Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa meninjau rumah warga Hunuth yang telah selesai dibangun akibat insiden Agustus 2025, lalu. (Ist)

Rumah Warga Hunuth Bangkit dari Abu, Harapan Kembali Menyala

70

Ambon, JejakInfo.id — Empat bulan lalu, Desa Hunuth di Kecamatan Teluk Ambon hanya menyisakan puing, abu, dan air mata. Api yang berkobar dalam konflik Agustus 2025 bukan sekadar melahap rumah, tetapi juga merenggut rasa aman dan tenang warga. 

Kamis (15/1), suasana itu berubah. Di atas tanah yang sama, rumah-rumah berdiri kembali kokoh, layak, dan penuh harapan. Sebanyak 27 unit rumah warga yang sempat hangus kini rampung dibangun dan direnovasi.

Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kota Ambon bergandengan tangan, mengucurkan dana sekitar Rp1 miliar, didukung penuh TNI Kodim 1504 yang mengerahkan sumber daya dan tenaga. Kolaborasi kemanusiaan ini menjadi penanda: Hunuth tidak sendiri.

Bagi warga, ingatan tentang malam kelam itu masih terasa dekat. Rumah, tempat berlindung dari hujan dan panas, tempat doa dan keringat disatukan lenyap dalam sekejap.

Tak ada pilihan selain mengungsi, menunggu waktu memulihkan luka. Kini, pintu-pintu kembali terbuka. Anak-anak berlari di teras baru. Dapur mengepul. Hidup pelan-pelan menemukan iramanya lagi.

Keluarga Pattipeiluhu, salah satu korban, tak mampu menyembunyikan haru saat Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dan Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menjejakkan kaki di depan rumah mereka.

“Terima kasih par pa Gubernur, pa Walikota seng lapas tangan dari katong sampe skarang. Su biking katong rumah bagus kombali, la katong bisa tinggal bae-bae,” ucap mereka dengan mata berkaca-kaca.

Pelukan pun menghangat, doa mengalir. “Katong berdoa, semoga Tuhan kasih kuat bapak berdua, sehat tarus supaya pimpin Maluku deng Ambon sampe selesai deng segala bae,” lanjutnya, disambut “Amin” dari rombongan.

Gubernur dan Wali Kota tak sekadar meninjau. Mereka duduk, berbincang, mendengar cerita warga tentang kehilangan, ketabahan, dan harapan yang kembali tumbuh.

“Kami datang melihat langsung kondisi rumah-rumah warga Hunuth yang terbakar beberapa waktu lalu. Semua sudah dibangun atas kerja sama pemerintah provinsi dan Kota Ambon,” ujar Gubernur Lewerissa.

Ia memastikan, 27 rumah yang terdampak telah selesai dan kini ditempati kembali oleh pemiliknya. Namun bagi Gubernur, membangun rumah bukan akhir dari segalanya. Yang jauh lebih penting adalah membangun rasa aman.

“Kalau rumah sudah ada, tapi rasa aman tidak ada, itu percuma. Keduanya harus berjalan seiring supaya warga bisa beraktivitas dengan tenang dan nyaman,” tegasnya.

Ia pun mengajak semua pihak: tokoh masyarakat, pemerintah desa, warga, hingga seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga perdamaian dan merawat harmonisasi hidup orang basudara di Maluku dan Kota Ambon.

“Mari kita rawat perdamaian. Kita cegah peristiwa serupa terulang, supaya rasa aman dan tenteram benar-benar dirasakan masyarakat,” pintanya.

Komitmen itu tak berhenti pada kata. Seusai meninjau rumah warga, Gubernur dan Wali Kota melihat pos keamanan permanen yang telah berdiri di area pertigaan desa. Di sana, mereka berbincang dengan petugas Brimob yang berjaga 24 jam. Gubernur berjanji akan melengkapi fasilitas pos demi menunjang tugas pengamanan.

“Saya akan bantu pengadaan beberapa fasilitas di dalam pos ini. Semoga bermanfaat dan mendukung upaya petugas memberi rasa aman bagi warga Hunuth,” katanya.

Di Hunuth, rumah-rumah memang telah dibangun kembali. Tetapi yang lebih penting, kepercayaan dan harapan juga ikut ditegakkan. Dari abu konflik, desa ini kembali belajar berdiri lebih kuat, lebih waspada, dan lebih percaya pada arti kebersamaan. (ji1)