Salah satu armada Perumda Panca Karya, KMP Tanjung Sole kembali melayani masyarakat di lintasan Ambon–Waisala–Buano–Manipa–Namlea–Teluk Bara pulang pergi (PP) pasca docking. (Dok)

KMP Tanjung Sole Kembali Berlayar, Bukti Kebangkitan Perumda Panca Karya Layani Masyarakat Maluku

12

Ambon, JejakInfo.id – Kurang dari setahun sejak dilantik Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, jajaran Direksi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Panca Karya mulai menunjukkan hasil kerja yang nyata. 

Perlahan namun pasti, perusahaan daerah yang selama ini menjadi tumpuan transportasi laut antarpulau di Maluku kembali bangkit dengan menghadirkan pelayanan yang semakin baik bagi masyarakat.

Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Muhammad Ranny Tualeka, didampingi Direktur Operasional Syaifudin Goo dan Direktur Keuangan Marla Beatriecs Kailola, berbagai pembenahan dilakukan sejak mereka dipercaya mengemban amanah pada 17 September 2025.

Dengan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Maluku, pengawasan Dewan Pengawas serta kerja sama seluruh pegawai, Perumda Panca Karya perlahan berhasil mengembalikan kepercayaan masyarakat melalui peningkatan layanan transportasi laut.

Salah satu capaian yang paling dirasakan masyarakat adalah kembalinya KMP Tanjung Sole beroperasi setelah menjalani proses docking sejak Januari 2026. Kapal andalan milik Perumda Panca Karya itu akhirnya menyelesaikan seluruh tahapan perbaikan pada 7 Maret 2026, termasuk pengurusan dokumen kelayakan serta uji coba lintasan.

Setelah dinyatakan laik berlayar, pada 25 Juni 2026 KMP Tanjung Sole resmi kembali melayani masyarakat di lintasan Ambon–Waisala–Buano–Manipa pulang pergi (PP). Operasional perdana kapal tersebut berlangsung lancar tanpa kendala berarti dan mendapat sambutan positif dari masyarakat yang selama ini menantikan kehadirannya.

Kini, jangkauan pelayanan kapal semakin diperluas. Mulai pekan ini, KMP Tanjung Sole juga melayani rute Namlea–Teluk Bara sehingga konektivitas antarwilayah di Maluku semakin terbuka.

Direktur Utama Perumda Panca Karya, Muhammad Ranny Tualeka, mengatakan pihaknya telah menetapkan jadwal operasional KMP Tanjung Sole untuk periode Juli hingga Agustus 2026.

"Jadwal itu pun telah disampaikan kepada Kepala Dinas Perhubungan Maluku, Ketua DPRD Maluku, Kepala BPTD Kelas II Maluku, Ketua DPRD dan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Buru, serta Ketua DPRD dan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Seram Bagian Barat," ujar Tualeka di Ambon, Rabu (8/7).

Ia menjelaskan, pelayaran telah diawali dari Ambon pada Selasa, 7 Juli malam. Kapal kemudian bertolak dari Waisala pukul 08.00 WIT, Buano pukul 10.00 WIT, dan Manipa pukul 14.00 WIT pada Rabu, 8 Juli, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Namlea.

Selanjutnya, dari Namlea kapal berangkat pada Kamis, 9 Juli pukul 07.00 WIT menuju Teluk Bara. Setelah melayani penumpang di Teluk Bara, kapal kembali ke Namlea pada malam harinya pukul 21.00 WIT.

Perjalanan dilanjutkan pada Jumat pukul 09.00 WIT dari Namlea menuju Manipa, Buano, dan Waisala dengan jadwal singgah yang telah ditetapkan, hingga akhirnya kembali tiba di Ambon sesuai jadwal pelayaran.

Menurut Tualeka, pola pelayaran tersebut akan diberlakukan secara rutin sepanjang Juli 2026.

Setiap Selasa, KMP Tanjung Sole bertolak dari Ambon pada tanggal 7, 14, 21, dan 28 Juli. Kapal kemudian tiba di Waisala, Buano, dan Manipa setiap Rabu tanggal 8, 15, 22, dan 29 Juli. Selanjutnya kapal melayani rute Namlea–Teluk Bara setiap Kamis tanggal 9, 16, 23, dan 30 Juli, sebelum kembali dari Namlea menuju Manipa dan Buano setiap Jumat tanggal 10, 17, 24, dan 31 Juli. Sementara keberangkatan dari Waisala menuju Ambon dilakukan setiap Sabtu.

Ia berharap masyarakat di Kota Ambon, Kabupaten Seram Bagian Barat, maupun Kabupaten Buru dapat memanfaatkan kembali kehadiran KMP Tanjung Sole sebagai sarana transportasi laut yang aman, nyaman, dan dapat diandalkan.

"Komitmen kami sejak awal jelas, yaitu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat pengguna transportasi laut. Karena itu kami akan terus memaksimalkan pelayanan dengan meminimalkan berbagai kekurangan. Kami ingin masyarakat dapat menikmati fasilitas yang tersedia dengan nyaman sehingga pelayaran berlangsung aman, lancar, dan tepat waktu. Jika masyarakat puas, tentu kami sebagai operator juga ikut bangga," tutup Tualeka.

Kembalinya KMP Tanjung Sole ke jalur pelayaran menjadi simbol kebangkitan Perumda Panca Karya dalam membangun kembali layanan transportasi laut di Maluku. Di tengah tantangan sebagai daerah kepulauan, kehadiran armada yang beroperasi secara rutin diharapkan mampu memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat yang bergantung pada transportasi laut sebagai urat nadi kehidupan. (ji2)