Fuve Precident PT Inpex Corporation Henry Banjarnahor menemui pendemo saat aksi yang digelar, Senin (3/11). (Ist)

“Kami Tak Akan Diam!”: Warga Tanimbar Duduki Kantor Pusat Inpex di Jakarta, Ultimatum Dilayangkan

1,063

Jakarta, JejakInfo.id — Suasana di Jalan Asia Afrika, Jakarta Pusat, mendadak tegang pada Senin (3/11). Ratusan massa dari Aliansi Perjuangan Keadilan Rakyat Tanimbar (APKRT) mengepung dan menduduki kantor pusat PT Inpex Corporation serta SKK Migas. Seruan mereka lantang: menuntut keadilan bagi rakyat di tanah kaya gas, Kepulauan Tanimbar.

Dipimpin Simon Batmomolin, massa menuding perusahaan migas asal Jepang itu bersama sejumlah oknum pemerintah daerah telah melenceng jauh dari semangat keadilan sosial. “Kami tidak menolak pembangunan, tapi kami menolak dipinggirkan di tanah sendiri,” tegas Simon di tengah orasi.

Aksi ini membawa delapan tuntutan utama. Di antaranya: penghormatan terhadap masyarakat adat Tanimbar, ganti rugi lahan yang adil, prioritas tenaga kerja lokal, transparansi program CSR, serta pelibatan UMKM dan pengusaha daerah dalam proyek Blok Masela—proyek gas raksasa bernilai Rp345 triliun yang disebut-sebut sebagai salah satu investasi asing terbesar di Indonesia.

Mereka juga menuntut pencopotan Puri Minari, Senior Manager Communication and Relation Inpex Masela, yang dianggap menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat.

Teriakan massa menggema di depan gedung pencakar langit itu. Spanduk bertuliskan “Inpex, Hargai Rakyat Tanimbar!” terbentang di antara kepulan asap dupa. Polisi tampak berjaga ketat, sementara negosiasi berlangsung di ruang tertutup.

Setelah ketegangan mereda, Henry Banjarnahor, Five President Inpex Masela, akhirnya menemui perwakilan massa. Pertemuan itu berlangsung alot. Simon menegaskan, pihaknya tak mau hanya diberi janji manis. “Ini bukan mediasi seremonial. Kami menuntut keputusan nyata yang berpihak kepada rakyat Tanimbar,” ujarnya.

Ratusan masa menggelar aksi demo di Kantor Pusat PT Inpex Coporation, Senin (3/11)

Dalam pertemuan tersebut, Henry berjanji akan segera membawa aspirasi itu ke pimpinan Inpex di Jepang. Namun Simon menegaskan, mereka akan menunggu hanya dua minggu.

“Kalau tak ada kejelasan, kami akan kembali dengan massa yang lebih besar,” katanya lantang.

Proyek Blok Masela, yang ditargetkan beroperasi hingga 2055, sejatinya digadang-gadang menjadi penopang energi nasional. Namun bagi warga Tanimbar, proyek yang megah itu justru menyisakan luka sosial.

“Inpex harus belajar menghormati rakyat Tanimbar, bukan hanya menggali kekayaan alamnya,” tutup Simon dengan suara bergetar, disambut sorak dukungan massa di bawah langit Jakarta yang mulai mendung. (ji3)