Wakil Bupati Maluku Tenggara mencanangkan Desa Cantik, Kamis (30/4). Acara berlangsung di Ohoidertawun. (Foto: Diskominfo Malra)

Dari Desa, Data Dibangun: Langkah Baru Maluku Tenggara Menata Arah Pembangunan

8

Langgur, JejakInfo.id — Pembangunan sering kali dimulai dari rencana besar. Namun di Maluku Tenggara, langkah itu justru dimulai dari hal yang lebih mendasar: data yang rapi, akurat, dan benar-benar mencerminkan kehidupan masyarakat.

Kamis (30/4), di Desa Ohoidertawun, Wakil Bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam mencanangkan program Desa Cinta Statistik yang akrab disebut Desa Cantik. Nama yang sederhana, tetapi menyimpan makna penting: bagaimana desa mampu mengenali dirinya sendiri melalui data yang tertata.

Di tengah suasana yang hangat, Rahantoknam menegaskan bahwa pembangunan tanpa data ibarat berjalan tanpa arah. Banyak keputusan diambil, tetapi tanpa pijakan yang benar-benar kuat.

“Data itu menentukan arah. Kalau datanya keliru, arah pembangunan juga bisa melenceng,” ujarnya.

Program Desa Cantik menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk membangun kesadaran bahwa data bukan hanya urusan pemerintah pusat atau kabupaten. Desa, sebagai unit paling dekat dengan masyarakat, justru menjadi titik awal yang paling menentukan.

Selama ini, persoalan data kerap dianggap sepele. Padahal, prosesnya panjang dari pengumpulan, pengolahan, hingga penyajian. Kesalahan kecil di awal bisa berdampak besar pada kebijakan yang diambil.

Karena itu, Rahantoknam mengingatkan pentingnya ketelitian dan tanggung jawab dalam setiap tahapan. Ia juga menekankan bahwa aparatur desa tidak hanya dituntut memahami teknis, tetapi juga aturan dan semangat pelayanan publik di baliknya.

Yang menarik, program ini tidak hanya berhenti pada pendataan rutin. Setiap desa didorong untuk melakukan pendataan mandiri. Artinya, desa tidak lagi sekadar menjadi objek, tetapi juga subjek yang aktif menggali potensi dan mengenali persoalannya sendiri.

Dengan cara itu, profil desa tidak lagi bersifat umum, melainkan lebih detail menggambarkan kondisi nyata, kekuatan, sekaligus tantangan yang dihadapi.

“Setiap desa punya cerita dan potensi yang berbeda. Data harus bisa menangkap itu,” kata Rahantoknam.

Lebih jauh, ia mengajak masyarakat untuk ikut terlibat. Sebab data yang baik tidak lahir dari satu pihak saja, melainkan dari keterbukaan dan partisipasi bersama.

Langkah ini menjadi sinyal bahwa Maluku Tenggara ingin membangun dengan cara yang lebih terukur. Bukan sekadar mengejar pembangunan, tetapi memastikan setiap langkah didasarkan pada informasi yang benar.

Di Desa Ohoidertawun, pencanangan itu mungkin terlihat sederhana. Namun dari sanalah fondasi dibangun bahwa masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh program besar, tetapi juga oleh seberapa baik ia memahami dirinya sendiri, dimulai dari data di tingkat desa. (ji4)