmas di berbagai kabupaten di Maluku sehingga lebih siap ketika nantinya mengabdi di daerah kepulauan.

"Kami berharap pemerintah daerah dapat memperkuat kerja sama melalui penyediaan rumah sakit daerah sebagai wahana pendidikan klinik serta memberikan kesempatan kepada putra-putri terbaik daerah untuk menempuh pendidikan dokter, dokter gigi, maupun dokter spesialis di Universitas Pattimura. Mereka yang berasal dari daerah memiliki peluang lebih besar untuk kembali mengabdi dan membangun daerah asalnya," ujar Dekan.

Dalam pelaksanaannya, FGD diawali dengan pemaparan draf Rencana Strategis Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura Tahun 2026–2030 oleh Ketua Tim Penyusun Renstra. Paparan tersebut menjelaskan visi, misi, sasaran strategis, indikator kinerja, serta berbagai program prioritas yang akan menjadi arah pengembangan Fakultas Kedokteran selama lima tahun mendatang.

Suasana diskusi kemudian berlangsung dinamis. Para peserta yang berasal dari pemerintah daerah, dinas kesehatan, rumah sakit, organisasi profesi, alumni, dosen, mahasiswa, hingga pengguna lulusan menyampaikan berbagai pandangan, kritik, saran, serta rekomendasi untuk menyempurnakan dokumen Renstra.

Seluruh masukan yang dihimpun dalam forum itu akan menjadi bahan penyempurnaan sebelum Rencana Strategis Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura Tahun 2026–2030 difinalisasi sebagai pedoman pengembangan institusi.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Ketua Tim Penyusun Renstra menyerahkan secara simbolis draf Rencana Strategis Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura Tahun 2026–2030 kepada Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura.

Melalui penyusunan Renstra yang inklusif, kolaboratif, dan berbasis kebutuhan daerah, Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura optimistis mampu menghadirkan dokumen perencanaan yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus responsif dalam menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah Maluku. (ji6)

1 Menyukai postingan ini