-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Langgur, JejakInfo.id – Hari pertama masuk sekolah bukan sekadar awal dimulainya proses belajar mengajar. Momen itu juga menjadi kesempatan bagi orang tua, khususnya para ayah, untuk menunjukkan kehadiran dan kasih sayang yang akan membekas dalam perjalanan tumbuh kembang anak.
Kesadaran itulah yang mendorong Bupati Maluku Tenggara (Malra), Muhamad Thaher Hanubun, mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh orang tua, terutama para ayah, agar mengantarkan anak-anak mereka secara langsung pada hari pertama masuk sekolah yang dijadwalkan serentak pada 13 Juli 2026.
Menurut Hanubun, kehadiran seorang ayah di momen penting tersebut bukan sekadar aktivitas mengantar anak ke sekolah. Lebih dari itu, langkah sederhana tersebut merupakan simbol komitmen keluarga dalam mendampingi proses pendidikan sekaligus membangun karakter anak sejak usia dini.
Dalam pernyataan resminya, Hanubun menegaskan bahwa tanggung jawab mendidik dan membentuk karakter anak tidak boleh hanya dibebankan kepada ibu ataupun diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Peran ayah memiliki posisi yang sangat penting sebagai fondasi dalam membentuk generasi yang tangguh, mandiri, dan berkarakter.
“Mari kita antar anak-anak kita di hari pertama masuk sekolah pada tanggal 13 Juli 2026 sebagai bentuk komitmen kita untuk terlibat langsung dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak demi masa depan yang cerah. Masa depan yang cerah dimulai dari lingkungan keluarga,” ajak Hanubun dalam pesan resminya kepada masyarakat Maluku Tenggara.
Menjawab Tantangan Budaya Patriarki dan Fenomena Fatherless
Ajakan Bupati Maluku Tenggara tersebut dinilai sejalan dengan kampanye yang tengah digencarkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Maluku mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.
Sebelumnya, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Edi Setiawan, mengajak masyarakat untuk mulai meninggalkan budaya patriarki yang selama ini cenderung menempatkan seluruh tanggung jawab pengasuhan anak di pundak ibu.
Menurut BKKBN, keterlibatan emosional seorang ayah sejak usia dini memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak. Namun, tantangan itu masih nyata di Maluku. Berdasarkan data Pendataan Keluarga (PK) sementara tahun 2025, fenomena fatherless atau minimnya peran nyata figur ayah masih mencapai 22,5 persen.
Kondisi tersebut juga diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan secara nasional baru sekitar 37,17 persen anak usia dini, yakni 0 hingga 5 tahun, memperoleh pengasuhan bersama secara seimbang dari kedua orang tua kandungnya.
Cegah Lahirnya Generasi yang Rapuh
Minimnya kehadiran ayah, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara emosional, dikhawatirkan dapat melahirkan fenomena strawberry generation, yakni generasi yang terlihat kreatif dan penuh potensi, namun mudah rapuh ketika menghadapi tekanan kehidupan, memiliki daya juang rendah, dan rentan mengalami gangguan kesehatan mental.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara berharap momentum hari pertama masuk sekolah dapat menjadi awal perubahan pola pengasuhan di lingkungan keluarga. Kehadiran ayah di sekolah diyakini mampu memberikan rasa aman, meningkatkan kepercayaan diri anak, sekaligus menanamkan kedisiplinan sejak dini.
Imbauan Bupati Thaher Hanubun juga dinilai memperkuat salah satu program prioritas BKKBN, yakni Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), yang bertujuan mendorong keterlibatan aktif para ayah dalam kehidupan keluarga.
Melalui gerakan tersebut, pemerintah berharap kolaborasi antara ayah dan ibu dalam mengasuh anak semakin kuat sehingga anak-anak di Maluku Tenggara dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, mandiri, berkarakter, serta memiliki daya saing untuk menyongsong Bonus Demografi Indonesia di masa depan. (ji4)



