-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Masohi, JejakInfo.id — Semilir sore di Baileo Ir. Soekarno terasa berbeda, Minggu (2/11). Dentuman tifa dan gemuruh tepuk tangan menyambut momen sakral: Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, menggenggam Pataka Pamahanunusa, simbol persatuan dan semangat kebersamaan masyarakat Masohi.
Upacara penyerahan Pataka ini menjadi pembuka rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 Kota Masohi, yang akan berpuncak pada 3 November besok.
Sejak pukul 16.00 WIT, halaman baileo dipenuhi warna-warni kain tenun dan pakaian adat Maluku yang dikenakan oleh para pejabat, tokoh masyarakat, dan undangan.
“Ini tradisi yang kita jaga dari tahun ke tahun. Pataka hari ini kita semayamkan, besok akan kita arak menuju Lapangan Nusantara untuk upacara puncak,” ujar Bupati Zulkarnain dengan suara bergetar penuh kebanggaan.
Bagi masyarakat Maluku Tengah, Pataka Pamahanunusa bukan sekadar bendera. Ia adalah lambang rumah besar—tempat seluruh anak negeri hidup rukun dalam semangat gotong royong.
Tradisi ini menjadi penanda betapa kuatnya akar persaudaraan yang menumbuhkan Kota Masohi sejak masa awal berdirinya.
Bupati Zulkarnain pun mengingatkan kembali sejarah yang menorehkan nama besar Masohi di panggung nasional.
“Masohi adalah kota yang didirikan langsung oleh Bung Karno, bersamaan dengan Palangka Raya. Usianya kini sudah matang, dan tugas kita adalah menjaga agar tetap menjadi kota beradab, kota budaya,” tuturnya.
Di bawah cahaya senja yang menyinari Baileo Ir. Soekarno, bangunan bersejarah yang menyimpan jejak pendiri bangsa, semangat itu terasa nyata.
Masohi bukan sekadar kota, melainkan simbol cita-cita tentang kehidupan yang setara, bersaudara, dan beradab.
Menjelang peringatan puncak HUT ke-68, penyerahan Pataka ini menjadi pengingat bagi seluruh warga: bahwa kebersamaan adalah kekuatan, dan Pamahanunusa akan selalu menjadi rumah bagi setiap hati yang mencintai Masohi. (ji5)


