Bidang Pekabaran Injil dan Pelayanan Kasih (PIPK) bersama Panitia Hari Raya Gerejawi (PHRG) Klasis GPM Masohi menggelar pemeriksaan gratis bagi 38 jemaat di wilayah pelayanan Klasis Masohi, Selasa (25/8). (Ist)

938 Warga Dilayani Gratis, Klasis GPM Masohi Buktikan Gereja Hadir untuk Jemaat

112

Masohi, JejakInfo.id — Sejak pagi, warga dari berbagai jemaat mulai berdatangan ke Gedung Gereja Siloam, Jemaat GPM Letwaru, Kecamatan Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah. Ada yang datang untuk memeriksa mata, ada pula yang ingin memastikan kondisi kesehatan setelah lama tidak menjalani pemeriksaan.

Suasana pelayanan berlangsung hingga malam. Di tempat itu, gereja tidak hanya hadir melalui mimbar dan khotbah, tetapi menyentuh langsung salah satu kebutuhan paling mendasar masyarakat: kesehatan.

Sebanyak 938 warga dari 38 jemaat dalam wilayah pelayanan Klasis GPM Masohi mendapat pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis dalam kegiatan Pelayanan Kasih yang digelar Bidang Pekabaran Injil dan Pelayanan Kasih (PIPK) bersama Panitia Hari Raya Gerejawi (PHRG) Klasis Masohi, Selasa (24/8/2026).

Kegiatan tersebut dibuka Sekretaris Klasis Masohi, Pdt. Dhemas Untarola dalam rangka menyongsong HUT ke-91 Gereja Protestan Maluku (GPM).

Dari 938 warga yang mendapat pelayanan, sebanyak 663 orang mengikuti pemeriksaan mata, sementara 275 warga lainnya menjalani pemeriksaan kesehatan umum.

Besarnya jumlah warga yang datang menjadi gambaran bahwa pelayanan kesehatan berbasis komunitas masih memiliki tempat penting di tengah masyarakat.

Bagi sebagian warga, kegiatan seperti ini bukan sekadar pemeriksaan kesehatan gratis, tetapi kesempatan untuk mengetahui kondisi tubuh dan memperoleh penanganan awal dari tenaga medis.

Pelayanan tersebut melibatkan sejumlah dokter dan tenaga kesehatan di Kabupaten Maluku Tengah. Dukungan juga datang dari Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tengah, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Maluku Tengah, Puskesmas Letwaru, Puskesmas Masohi, Klinik Mata Ambon Vlissingen, serta Komunitas Mata Bae.

Sekretaris Panitia, Pdt. Dany Kaya, mengatakan pelayanan tersebut merupakan hasil kolaborasi PIPK dan PHRG Klasis Masohi yang ingin menerjemahkan semangat pelayanan gereja ke dalam tindakan nyata yang dirasakan langsung masyarakat.

Menurutnya, gereja tidak boleh hanya berbicara tentang kepedulian, tetapi juga harus mampu menghadirkan kepedulian itu dalam bentuk pelayanan yang menyentuh kebutuhan sehari-hari.

“Ini merupakan kolaborasi Bidang Pekabaran Injil dan Pelayanan Kasih bersama PHRG Klasis Masohi. Semua 38 jemaat dalam wilayah Klasis Masohi turut mengambil bagian dalam kegiatan ini,” ujar Kaya.

Ia mengatakan keterlibatan 38 jemaat menjadi kekuatan tersendiri dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Pelayanan tidak hanya menjadi agenda panitia, tetapi melibatkan seluruh unsur jemaat dalam satu semangat untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Tingginya antusiasme warga juga menjadi catatan penting bagi panitia. Warga datang sejak pagi dan sebagian tetap bertahan hingga pelayanan berakhir pada malam hari.

“Antusiasme jemaat dari 38 jemaat sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan sebagai salah satu kebutuhan dasar masyarakat mendapat perhatian yang luar biasa,” katanya.

Sekretaris Panitia, Pdt. Dany Kaya saat menyampaikan sambutan.

Bagi Kaya, respons warga tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kehadiran gereja melalui pelayanan sosial masih sangat dibutuhkan. Gereja, kata dia, memiliki ruang besar untuk ikut mengambil bagian dalam menjawab persoalan masyarakat, termasuk persoalan kesehatan.

Karena itu, Pelayanan Kasih tidak dipandang sebagai kegiatan seremonial menyambut HUT GPM. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi cara gereja mendekatkan diri dengan jemaat dan masyarakat melalui tindakan yang konkret.

“Kehadiran gereja melalui pelayanan kasih masih sangat dibutuhkan untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat,” katanya.

Kaya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mulai dari dokter dan tenaga medis, panitia, jemaat, hingga lembaga dan komunitas yang memberikan dukungan.

Ia mengakui, pelayanan yang berlangsung sejak pagi hingga malam membutuhkan tenaga, waktu dan pengorbanan banyak pihak.

“Kami bersyukur kepada Tuhan karena dengan kasih-Nya dan kerja sama dengan para medis, kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Terima kasih kepada semua yang telah berlelah-lelah sepanjang hari. Kiranya Tuhan menghitung setiap lelah dan pengorbanan sebagai berkat bagi pribadi dan keluarga,” ungkapnya.

Panitia juga tidak menutup pintu bagi jemaat yang belum sempat mendapatkan pelayanan. Mereka memastikan masih tersedia kesempatan untuk mengikuti pelayanan pada kegiatan berikutnya.

Hal ini penting mengingat tingginya jumlah warga yang membutuhkan pelayanan dan keterbatasan waktu dalam satu kegiatan.

Bagi Klasis GPM Masohi, semangat yang dibangun melalui kegiatan tersebut sederhana namun kuat: gereja harus hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Perayaan HUT ke-91 GPM pun tidak berhenti pada seremoni. Di Masohi, peringatan itu diterjemahkan melalui pelayanan yang menyentuh langsung kehidupan warga.

“Bakti sosial ini menjadi salah satu wujud nyata pelayanan gereja dalam menyambut HUT ke-91 GPM, sekaligus mempertegas peran gereja untuk hadir dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” tutup Kaya. (ji7)

1 Menyukai postingan ini