-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026




Masohi, JejakInfo.id — Dalam suasana penuh haru dan kebanggaan di peringatan HUT ke-68 Kota Masohi, Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir menegaskan kembali makna sejati dari nama Masohi.
Bagi Ozan, sapaan akrab Bupati Malteng, Masohi bukan hanya sebuah kota, bukan sekadar ibu kota kabupaten, tetapi roh kebersamaan yang telah mengalir di nadi masyarakat sejak masa para leluhur.
“Masohi adalah simbol semangat gotong royong, semangat persaudaraan, dan semangat kebersamaan yang telah menjadi identitas orang Maluku Tengah sejak kota ini diresmikan oleh Bung Karno pada tahun 1957,” ucap Bupati di hadapan ratusan warga yang memadati Lapangan Nusantara, Senin (3/11).
Ia mengingatkan kembali bahwa nama Masohi berarti bekerja bersama-sama — sebuah makna yang hidup dalam denyut kehidupan warganya: dari pesisir hingga pegunungan, dari pasar hingga sekolah, dari negeri ke negeri.
“Itulah kekuatan besar katong selaku anak negeri, dengan semangat yang seng akan pernah padam,” katanya, penuh kebanggaan.
Di hadapan para tokoh adat dan tamu undangan, Ozan mengajak masyarakat menundukkan kepala sejenak mengenang jasa para pendiri Kota Masohi — para raja, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan pemimpin terdahulu dari negeri-negeri yang menjadi bagian sejarah lahirnya kota ini: Amahai, Makariki, Haruru, Rutah, Sepa, Tamilouw, Waraka, dan lainnya.
“Dari katong pung tetua dan leluhur itulah, katong belajar arti ketulusan, kerja keras, dan kebersamaan tanpa pamrih,” ujarnya.
“Mari katong panjatkan doa terbaik bagi mereka. Semoga amal bakti mereka menjadi cahaya penerang bagi perjalanan Kota Masohi menuju masa depan yang lebih maju,” sambung Ozan.
Mengusung tema “Masohi Berbudaya, Masohi Bersaudara,” perayaan tahun ini bukan sekadar upacara seremonial, melainkan panggilan hati bagi seluruh warga untuk tidak melupakan jati diri orang Maluku Tengah.
“Katong boleh hidup di era digital, tapi budaya gotong royong, nilai saling menghormati, dan semangat orang basudara harus tetap jadi dasar dalam melangkah,” sebutnya.
Ia menekankan, hanya dengan budaya dan persaudaraanlah Kota Masohi akan tumbuh menjadi kota yang beradab, damai, dan sejahtera.
Karena itu, ia menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh elemen masyarakat — para ASN, TNI-Polri, tokoh agama, pelaku UMKM, guru, petani, nelayan, pemuda, serta ina-ama yang telah menjadi tulang punggung kemajuan daerah.
“Dari tangan kamong semua, Masohi hari ini terus tumbuh menjadi kota yang maju dan ramah bagi semua. Mari jaga dan rawat semangat ini, karena hanya dengan kebersamaan, katong bisa menembus batas dan mencapai cita-cita bersama,” tuturnya.
Petuah dari Baileo: Jangan Jemu Mendaki
Di akhir pidatonya, suara Bupati melembut namun sarat makna. Ia mengingatkan masyarakat untuk selalu menghidupi motto Kota Masohi: “Jangan jemu mendaki kalau hendak ke puncak cita.”
Petuah itu, kata Ozan, adalah pengingat bahwa setiap kemajuan menuntut perjuangan. Tidak ada jalan singkat menuju puncak keberhasilan.
“Sepanjang katong melangkah bersama, pantang menyerah, dan saling baku kele, Kota Masohi akan terus menapaki tangga cita-citanya menuju masa depan yang gemilang,” ingatnya.
Dengan semangat ulang tahun ke-68 ini, ia menutup sambutannya dengan ajakan penuh harap: “Mari katong jadikan Masohi sebagai Baileo besar yang damai, berbudaya, dan bersaudara. Tempat di mana setiap orang merasa diterima, dihargai, dan bangga menjadi bagiannya,” sahut Ozan.
Dan dengan suara lantang, Bupati menegaskan kembali dua kalimat yang menggema di seluruh lapangan, disambut tepuk tangan dan sorak warga:
“Masohi Berbudaya, Masohi Bersaudara! Jangan Jemu Mendaki kalau Hendak ke Puncak Cita!”. (ji1)



