Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel menghadiri pemberkatan dan peresmian Goa Maria Gwasorsel Salarem, Sabtu (2/10). (Ist)

Bupati Timotius Kaidel Disambut Adat Kora-Kora di Salarem, Goa Maria Gwasorsel Resmi Diberkati dan Diresmikan

13

Dobo, JejakInfo.id — Lautan luas dan gelombang yang menghadang tak menyurutkan langkah Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, untuk menjumpai masyarakat di wilayah selatan.

Perjalanan panjang dari Kota Dobo menuju Desa Salarem, Kecamatan Aru Selatan Timur, justru menjadi bagian dari sebuah momen penuh makna yang mempertemukan adat, iman, dan kebersamaan.

Kunjungan Bupati bersama rombongan pada Sabtu (31/10) itu dalam rangka menghadiri pemberkatan dan peresmian Goa Maria Gwasorsel Salarem. Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Kepulauan Aru tersebut disambut dengan prosesi adat yang berlangsung meriah, sarat nilai budaya, sekaligus mengharukan.

Dalam kunjungan tersebut, Bupati didampingi Wakil Ketua II DPRD Kepulauan Aru, Rizal Djabumir, dan Anggota DPRD Dapil IV, Husen Tuburfon. Turut hadir Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kepulauan Aru, Johan Karams, SE, serta Kepala Bagian Umum dan Perlengkapan Setda, Roni Wakim.

Rombongan juga diikuti Wakil Uskup Kevikefan Kepulauan Aru, RP Tino Ulahayanan, MSC; Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Trangan, RD Martinus Nifanngilyau; Diakon E. Leftungun; serta sejumlah tokoh umat Katolik, di antaranya Jefri Alatubir, Max Labok, Paulus Boger, dan Yos Labok.

Perjalanan menuju Salarem bukanlah perjalanan singkat. Dari Kota Dobo, rombongan menumpangi Speedboat Jar Garia dengan kekuatan empat mesin berkapasitas total 1.100 PK.

Selama kurang lebih empat jam, speedboat tersebut membelah jalur laut di bagian barat Pulau Trangan. Cuaca mendung dan gelombang yang mulai terasa ketika memasuki kawasan Tanjung Lelar hingga Laut Batugoyang menjadi tantangan tersendiri.

Namun, perjalanan panjang itu tak mengurangi semangat rombongan untuk tiba di Salarem. Panorama pantai, tebing, dan hamparan tanah merah di sepanjang pesisir menjadi pemandangan yang menemani perjalanan hingga akhirnya rombongan tiba dengan selamat.

Di pesisir Salarem, suasana penyambutan telah disiapkan masyarakat. Warga dan umat Katolik memadati pantai. Sebuah Kora-Kora, perahu tradisional masyarakat Aru, tampak berdiri megah dengan hiasan janur kelapa dan bambu yang dirangkai indah.

Bagi masyarakat Aru, Kora-Kora bukan sekadar alat transportasi laut. Perahu tradisional ini memiliki makna budaya yang mendalam, menjadi simbol penghormatan sekaligus sarana mengantarkan seseorang atau sesuatu yang dianggap bernilai menuju tempat tujuan.

Foto bersama usai peresmian Goa Maria Gwasorsel Salarem.

Sebelum Bupati dan rombongan menaiki Kora-Kora, prosesi adat terlebih dahulu dilaksanakan. Tuan Tanah sekaligus tokoh adat Desa Salarem, Gerson Labok, memimpin doa adat sebagai ungkapan penghormatan dan sukacita atas kedatangan rombongan.

Dengan bahasa adat Aru, Gerson menyampaikan: “Tuang, nen Bupati ama on, avo bulem-bulem ago kam, kobaray, mugway mog gorak je mangor ley tarlayno.”

Doa tersebut bermakna ucapan selamat datang kepada Bupati dan rombongan, disertai harapan agar selalu diberikan kesehatan, merasa aman selama berada di Salarem, serta membawa kebaikan dan harapan bagi masyarakat setempat.

Usai prosesi adat, Bupati Timotius Kaidel bersama rombongan naik ke atas Kora-Kora. Suasana pantai pun berubah semarak.

Para pendayung yang terdiri dari pemuda hingga anak-anak usia SMP mulai mengayunkan dayung secara serentak mengikuti aba-aba Paduang atau pemimpin perahu.

Kayuhan dayung berpadu dengan lantunan Sabo, nyanyian tradisional masyarakat Aru yang sarat makna spiritual. Syair-syairnya menggambarkan Tuhan dan pemimpin yang datang membawa kedamaian, sukacita, serta harapan akan masa depan yang lebih baik.

Dentuman tifa dan gong semakin menghidupkan suasana. Para penari bergerak mengikuti irama, sementara pekikan jilan dari ibu-ibu yang menyambut rombongan terdengar bersahutan.

Sebuah penyambutan yang bukan sekadar seremoni, melainkan gambaran kuat tentang bagaimana masyarakat Salarem menjaga dan merawat warisan adat leluhur.

Kora-Kora kemudian mengantarkan Bupati dan rombongan menuju halaman Gereja Katolik Santo Antonius. Setelah beristirahat sejenak di pastoran dan menikmati makan siang, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan agenda keagamaan.

Suasana khusyuk menyelimuti umat Katolik ketika prosesi reli Rosario dimulai. Dengan doa dan pujian kepada Bunda Maria, umat mengarak arca Bunda Maria melalui jalur menanjak menuju Goa Maria Gwasorsel yang berada di kawasan perbukitan.

Goa Maria tersebut berdiri di atas Gunung Gwasorsel, salah satu kawasan gunung tertinggi di Kabupaten Kepulauan Aru. Lokasinya yang berada di ketinggian menghadirkan suasana alam yang teduh dan menambah kekhusyukan umat dalam mengikuti rangkaian kegiatan rohani.

Puncak kegiatan ditandai dengan pemberkatan Goa Maria Gwasorsel oleh Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Trangan, RD Martinus Nifanngilyau.

Selanjutnya, Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, secara resmi meresmikan Goa Maria Gwasorsel Salarem.

Peristiwa tersebut menjadi momen istimewa bagi umat Katolik dan masyarakat Desa Salarem. Kehadiran tempat ziarah rohani ini diharapkan menjadi ruang bagi umat untuk berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memperkuat kehidupan iman dan persaudaraan.

Kunjungan Bupati Timotius Kaidel ke Salarem pun meninggalkan lebih dari sekadar kenangan sebuah peresmian. Di desa pesisir yang ditempuh melalui perjalanan laut selama empat jam itu, adat dan iman tampil berdampingan dalam satu peristiwa yang penuh makna.

Kora-Kora menjadi simbol penghormatan, Sabo menjadi ungkapan sukacita, sementara Goa Maria Gwasorsel menjadi lambang pengharapan dan kehidupan rohani umat.

Salarem hari itu bukan hanya menyambut kedatangan seorang pemimpin daerah, tetapi juga memperlihatkan kekayaan budaya dan kuatnya nilai persaudaraan masyarakat Kepulauan Aru. (ji5)

1 Menyukai postingan ini