-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Ambon, JejakInfo.id — Pendidikan inklusif bukan sekadar memastikan semua anak bisa masuk ke sekolah. Lebih jauh dari itu, pendidikan harus mampu membuat setiap anak merasa diterima, aman, memiliki kesempatan untuk belajar, berpartisipasi, dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Semangat inilah yang mendorong Yayasan Rumah Generasi melalui Program INKLUSI bersama SMP Negeri 19 Ambon memperkuat penyelenggaraan pendidikan inklusif di Kota Ambon.
Kerja sama tersebut menempatkan guru, sekolah, orang tua, pemerintah, dan layanan pendukung sebagai bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang mampu merespons keberagaman kebutuhan peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus.
Upaya itu diwujudkan melalui Pelatihan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif yang berlangsung selama tiga hari, 21–23 September 2026, di SMP Negeri 19 Ambon.
Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan dari 10 sekolah inklusif jenjang SD dan SMP, orang tua anak berkebutuhan khusus, Dinas Pendidikan Kota Ambon, serta Unit Layanan Disabilitas (ULD) Pendidikan.
Orang Tua Didorong Menjadi Mitra Sekolah
Rangkaian kegiatan diawali pada 21 September 2026 dengan pembukaan oleh Dinas Pendidikan Kota Ambon. Kehadiran pemerintah daerah menjadi bagian dari dukungan terhadap penguatan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Kota Ambon.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi bagi orang tua anak berkebutuhan khusus yang disampaikan Koordinator Program INKLUSI Yayasan Rumah Generasi, Jemmy Talakua.
Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membangun pemahaman bersama mengenai pendidikan inklusif sekaligus menggugah kesadaran bahwa orang tua memiliki peran penting dalam perjalanan pendidikan anak.
Sekolah tidak mungkin bekerja sendiri. Orang tua perlu menjadi mitra sekolah dengan membangun komunikasi, menyampaikan informasi mengenai kebutuhan anak, serta bersama-sama mencari bentuk dukungan yang paling tepat agar anak dapat mengikuti proses pendidikan secara optimal.
Dengan kolaborasi tersebut, kebutuhan anak diharapkan tidak hanya dipahami di rumah, tetapi juga dapat direspons secara tepat di lingkungan sekolah.
Guru Dibekali Kemampuan Menjawab Keberagaman Siswa
Setelah orang tua, perhatian kemudian diarahkan kepada para guru. Pada 22 September 2026, pelatihan difokuskan kepada guru-guru perwakilan dari 10 sekolah inklusif di Kota Ambon.
Pelatihan tidak berhenti pada pengenalan konsep pendidikan inklusif. Para guru juga dibekali pemahaman yang lebih praktis tentang bagaimana mengenali keberagaman peserta didik, mengidentifikasi hambatan dan kebutuhan belajar, menerapkan pembelajaran adaptif, menyediakan akses serta akomodasi yang layak, hingga memahami layanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Materi difasilitasi Tim Program INKLUSI Yayasan Rumah Generasi bersama dua guru terlatih pendidikan inklusif tingkat mahir.
Wakil Direktur Yayasan Rumah Generasi, Okto Pattikawa, menyampaikan apresiasi kepada SMP Negeri 19 Ambon atas komitmen dan langkah nyata dalam memperkuat penyelenggaraan pendidikan inklusif.
Apresiasi juga diberikan atas upaya SMP Negeri 19 Ambon merangkul sekolah-sekolah inklusif lainnya di Kota Ambon untuk bersama-sama mendorong terwujudnya layanan pendidikan yang semakin inklusif.
Guru Tak Hanya Belajar Teori
Pelatihan kemudian diarahkan pada praktik. Para peserta berlatih menggunakan format identifikasi dan asesmen, menyusun capaian serta tujuan pembelajaran, menyusun Program Pendidikan Individual (PPI), hingga memahami modifikasi kurikulum yang sesuai bagi anak berkebutuhan khusus.
Hal ini menjadi penting karena setiap peserta didik memiliki kebutuhan belajar yang berbeda.
Guru tidak bisa selalu menggunakan pendekatan yang sama untuk semua anak. Kebutuhan setiap peserta didik perlu dikenali sehingga tujuan, aktivitas, maupun strategi pembelajaran dapat disesuaikan.
Dengan cara tersebut, anak berkebutuhan khusus tidak hanya hadir di dalam kelas, tetapi benar-benar mendapatkan kesempatan untuk mengikuti proses pembelajaran dan berkembang bersama teman-temannya.
Pengetahuan Harus Dibawa ke Ruang Kelas
Menutup rangkaian pelatihan selama tiga hari, Kepala SMP Negeri 19 Ambon, Novy Gaspersz, S.Pd., berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh para peserta tidak berhenti di ruang pelatihan.
Menurutnya, apa yang telah dipelajari perlu dibagikan kepada guru-guru lainnya dan diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah masing-masing.
Sebab, pendidikan inklusif bukan pekerjaan satu orang maupun satu lembaga. Keberhasilannya membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Salah seorang guru peserta mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai cara memfasilitasi pembelajaran bagi seluruh peserta didik.
“Kami mempelajari banyak hal tentang pendidikan inklusif, termasuk bagaimana sebagai guru memfasilitasi kegiatan pembelajaran bagi semua siswa, bukan hanya siswa tanpa kebutuhan khusus, tetapi juga siswa berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Menurutnya, guru juga mendapatkan pemahaman tentang cara mengidentifikasi kebutuhan belajar murid yang beragam.
Hasil identifikasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar bagi guru untuk melakukan penyesuaian atau modifikasi dalam proses pembelajaran, baik pada tujuan maupun aktivitas pembelajaran, sehingga kebutuhan belajar murid berkebutuhan khusus dapat diakomodasi.
Membangun Ekosistem Pendidikan yang Inklusif
Kerja sama Yayasan Rumah Generasi dan SMP Negeri 19 Ambon memperlihatkan bahwa penguatan pendidikan inklusif tidak cukup dilakukan melalui pelatihan semata.
Peningkatan kapasitas guru perlu berjalan beriringan dengan praktik nyata di sekolah, komunikasi dengan orang tua, dukungan manajemen sekolah, serta penguatan layanan dan mekanisme rujukan bagi peserta didik yang membutuhkan.
Pada akhirnya, pendidikan inklusif bukan berarti memberikan perlakuan yang sama persis kepada setiap anak.
Yang lebih penting adalah memastikan setiap anak memperoleh dukungan sesuai kebutuhan dan kondisinya, sehingga memiliki kesempatan yang setara untuk belajar, berpartisipasi, merasa aman, dan mengembangkan potensi terbaiknya.
Karena itu, pendidikan inklusif membutuhkan ekosistem yang bergerak bersama.
Guru harus siap dan adaptif. Sekolah harus terbuka dan mendukung. Orang tua perlu terlibat. Pemerintah harus hadir. Sementara layanan pendukung harus dapat diakses ketika dibutuhkan.
Ketika seluruh unsur tersebut berjalan dalam satu arah, inklusi tidak lagi sekadar menjadi konsep yang dibicarakan dalam ruang pelatihan.
Inklusi akan hadir secara nyata di ruang kelas—ketika setiap anak merasa diterima, dihargai, didukung, dan memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang. (ji2)
