Pawai ogoh–ogoh umat Hindu di Kota Ambon menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, Jum'at (28/3/2025). (Ist)

Sambut Hari Raya Nyepi, Umat Hindu di Ambon Pawai Ogoh–ogoh

362

JEJAKINFO.ID – Menyambut Hari Raya Nyepi pada Sabtu (29/3/2025), umat Hindu di Kota Ambon menggelar pawai ogoh–ogoh di depan monumen Gong Perdamaian Dunia, Jum'at (28/3/2025).

Pawai ogoh–ogoh merupakan ritual keagamaan umat Hindu dalam menyambut Hari Suci Nyepi 1947 Saka/2025 Masehi.

"Kami melakukan pawai ogoh–ogoh yang merupakan simbol dari kekuatan alam yang ada dalam diri umat dan alam semesta. Jadi dalam ogoh–ogoh ini merepresentasikan bagaimana umat Hindu harus bisa mengendalikan energi negatif yang ada di dalam diri masing–masing," ungkap Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Maluku, Suyatno.

Menurutnya, bagi umat Hindu energi negatif dan angkara murka umat manusia disimbolkan dengan sosok raksasa yang sangat besar dengan perwujudan sangar sebagaimana menggambarkan manusia dengan segala kemarahan hingga keserakahannya.

"Oleh karena itu kita sebagai sosok manusia kalau tidak bisa mengendalikan emosi, keserakahan maupun kemarahan identik dengan bentuk raksasa," sebutnya.

Pawai ogoh–ogoh yang dipentaskan diiring musik gamelan khas Bali sembari diarak menuju Pura untuk kemudian dibakar sebagai wujud melenyapkan segala energi negatif menuju Nyepi.

"Kami berharap ritual ogoh–ogoh ini bisa menetralisir beragam energi negatif di bumi Maluku ini, sehingga kehidupan kita bisa menjadi lebih baik lagi," harapnya.

Dalam kesempatan itu Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath mengatakan, toleransi itu harus dimulai dari Maluku.

Pawai ogoh–ogoh ini bukan hanya menjadi perayaan hari suci Nyepi, tetapi juga menjadi pagelaran ideologi.

"Pemerintah selalu ada dengan semua agama, sementara Kementerian Agama mengemban tugas untuk menjaga toleransi antarumat beragama, dan di wilayah ini gubernur adalah orang tua bagi seluruh umat beragama di Maluku," tandasnya. (JI01)