-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Oleh: LEONARD MANUPUTTY, S.AP.,M.Si
“Di dalam hatiku menangis
Bilaku mengenang dirimu sayang
Kini jauh sudah harapan hati
Selama ini ku rindu…”
*-Bob Tutupoly, Kerinduan (2016)*
Tulisan ini saya buka dengan lirik lagu dari Bob Tutupoly seorang penyanyi yang terkenal asal Negeri Ouw dalam baitnya disampaikan kerinduan bukan hanya tentang seseorang, tetapi bisa juga tentang rumah, tanah leluhur, dan segala bentuk makna yang tertinggal didalamnya. Di Maluku sendiri, terutama bagi masyarakat asli Saparua, rasa rindu pada akar budaya dan identitas kerap mengambil bentuk nyata seperti “Sempe” atau wadah tempat makan papeda yang terbuat dari tanah liat yang dibuat secara turun-temurun di sebuah desa diujung tenggara Pulau Saparua yaitu Negeri Ouw.
Sempe tidak hanya sekadar alat makan tradisional melainkan simbol keterhubungan manusia dengan tanah, sejarah, dan komunitas. Di Negeri Ouw yang dikenal dengan julukan Negeri Sempe dan Tajela ini merupakan Negeri penghasil kerajinan dari tanah liat yang tekniknya diwariskan secara turun-temurun. Tanah yang digunakan pun diambil dari lokasi tertentu dan diyakini memiliki keterkaitan sejarah dan nilai budaya bagi masyarakatnya.
Hubungan Ouw dan Seith, dua negeri gandong, memperkaya makna ini. Sempe dan Balanga merupakan sebuah kisah perpisahan antara saudara kandung adik dan kaka antar dua Negeri Ouw di Saparua dan Negeri Seith di Ambon dan salah satu dari mereka membawa sempe dan balanga serta tanah liat dan pasir yang merupakan bahan dasarnya. Ada kepercayaan bahwa jika masyarakat di Negeri Ouw mengambil tanah untuk membuat sempe balanga, maka tanah yang ada di Negeri Seith juga akan berkurang, ini juga akan terjadi bilamana masyarakat di Negeri Ouw melupakan saudaranya di Negeri Seith. Tapi, jika mereka selalu mengingat saudaranya di Negeri Seith, maka tanah yang diambil akan kembali muncul kepermukaan. Karena itu, sampai detik ini, setiap kunjungan dari Ouw ke Seith diselingi dengan pemberian sempe, dan masyarakat Seith membalas dengan memberikan hasil damar sebagai pelengkap proses pembakaran gerabah.
Ini sebuah bentuk relasi sosial yang disebut dengan gandong atau hubungan yang melampaui sekadar persaudaraan formal. Dalam sempe, tergambar nilai-nilai kepercayaan, kesalingan, dan tanggung jawab antar Negeri.
DARI TRADISI KE HARAPAN EKONOMI
Pembuatan sempe yang telah berlangsung ratusan tahun kini menghadapi tantangan zaman. Dahulu, hampir setiap rumah di Ouw memiliki tungku pembakaran gerabah. Sempe menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan juga sumber pendapatan ekonomi rumah tangga. Namun, arus perkembangan teknologi dan minimnya proses regenerasi membuat jumlah pengrajin kian menyusut.
Ironisnya, ketika dunia luar mulai melihat nilai estetika dan fungsional sempe sebagai souvenir budaya, masyarakat penghasilnya justru kehilangan penerusnya. Padahal, sejak awal 2000-an, sempe mulai dilirik oleh sebagian besar wisatawan asing maupun dalam negeri untuk dijadikan sebagai oleh-oleh. Itu tandanya bahwa sempe merupakan produk unggulan yang sebenarnya kalau dikemas dan dikelola secara baik akan berdampak positif untuk pengembangan perekonomian di daerah Maluku termasuk meningkatkan kesejahteraan juga bagi para pengrajin gerabah di Negeri Ouw.
Perlu adanya sentuhan dari pemerintah guna memperkuat ekosistem produksi sempe. Kita perlu belajar dari beberapa daerah yang memanfaatkan peluang seperti Kasongan di Yogyakarta dan Banyumulek di Lombok, kita tahu bahwa pengembangan kerajinan rakyat tidak cukup mengandalkan pelestarian tradisi. Ia membutuhkan intervensi kebijakan seperti pelatihan, promosi, penguatan kelembagaan komunitas, dan jaminan hak atas tanah produksi.
Kalau kita merujuk pada perspektif administrasi publik, sempe dapat dibaca sebagai bagian dari modal sosial yang kuat. Ia menyimpan nilai-nilai kolektif yang bisa menjadi fondasi pembangunan lokal berbasis kearifan.
Pdt. Prof. John A. Titaley, Th.D yang merupakan Mantan Rektor Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (UKSW) putra asli Negeri Ouw berpandangan dalam banyak refleksinya menyebut bahwa budaya lokal bukan hanya ekspresi estetika, tapi kekuatan spiritual dan etika sosial yang menjaga kohesi masyarakat.
KOMPAS BUDAYA
Sempe merupakan wujud keintiman antara manusia dan tanah, antara generasi tua dan muda, antara negeri dan negeri. Ia menjadi alat makan, tetapi juga sebagai alat pengingat. Dalam setiap sempe, tersimpan narasi keberlanjutan: tentang tangan ibu yang membentuknya, tentang tanah yang diambil dengan doa, dan tentang relasi sosial yang dipertahankan lewat pemberian dan timbal balik.
Dalam dunia yang serba instan, sempe mengajarkan ketekunan. Dalam budaya yang terancam komersialisasi, sempe menunjukkan makna. Dan dalam masyarakat yang makin terpolarisasi, sempe memberi teladan tentang hubungan yang dijaga, bukan dipecah.
Salah satu lagu yang popular sekitar tahun 2011-an yang berjudul “Pulang Jua” dinyanyikan dan diciptakan oleh anak-anak asli Negeri Ouw yaitu Naruwe dalam liriknya menyebutkan sempe, balanga, porna, dan tajela menandakan mereka sedang merayakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kerajinan tangan. Mereka memanggil pulang ingatan kolektif, identitas, dan harapan. Lagu itu menjadi gema budaya, panggilan untuk kembali bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual.
“Masih disana, sempe balanga, porna, deng tajela
Masih tetap disana cengkeh deng pala
Deng daun sagu melambai seakan mama pung lenso merah.
Panggel katong mau pulang….”
Ditangan-tangan yang membentuk sempe, tersimpan ingatan, perpisahan, dan harapan serta warisan yang tidak hanya berbentuk benda melainkan juga jiwa dari tanah yang memanggil pulang.
Dalam lagu “Pulang Jua” sempe, balanga, porna, dan tajela bukan sekedar perabot mereka merupakan simbol rumah, kasih ibu, dan identitas yang tidak boleh dilupakan.
Di tengah dunia yang serba cepat, sempe menjadi Kompas Budaya yang berfungsi sebagai penuntun bagi generasi hari ini agar tetap tahu jalan pulang, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara spiritual, sebab tanah tidak pernah lupa, dan budaya tidak pernah mati selama kita bersedia mendengarkannya. (*)





