-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



NAMROLE, JejakInfo.id — Dibawah guyuran hujan yang menyapu peradaban 17 Tahun Kabupaten Buru Selatan, pelurusan sejarah separuh hati sudah berlangsung.
"Namun dalam perjalanan perjuangan, sebuah peristiwa tragis terjadi. Pada tanggal 9 September 2006 di perairan Kecamatan Leksula yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, Putera-putera terbaik daerah ini. Tragedi ini menjadi duka yang mendalam bagi seluruh masyarakat Buru Selatan".
Paragraf bertanda petik diatas adalah kalimat yang sudah dibacakan sebagai kesatuan konsep selayang pandang perjuangan pemekaran Kabupaten Buru Selatan di serambi depan Kantor Bupati, Selasa (22/7).
Paragraf itu ada dan dibacakan tentu saja setelah mendapatkan sorotan, kritikan dan tekanan dari Anggota DPRD Bursel.
Sepintas memang ada peningkatan dari 16 tahun silam. Yang sama sekali tak pernah menyinggung peristiwa "September Kelabu" 2006 di Perairan Leksula.
Harus diakui untuk HUT Bursel ke-17 ini, ada peningkatan kadar penjernihan terhadap nilai kesejarahan, walaupun itu masih setengah hati.
Mengapa setengah hati? Sebab masih berat untuk menulis dengan jujur bahwa yang menemui ajalnya dalam tragedi itu adalah Putera-putera terbaik bernama Jhon Christian Lesnussa, Julius Lesnussa dan Ismail Solisa.
Masih berat untuk menulis kebenaran walaupun kadar nilai kesejarahan yang sejati bersanding selamanya dengan kejujuran, kebenaran juga ketulusan.
Nilai kesejarahan itu satu tarikan napas dengan jargon "Humanis" Arah Baru Buru Selatan dibawah nahkoda La Hamidi-Gerson Elieser Selsily.
Hendaknya humanisme itu tidak setengah hati, supaya menjadi sejarah baru bahwa di era La Hamidi-Gerson Selsily pelurusan sejarah Buru Selatan menjadi sempurna. Pelurusan ini akan jadi warisan kepemimpinan dan nilai berharga di hati orang-orang yang menghendaki negeri ini dikelola secara baik.
Sebetulnya HUT 17 tahun Buru Selatan ini harus digunakan oleh Pemerintahan La Hamidi-Gerson Selsily sebagai momentum guna meyakinkan publik bahwa Arah Baru Buru Selatan bukan cuma jargon yang dikampanyekan dan dipidatokan lintas panggung dan mimbar. Namun itu adalah sebuah "konsepsi luhur" yang hendak diletakan sebagai penguatan fundamental pada rumah yang keropos ini.
Dengan membetulkan sejarah perjuangan Pemekaran Buru Selatan, maka La Hamidi-Gerson Selsily akan memenuhi kualifikasi sebagai pemimpin yang berbeda secara "Moral" dari rezim sebelumnya yang mendistorsikan sejarahnya sendiri.
Saya menulis naskah ini sebagai sebuah kegelisahan panjang yang belum mendapatkan jawaban selama 17 tahun ini.
Apa yang membuat orang takut menuliskan sejarahnya dengan jujur? Mengapa nama Jhon Christian Lesnussa, Julius Lesnussa, dan Ismail Solisa seolah menjadi haram di kabupaten yang mereka perjuangkan dengan keringat, darah dan air mata? Mengapa kehormatan bagi yang berhak menerimanya menjadi sulit di tanah Kai Wait ini?.
Pertanyaan-pertanyaan moril ini tentu akan menemukan jawabannya di jantung kekuasaan, walau mungkin sembunyi-sembunyi di ruang sunyi.
Soekarno betul, "Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sebuah sejarah dan revolusi hanya bisa diselesaikan oleh mereka yang di dalam kepemimpinannya memiliki naluri kepahlawanan".
Semoga ada naluri kepahlawanan dalam kepemimpinan humanis pada era arah baru Buru Selatan, supaya pekerjaan besar meluruskan sejarah perjuangan pemekaran Buru Selatan yang terseok-seok 17 tahun ini bisa diselesaikan.
Kita tutup naskah pendek ini untuk mengenang jasa besar John Christian Lesnussa, Julius Lesnussa dan Ismail Solissa ini dengan meminjam sepotong sajak Aku milik penyair Chairil Anwar.
"Aku Ini Binatang Jalang Dari Kumpulannya Terbuang". (*)
By. Hesky Lesnussa, S.Sos.,M.Si
(Penulis adalah mantan Asisten Pakar Tim Percepatan Pembangunan Buru Selatan 2024).


