Perayaan Natal GMKI Cabang Ambon bersama anak-anak Panti Asuhan Pelita Kasih berlangsung di Gedung Gereja Rehoboth, Senin (22/12). (Ist)

GMKI Ambon Rayakan Natal Bersama Anak Panti Asuhan Pelita Kasih

151

Ambon, JejakInfo.id — Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon bersama Persekutuan Senior GMKI Cabang Ambon merayakan Natal lintas generasi bersama anak-anak Panti Asuhan Pelita Kasih dalam ibadah yang berlangsung khidmat di Gereja Rehoboth, Senin (22/12). 

Perayaan ini menjadi perjumpaan iman yang hangat, menyatukan kader muda dan para senior dalam semangat kebersamaan, pelayanan, dan solidaritas sosial.

Ibadah Natal tersebut dihadiri Pelaksana Tugas Sekretaris Kota Ambon Robby Sapulette, perwakilan Sinode MPH Sinode GPM, Pdt. Adriana Lohy dan Penatua Phill M. Latumaerissa, Ketua Klasis se-Klasis Ambon, jajaran pengurus DPC dan komisariat GMKI, serta kader dan Senior GMKI Cabang Ambon. Kehadiran lintas generasi ini menegaskan GMKI sebagai rumah bersama yang terus bertumbuh di tengah dinamika zaman.

Ibadah dipimpin oleh Pdt. S. Werinussa, M.Si, yang dalam refleksi Natalnya mengangkat tema “Natal di Tiris-Tiris Kehidupan.” Dalam khotbah yang bernuansa reflektif, ia menegaskan bahwa Natal mengajak umat untuk menempatkan iman sebagai pusat kehidupan, bukan jabatan, status, atau posisi struktural.

“Iman bukan tentang menjadi pusat sorotan, melainkan tentang kesediaan setia mengikuti karya Allah, sekalipun kita berada di pinggir narasi,” tuturnya.

Mengacu pada Matius 1:18–25, Pdt. Werinussa menyoroti figur Yusuf sebagai teladan iman yang tidak memaksakan kebenaran versi dirinya. Yusuf memang tidak tampil dominan dalam kisah Natal, namun justru melalui sikap diam, taat, dan rendah hati itulah nilai iman sejati terpancar.

“Yusuf mengajarkan kita bahwa kebenaran bukan alat kuasa atau legitimasi diri, melainkan disposisi hati yang tunduk pada kehendak Allah dan membuka ruang bagi kehidupan bersama,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa berbagai privilese yang dimiliki manusia; pendidikan, jabatan, maupun akses bukan tanda keunggulan pribadi, melainkan anugerah Allah yang dipercayakan untuk melayani dan mengasihi sesama, terutama mereka yang berada di pinggiran kehidupan.

Dalam khotbahnya, Pdt. Werinussa turut mengangkat figur para Majus sebagai simbol kaum intelektual yang berintegritas dan berani menolak kompromi dengan tirani kekuasaan. Nilai ini dinilainya sangat relevan dengan jati diri GMKI sebagai gerakan mahasiswa yang kritis, mandiri, dan bertanggung jawab secara moral.

Pelaksana Tugas Sekretaris Kota Ambon Robby Sapulette, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi kepada GMKI sebagai mitra strategis pemerintah dan agen perubahan di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Ambon terbuka terhadap kritik dan masukan konstruktif dari GMKI demi pembangunan kota yang berkeadilan dan berkelanjutan.

“GMKI diharapkan terus menghadirkan sukacita dan damai sejahtera di Kota Ambon, sejalan dengan tema Natal Sinode GPM, Natal Kristus Menghadirkan Damai Sejahtera bagi Semua,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Pengurus Cabang Persekutuan Senior (PCPS) GMKI Ambon, Vicktor Palijama, menegaskan bahwa Kristus harus tetap menjadi pusat seluruh realitas kehidupan orang percaya. Ia mengingatkan teladan Dr. Johannes Leimena, tokoh pendiri GMKI, yang dalam proses kemerdekaan hingga pembangunan bangsa senantiasa menempatkan Kristus sebagai sentral kehidupan, tanpa terjebak pada rasa tersisih atau inferioritas sebagai orang Kristen.

“Banyak orang Kristen merasa terjepit dalam proses integrasi di berbagai ruang kehidupan. Karena itu, jati diri kita adalah menempatkan Kristus sebagai pusat seluruh realitas hidup. Ketika kita berserah sepenuhnya kepada Tuhan, kita akan dimampukan,” ujarnya.

Palijama juga menegaskan panggilan GMKI untuk terus memegang teguh prinsip tinggi iman, tinggi ilmu, dan tinggi pengabdian sebagai wujud kesaksian iman yang relevan, kontekstual, dan membumi di tengah bangsa dan masyarakat.

Ketua GMKI Cabang Ambon, Apriansa Attapary, dalam pernyataannya menekankan pentingnya menjaga relasi lintas generasi antara kader dan senior GMKI. Ia menyebut GMKI sebagai rumah bersama yang harus dirawat melalui komunikasi yang sehat, kasih, dan saling menghargai.

“Natal ini mengingatkan kita bahwa GMKI bukan sekadar ruang jabatan atau kepentingan, tetapi rumah bersama tempat kita bertumbuh, belajar, dan melayani,” katanya.

Perayaan Natal ditutup dengan sentuhan kasih kepada anak-anak Panti Asuhan Pelita Kasih sebagai wujud nyata penghayatan iman dan solidaritas sosial. Kebersamaan tersebut menjadi penegasan bahwa Natal tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi dihidupi melalui tindakan kasih yang sederhana, tulus, dan penuh makna. (ji5)