Foto Ilustrasi.

Lima Hari Hilang Saat Melaut, Roy Souhoka Ditemukan Meninggal Dunia

8

Ambon, JejakInfo.id — Laut yang selama ini menjadi sumber hidup, justru menjadi tempat terakhir bagi Roy Souhoka. Nelayan berusia 41 tahun asal Negeri Haria itu ditemukan tak bernyawa setelah lima hari hilang di laut.

Pagi itu, Senin (13/4), harapan yang sempat menggantung akhirnya menemukan jawabannya, meski bukan yang diinginkan. Di perairan Waihoka, tubuh Roy ditemukan oleh tim SAR gabungan bersama warga. Waktu menunjukkan pukul 09.51 WIT ketika pencarian panjang itu berakhir dalam duka.

Komandan Tim Operasi SAR Saparua, Ahmad Bintongke, menyampaikan bahwa korban ditemukan sekitar 2,4 mil laut dari titik awal kejadian. Sejak pagi, tim sudah menyisir laut dengan harapan menemukan tanda-tanda kehidupan. Namun yang mereka dapati adalah keheningan yang menyayat.

"Korban ditemukan di Perairan Waihoka, Negeri Hulaliu, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, pada koordinat 3°34'39.80"S, 128°34'45.67"E. Lokasi penemuan berada pada jarak 2,4 NM dengan heading 283,49° arah barat dari lokasi kejadian kecelakaan kapal (LKK). Setelah ditemukan, korban kemudian dievakuasi menuju Negeri Haria," ungkapnya.

Tak lama setelah ditemukan, jasad Roy langsung dievakuasi menuju kampung halamannya. Pukul 10.35 WIT, perahu yang membawa pulang tubuhnya merapat di Haria. Di sana, keluarga telah menunggu dengan doa yang sejak awal tak pernah putus, meski akhirnya harus menerima kenyataan pahit.

Peristiwa ini bermula lima hari sebelumnya. Rabu malam (8/4), sekitar pukul 20.00 WIT, Roy melaut seperti biasa. Laut bagi nelayan adalah rutinitas, bukan ancaman. Namun malam itu, sesuatu terjadi di tengah gelap dan gelombang. Sejak saat itu, ia tak kembali.
Pencarian pun dilakukan tanpa henti. Tim SAR dari berbagai unsur turun tangan. Mulai dari Basarnas Ambon, aparat kepolisian, TNI, pemerintah kecamatan, hingga warga setempat. Mereka menyisir laut dengan perahu karet, long boat, hingga speed boat milik masyarakat.

Namun laut tak selalu bersahabat. Cuaca berubah-ubah, langit sering tertutup awan tebal, angin berhembus dari tenggara hingga barat laut dengan kecepatan cukup tinggi, sementara gelombang terus bergerak tanpa kompromi. Semua itu menjadi tantangan yang harus dihadapi tim di lapangan.

Kini, pencarian telah selesai. Roy telah ditemukan, meski dalam keadaan tak lagi bernyawa. Operasi SAR resmi ditutup, dan seluruh tim kembali ke kesatuan masing-masing.

Di Negeri Haria, duka kini menyelimuti rumah sederhana yang ditinggalkannya. Laut mungkin akan tetap dipandang sebagai sumber kehidupan. Namun bagi keluarga Roy, laut juga menyimpan kehilangan yang tak akan pernah tergantikan. (ji2)