Penandatanganan Prasasti Gedung Gereja GALED Jemaat GPM Rumberu, Klasis Kairatu oleh Gubernur Hendrik Lewerissa, SH.,LL.M dan Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Pdt. Ricardo A. Rikumahu, M.Th sebelum Penthabisan pada kebaktian Minggu (22/3). (Ist)

Air Mata dan Iman Mengantar Lahirnya Gereja GALED Jemaat GPM Rumberu

118

SUASANA haru menyelimuti penahbisan Gereja GALED Jemaat GPM Rumberu, Klasis Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Di balik bangunan yang kini berdiri kokoh, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, pengorbanan, dan iman yang tak pernah padam.

Penantian panjang umat akhirnya terjawab. Setelah hampir tiga dekade, Jemaat Rumberu kini memiliki rumah ibadah yang layak dan membanggakan. Gedung gereja yang diberi nama GALED resmi ditahbiskan dalam suasana penuh haru dan syukur, Minggu (22/3).

Sejak pagi, warga jemaat memadati lokasi gereja. Wajah-wajah yang hadir memancarkan kebahagiaan. Sebuah momen yang telah mereka nantikan selama 29 tahun. Peresmian dan penahbisan berlangsung khidmat dalam kebaktian yang dipimpin Pdt. Richard Resley, diawali dengan pengantaran Sakramen Kudus oleh para pendeta se-Klasis Kairatu bersama Majelis Jemaat.

Gedung gereja ini kemudian resmi difungsikan setelah ditahbiskan oleh Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Pdt. Ricardo Rikumahu.

Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Ketua TP PKK Maluku Maya Baby Lewerissa/Rampen, Wakil Bupati Seram Bagian Barat Selfinus Kainama, Ketua TP PKK SBB, Ketua Klasis Kairatu Pdt. Henry Rutumalessy, Plt. Kadis PU Provinsi Maluku Hengky Tamtelahitu serta unsur pemerintah dan masyarakat lainnya.

Sambutan Gubernur Hendrik Lewerissa.

Dalam sambutannya, Gubernur mengajak seluruh jemaat untuk mensyukuri anugerah tersebut. Ia menggambarkan posisi Rumberu yang berada di kawasan pegunungan Pulau Seram sebagai tempat yang dekat dengan Tuhan. Sebuah simbol kedekatan spiritual yang kuat.

Nama GALED, yang diambil dari kisah Alkitab tentang perjanjian damai antara Yakub dan Laban, disebutnya bukan sekadar nama. Ia adalah simbol pengingat bahwa setiap janji, terutama janji untuk hidup dalam damai, disaksikan oleh Tuhan sendiri.

“GALED adalah tanda. Bahwa setiap komitmen yang kita bangun terutama perdamaian, tidak bisa kita ingkari,” ujarnya.

Ia juga menyinggung nilai hidup orang basudara dan ikatan pela-gandong yang telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat Maluku. Menurutnya, semangat persaudaraan itu harus terus dijaga, dirawat, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, Gubernur tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih dihadapi masyarakat pegunungan, termasuk keterbatasan akses infrastruktur. Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk membuka konektivitas wilayah melalui pembangunan jalan dan jembatan

Namun, ia menekankan bahwa pembangunan tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat. Partisipasi aktif warga, termasuk dalam menjaga lingkungan dan membuka diri terhadap investasi, menjadi kunci percepatan kemajuan daerah.

Apresiasi juga disampaikan kepada Gereja Protestan Maluku (GPM), khususnya Klasis Kairatu, yang dinilai aktif mendorong pemberdayaan ekonomi jemaat melalui berbagai program, termasuk PARPEM Uraur.

Menutup sambutannya, Gubernur berharap kehadiran Gereja GALED bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan iman dan penguatan kehidupan sosial jemaat.

“Semoga gereja ini membuat umat semakin rajin beribadah dan semakin kuat dalam kebersamaan,” katanya.

Gubernur Hendrik Lewerissa dan Wakil Bupati SBB Selfinus Kainama bersama istri saat kebaktian.

Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Ricardo Rikumahu, dalam sambutannya mengajak jemaat menoleh ke belakang, mengingat perjalanan 29 tahun yang bukan waktu singkat.

“Ini bukan sejarah yang pendek,” ujarnya pelan, seolah menyusuri setiap jejak perjuangan yang pernah dilalui jemaat.

Ia menggambarkan proses pembangunan gereja itu bukanlah perjalanan mulus. Ada langkah yang tertatih, tenaga yang terkuras, dan pengorbanan yang tak terhitung.

“Ada keringat yang tercucur, lutut yang goyah, pundak yang luka, bahkan air mata yang jatuh,” katanya.

Namun dari semua itu, satu hal yang tidak pernah hilang, yaitu: Iman. Iman yang justru tumbuh dan menguat di tengah keterbatasan.

Menurutnya, Gereja GALED bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pernyataan iman jemaat yang bekerja dengan tulus, setia, dan penuh pengharapan kepada Tuhan.

Gubernur berpose dengan panitia dan para Pendeta.

Meski gedung gereja telah selesai, ia mengingatkan bahwa perjalanan jemaat belum berakhir. Tantangan kehidupan masih terbentang panjang, terutama dalam membangun keluarga-keluarga yang kuat dalam iman.

“Gedung ini sudah selesai, tetapi kerja kita belum selesai,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh jemaat untuk tidak membiarkan gereja itu sepi. Gereja harus hidup, dipenuhi doa, pujian, dan persekutuan yang menguatkan.

“Jangan biarkan kosong. Datanglah, cari Tuhan di sini. Bangun kehidupan yang kokoh dari tempat ini,” pesannya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa keberadaan jemaat di Rumberu bukanlah kebetulan. Ada maksud Tuhan yang harus dijalankan. Sebuah panggilan untuk menghadirkan kasih dan misi Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah sejuknya pegunungan Rumberu, lonceng gereja kini berdentang membawa harapan baru. GALED bukan hanya bangunan. Ia adalah saksi perjalanan panjang, iman yang teguh, dan janji damai yang terus hidup di tanah Nusa Ina.

Gereja GALED kini berdiri bukan hanya sebagai simbol keberhasilan pembangunan, tetapi juga sebagai tanda bahwa iman, ketika dijalani dengan setia, mampu mengubah air mata menjadi sukacita.

Di tempat yang sama Wakil Bupati SBB Selfinus Kainama menyebut, ada ungkapan syukur yang kini dinaikan oleh seluruh warga Jemaat Rumberu, dimana penantian panjang itu telah terjawab dengan dimilikinya gedung gereja yang sangat representatif.

Ia mengajak umat untuk jadikan gedung gereja sebagai sarana peribadatan, pelayanan dan pembangunan nilai-nilai spiritualitas umat.

"Selaku pemerintah daerah, kami turut bersyukur, bahwa di tengah sukacita dan kebahagiaan berdiri kokok gedung gereja baru. Jadikan gedung ini sebagai tempat membina Iman dan spiritual jemaat. Jangan biarkan kosong, datang dan beribadalah kepada Tuhan," pintanya. (*)