-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



JEJAKINFO.ID – Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan, tradisi pukul sapu lidi yang diselenggarakan warga Negeri Mamala dan Morela, Leihitu, Maluku Tengah pada 7 Syawal setiap tahunnya dijadikan ajang promosi budaya daerah.
Momen kultural seperti ini, kata HL, menjadi daya tarik tersendiri untuk mempromosikan budaya Maluku sekaligus memiliki makna yang mendalam untuk mempererat ikatan persaudaraan.
Sebab apa? Lanjut HL, dalam atraksi pukul sapu lidi juga menampilkan tarian–tarian lainnya seperti persembahan tari katreji dari gandong Negeri Soya, tari reti, tari cakalele, dan tari saliwangi serta cerita sejarah Maluku yang mengisahkan tentang patriotisme dan persatuan.
Atraksi budaya ini, sebut HL, memiliki nilai historis tersendiri yang menunjukkan tekad dan keberanian orang Maluku melawan penjajah, ini merupakan manifestasi dari Kapitan Tulukabessy dan para pejuang yang gagah berani.
"Kita diajarkan rela mengorbankan seluruh jiwa dan raga untuk bangsa, serta berjiwa besar dan menjadi figur pemersatu rakyat, inilah yang harus dipertahankan," ingatnya.
HL mengingatkan sebagai warisan budaya leluhur, nilai tradisi ini harus terus tertanam dalam karakter anak-anak Maluku.
"Melalui momentum adat ini, mari renungkan dan perkuat nilai–nilai kearifan lokal dalam kehidupan sehari–hari untuk membangun Maluku lebih baik lagi," pesannya.
Berdasarkan sejarahnya tradisi pukul sapu lidi ini dikaitkan dengan perjuangan Kapitan Telukabessy dengan pasukannya pada masa penjajahan Portugis dan VOC pada abad ke-16.
Pasukan pimpinan Kapitan Telukabessy ini bertempur untuk mempertahankan Benteng Kapahaha dari serbuan VOC, meskipun pada akhirnya harus mengalami kekalahan dan Benteng Kapahaha berhasil ditaklukkan.
Untuk menggambarkan kekalahan tersebut, pasukan Telukabessy mengambil lidi enau dan saling mencambuk diri hingga berdarah.
Dari situkah tradisi pukul sapu diwarisi hingga kini di Negeri Mamala dan Morela. Tradisi ini dipandang sebagai alat untuk mempererat tali persaudaraan masyarakat adat kedua negeri. Pelaksanaan ritual adat ini dilakukan satu minggu setelah lebaran.
Pelaksanaan tradisi pukul sapu juga dihadiri Anggota DPR RI Saadiah Uluputy, Anggota DPD RI Novita Anakotta, Bupati Malteng Zulkarnain Awat Amir, forkopimda Provinsi Maluku, Malteng dan Kecamatan Leihitu, Anggota DPRD Provinsi Maluku dan Kabupaten Malteng. (JI01)





