Elvis Saidmas Watubun. (Ist)

Copycat Effect di JMP: Saatnya Bertindak, Bukan Sekadar Menyaksikan

37

Ambon, JejakInfo.id — Jembatan Merah Putih, kebanggaan warga Ambon, kini menyimpan kegelisahan yang kian sulit diabaikan. Peristiwa bunuh diri yang berulang di atas bentangan megah yang menghubungkan Galala-Poka itu bukan lagi sekadar insiden terpisah, melainkan sinyal kuat adanya persoalan serius yang menuntut perhatian segera.

Fenomena ini diduga berkaitan dengan copycat effect—sebuah kondisi ketika paparan luas suatu peristiwa mendorong individu lain yang sedang rapuh secara mental untuk menirunya. Dalam konteks Jembatan Merah Putih (JMP), efek ini disebut semakin menguat seiring viralnya pemberitaan dan perbincangan publik.

Mantan Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Elvis Saidmas Watubun, angkat suara. Ia menilai pemerintah tidak boleh lagi bersikap reaktif, melainkan harus segera mengambil langkah konkret untuk mencegah tragedi serupa terulang.

“Kasus seperti ini bukan hal baru di dunia. Di banyak negara dengan jembatan tinggi, pemerintah memasang jaring pengaman sebagai langkah pencegahan,” ujar Watubun, Selasa (28/4).

Menurutnya, pemasangan jaring pengaman di kedua sisi jembatan adalah langkah mendesak yang patut dipertimbangkan. Namun, persoalan tidak berhenti di situ. Ia juga menyoroti kebijakan yang memperbolehkan pejalan kaki melintasi JMP—sesuatu yang dinilainya tidak tepat sejak awal.

“JMP tidak dirancang untuk pejalan kaki. Tidak ada trotoar. Tapi orang bebas berjalan kaki, bahkan berolahraga di sana. Ini berbahaya,” tegasnya.

Selain potensi bunuh diri, risiko kecelakaan lalu lintas bagi pejalan kaki dinilai cukup tinggi. Karena itu, ia mendorong adanya larangan tegas terhadap aktivitas berjalan kaki di atas jembatan tersebut.

Watubun juga mengusulkan penataan ulang akses masuk JMP agar lebih terkontrol, menyerupai sistem gerbang jalan tol. Dengan demikian, tidak semua orang bisa keluar-masuk sesuka hati.

Fenomena lain yang turut disorot adalah kebiasaan masyarakat menjadikan JMP sebagai tempat berkumpul, terutama pada malam hari. Aktivitas ini, menurutnya, justru membuka ruang bagi potensi kejadian yang tidak diinginkan.

“Kalau hanya untuk berfoto, bisa berhenti sebentar. Tapi sekarang ini sudah jadi tempat nongkrong. Ini yang harus ditertibkan,” katanya.

Ia bahkan mengusulkan aturan sederhana namun tegas, seperti larangan berdiri terlalu lama di atas jembatan. “Harus ada papan peringatan, misalnya ‘Dilarang Berdiri Lebih dari 1 Menit’. Ini soal keselamatan,” ujarnya.

Menanggapi isu yang mengaitkan kejadian-kejadian tersebut dengan unsur mistis, seperti mitos Tanjung Marthafons, Watubun menepisnya. Ia menilai narasi semacam itu justru memperkeruh keadaan dan memperbesar efek peniruan.

“Di era modern, kita tidak bisa lagi terpaku pada mitos. Cerita seperti itu justru membuat kasus ini makin viral dan memicu orang lain untuk ikut-ikutan,” kata dia.

Baginya, yang paling mendesak saat ini adalah kepedulian dan keberanian pemerintah serta pengelola JMP untuk bertindak. Tanpa langkah nyata, jembatan yang seharusnya menjadi simbol kemajuan justru berisiko terus menjadi saksi bisu tragedi. (ji1)