Semarak HUT RI ke-81, SMA Negeri 10 Kabupaten SBB asah keberanian siswa lewat lomba puisi dan pidato. (Ist)

Semarak HUT RI ke-81, SMA Negeri 10 SBB Asah Keberanian Siswa Lewat Puisi dan Pidato

14

Piru, JejakInfo.id — Semangat kemerdekaan tidak hanya berkibar di tiang bendera. Di SMA Negeri 10 Seram Bagian Barat (SBB), semangat itu diterjemahkan melalui suara, kata-kata, dan keberanian para siswa tampil di hadapan publik.

Menyongsong HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, SMA Negeri 10 SBB menggelar lomba baca puisi dan pidato yang berlangsung meriah. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para siswa untuk mengekspresikan kecintaan kepada Indonesia sekaligus mengasah kemampuan berbicara dan berkreasi melalui sastra.

Sebanyak 14 siswa dan siswi ambil bagian dalam lomba baca puisi, sementara 8 peserta mengikuti lomba pidato.

Untuk lomba baca puisi, para peserta membawakan karya berjudul “Titip Rindu di Tiang Bendera”. Sementara dalam lomba pidato, peserta menyampaikan gagasan melalui tema “Terbanglah Indonesiaku”.

Dua perlombaan tersebut tidak sekadar menjadi ajang mencari pemenang. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari proses pendidikan karakter, terutama dalam membangun rasa percaya diri, keberanian tampil di depan umum, kemampuan berkomunikasi, penghayatan, serta kecintaan terhadap bahasa dan sastra Indonesia.

Para peserta ditantang tidak hanya menghafal teks, tetapi juga mampu menyampaikan pesan dengan penghayatan dan ekspresi yang kuat.

Dalam lomba baca puisi, penilaian mencakup penghayatan, ketepatan rasa terhadap isi puisi, vokal, kejelasan artikulasi, intonasi, serta kemampuan mengatur tinggi-rendah dan keras-lembut suara.

Sementara lomba pidato menjadi panggung bagi siswa untuk menyampaikan gagasan secara runtut, jelas, dan meyakinkan di hadapan penonton dan dewan juri.

Kepala Sekolah: Jangan Takut Tampil dan Bersaing

Kepala SMA Negeri 10 SBB, Yosina Tauran, S.Pd, memberikan dorongan kepada para peserta agar menjadikan perlombaan tersebut sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Menurutnya, keberanian tampil merupakan salah satu modal penting yang harus dimiliki peserta didik. Sekolah tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga harus membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat, gagasan, kreativitas, dan kepercayaan dirinya.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh dalam perlombaan tersebut dapat menjadi bekal bagi para siswa untuk tampil dalam berbagai kompetisi, bukan hanya di lingkungan sekolah.

“Anak-anak ini nantinya harus menjadi anak-anak yang berani tampil dan mampu bersaing ketika ada lomba tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi maupun nasional,” pesan Yosina.

Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak menjadikan kemenangan sebagai tujuan akhir. Bagi mereka yang berhasil meraih juara, prestasi tersebut harus menjadi motivasi untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan.

Begitu pula bagi peserta yang belum mendapatkan juara. Keberanian untuk tampil di hadapan orang banyak merupakan pencapaian yang patut dihargai.

Setelah melalui penampilan dan penilaian dewan juri, sejumlah siswa berhasil meraih prestasi dalam dua kategori perlombaan.

Dalam lomba baca puisi, Reselina Anijola berhasil meraih Juara I. Posisi Juara II diraih Yusuf Tuasuun, sedangkan Juara III diraih Riski Hattu.

Sementara Kristin Tasijawa meraih Juara Harapan I, Divelin Siramdoman sebagai Juara Harapan II, dan Naomi Heumase sebagai Juara Harapan III.

Untuk lomba pidato, Edo Kainama tampil sebagai Juara I. Micael Putirulan meraih Juara II, sementara Amora Heumase berada di posisi Juara III.

Adapun Nesya Poceratu meraih Juara Harapan I, Lorin Kiriweno sebagai Juara Harapan II, dan Piore Makakalube sebagai Juara Harapan III.

Para pemenang langsung menerima hadiah yang diserahkan oleh kepala sekolah bersama sejumlah dewan guru yang telah ditunjuk.

Bukan Sekadar Lomba

Bagi SMA Negeri 10 SBB, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara menanamkan nilai-nilai kemerdekaan kepada generasi muda melalui kegiatan yang dekat dengan dunia mereka.

Puisi memberi ruang kepada siswa untuk mengolah rasa. Pidato melatih mereka mengolah gagasan. Keduanya bertemu dalam satu hal: keberanian untuk bersuara.

Semangat itulah yang diharapkan terus tumbuh dalam diri para siswa. Mereka tidak hanya menjadi generasi yang mampu berbicara, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan, mempertahankan pendapat dengan santun, serta berani mengambil bagian dalam berbagai ruang kompetisi.

Sekolah juga berharap para peserta yang telah meraih juara maupun yang belum berhasil dapat terus berlatih dan kembali mengikuti berbagai kegiatan pada tahun-tahun berikutnya selama masih menjadi bagian dari keluarga besar SMA Negeri 10 SBB.

Kegiatan berlangsung penuh semangat sejak awal hingga akhir. Setiap peserta tampil dengan kemampuan terbaiknya, membawa pesan dan semangat kemerdekaan melalui kata-kata yang mereka sampaikan.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh dewan guru, tim juri, panitia, dan para siswa yang telah menyukseskan kegiatan.

Dari panggung sederhana di SMA Negeri 10 SBB, pesan kemerdekaan pun menemukan bentuknya sendiri: bukan hanya melalui kibaran Merah Putih, tetapi melalui keberanian generasi muda untuk berbicara, berkarya, berprestasi, dan membawa nama sekolah serta daerah ke tingkat yang lebih tinggi. (ji7)

1 Menyukai postingan ini