Direktur Utama PT Maluku Energi Abadi, Muhammad Armyn Syarif Latuconsina (Sam) menghadiri FGD yang diselenggarakan Universitas Pattimura bekerja sama Inpex Masela Ltd tepatnya di Ballroom Swiss-Belhotel Ambon, Kamis (11/6). (Ist)

Blok Masela Buka Peluang Jumbo, MEA Siapkan Jalan bagi Pengusaha Lokal

110

Ambon, JejakInfo.id — Peluang besar tengah terbuka bagi dunia usaha di Maluku. PT Maluku Energi Abadi (MEA) menegaskan komitmennya untuk memastikan pengusaha lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menikmati manfaat ekonomi dari proyek strategis nasional Blok Masela.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama MEA yang juga Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Maluku, Muhammad Armyn Syarif Latuconsina, usai menghadiri Focus Group Discussion (FGD) bertema Pengembangan Ekosistem Rantai Pasok Berbasis Peningkatan Kapasitas Penyedia Barang dan Jasa untuk Menunjang Proyek Abadi LNG di Swiss-Belhotel Ambon, Kamis (11/6).

Eks Wakil Walikota Ambon yang akrab disapa Sam menjelaskan, hasil kajian yang dipaparkan dalam forum tersebut menjadi cermin penting untuk melihat sejauh mana kesiapan pelaku usaha Maluku menghadapi proyek migas raksasa itu. 

Meski masih terdapat sejumlah kekurangan yang harus dibenahi, ia menegaskan hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk mundur.

“Ini justru menjadi alarm bagi kita semua untuk bergerak lebih cepat. Pengusaha Maluku harus mulai mempersiapkan diri dari sekarang agar mampu mengambil bagian dalam proyek besar ini,” ucapnya.

Selama ini, kata Sam, banyak pelaku usaha daerah bergantung pada proyek-proyek pemerintah. Kehadiran Blok Masela menjadi momentum untuk naik kelas dan membuktikan kemampuan bersaing dalam proyek berskala nasional bahkan internasional.

Untuk mendukung hal tersebut, lanjut Sam, MEA yang mendapat mandat mengelola 10 persen participating interest pemerintah daerah pada sejumlah blok migas, termasuk Blok Masela, siap mengambil peran sebagai penghubung utama antara kebutuhan proyek dan kemampuan pelaku usaha lokal.

“Kami akan memetakan kebutuhan proyek, mendata potensi yang dimiliki daerah, lalu mempertemukan keduanya. Tugas kami memastikan pengusaha lokal memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat,” ujarnya.

Sam mengungkapkan, peluang yang tersedia tidaklah kecil. Dari total nilai proyek, sekitar 26,6 persen atau setara Rp90 triliun dialokasikan untuk komponen dalam negeri. Angka fantastis tersebut diharapkan dapat diserap oleh tenaga kerja, jasa, maupun produk lokal Maluku selama masa konstruksi proyek yang diperkirakan berlangsung tiga hingga empat tahun.

Baginya, nilai ekonomi sebesar itu harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari terbukanya lapangan kerja hingga peningkatan pendapatan daerah.

“Ini bukan hanya soal bisnis, tetapi bagaimana manfaat proyek dapat dirasakan masyarakat Maluku secara langsung. Karena itu kami telah menyampaikan gagasan peran MEA sebagai local integrator kepada DPRD dan pemerintah daerah, dan mendapat respons yang positif,” jelasnya.

Sebagai langkah lanjutan, tambah Sam, MEA bersama KADIN Maluku akan mendorong berbagai program peningkatan kapasitas pelaku usaha. Diskusi, pelatihan, hingga peluang kemitraan dengan perusahaan nasional akan terus dibuka agar pengusaha daerah mampu memenuhi standar yang dibutuhkan dalam proyek Blok Masela.

Sam optimis, dengan persiapan yang matang dan dukungan seluruh pemangku kepentingan, pengusaha Maluku mampu menjadi bagian penting dalam proyek yang selama ini disebut sebagai salah satu investasi terbesar di kawasan timur Indonesia.

“Kita tidak boleh hanya menyaksikan. Ini adalah kesempatan emas bagi Maluku. Jika dipersiapkan dengan baik, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh pengusaha, pekerja, dan masyarakat luas,” kunci mantan Ketua DPD KNPI Maluku ini. (ji2)