Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun berpose dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon beserta jajaran usai audiensi di Jakarta, Selasa (7/4). (Foto: Humas Malra)

Bupati Maluku Tenggara Ajak Menbud Hadiri Pesona Meti Kei, Budaya Kei Siap Tampil di Panggung Nasional

9

Jakarta, JejakInfo.id — Langkah percaya diri ditunjukkan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara dalam membawa kekayaan budayanya ke panggung nasional. 

Dalam sebuah pertemuan hangat di Jakarta, Selasa (7/4), Bupati Muhamad Thaher Hanubun secara langsung mengundang Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon untuk menghadiri Festival Pesona Meti Kei yang dijadwalkan berlangsung Oktober mendatang.

Undangan itu bukan sekadar formalitas. Ia menjadi penanda keseriusan daerah kepulauan ini dalam menjadikan budaya sebagai wajah sekaligus kekuatan utama pembangunan.

Festival Pesona Meti Kei selama ini dikenal sebagai etalase hidup tradisi masyarakat Kei. Sebuah perayaan yang menyatukan alam, adat, dan kehidupan pesisir dalam satu panggung yang memikat. Bagi pemerintah daerah, kehadiran menteri bukan hanya simbol dukungan, tetapi juga pengakuan bahwa budaya lokal memiliki tempat penting dalam narasi besar kebudayaan Indonesia.

“Kami berharap kehadiran Bapak Menteri menjadi bentuk nyata dukungan pemerintah pusat terhadap pemajuan budaya daerah,” ujar Thaher.

Dalam pertemuan itu, Bupati tidak hanya berbicara soal festival. Ia juga mengangkat nilai-nilai luhur Budaya Larvul Ngabal. Sebuah sistem adat yang telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat Kei. 

Bagi Thaher, Larvul Ngabal bukan sekadar warisan leluhur, melainkan identitas yang hidup dan relevan, bahkan dalam konteks kebangsaan.

Ia menegaskan bahwa kekuatan budaya Kei terletak pada kearifan lokalnya. Nilai-nilai yang tumbuh dari kehidupan masyarakat kepulauan, yang menjunjung harmoni, hukum adat, dan solidaritas sosial. Inilah yang ingin terus diperkenalkan, tidak hanya kepada Indonesia, tetapi juga dunia.

Gayung pun bersambut. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan kesediaannya untuk hadir di Maluku Tenggara pada pelaksanaan festival tersebut. Komitmen itu menjadi sinyal positif bahwa pemerintah pusat memberi perhatian serius terhadap penguatan budaya daerah.

Pertemuan itu sekaligus mempertegas satu hal: ketika daerah dan pusat berjalan seiring, budaya tidak lagi sekadar dipertahankan, tetapi juga dikembangkan sebagai kekuatan masa depan.

Kini, mata Maluku Tenggara tertuju pada Oktober. Saat ombak surut dan daratan pasir Meti Kei terbentang, bukan hanya festival yang digelar, tetapi juga kebanggaan sebuah identitas yang siap berdiri tegak di panggung nasional. (ji4)