Perayaan syukuran Natal BRIGIF 708 SATRIA di Airlouw, Nusaniwe, Kota Ambon, Rabu (17/12). (Ist)

Dari Jejak Perjuangan Menuju Persekutuan Damai: Natal BRIGIF 708 SATRIA di Airlouw

143

Ambon, JejakInfo.id — Malam di Airlouw terasa berbeda. Rabu (17/12) itu, udara sejuk berpadu dengan suasana hangat yang mengalir dari hati ke hati.

Keluarga besar BRIGIF 708 SATRIA berkumpul dalam Ibadah Natal yang bukan sekadar perayaan rutin, melainkan ruang perjumpaan batin: mengenang perjalanan, merawat kebersamaan, dan meneguhkan damai di dalam Kristus.

Ibadah Natal ini berlangsung khidmat dan sarat makna, dengan dukungan penuh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa. Kehadiran dan perhatian tersebut menjadi penanda bahwa nilai persatuan, kebersamaan, dan spiritualitas tetap mendapat tempat penting, terutama bagi komunitas yang lahir dari proses panjang perjuangan dan kebersamaan.

Rangkaian ibadah diawali dengan pujian dan momen penyalaan lilin oleh Ketua BRIGIF 708 SATRIA, Maichel Papilaya. Cahaya lilin yang menyala perlahan di tengah gelap malam menjadi simbol sederhana namun kuat: terang Kristus yang hadir membawa damai, menerangi relasi yang pernah ditempa oleh dinamika, perbedaan, bahkan ketegangan perjalanan hidup.

Suasana semakin syahdu ketika kidung-kidung Natal dilantunkan oleh Trio GALAKS. Nada-nada pujian itu seolah mengajak jemaat berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, masuk dalam perenungan yang tenang dan mendalam tentang makna kelahiran Sang Juru Selamat.

Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Grace Surwui dengan perenungan dari Yohanes 14:27–29, bertema “Damai Sejahtera Ku Tinggalkan Bagimu.” Dalam khotbahnya, ia menekankan bahwa Natal kali ini memiliki arti istimewa: sebuah persekutuan yang dahulu dipersatukan oleh tujuan dan perjuangan tertentu, kini berdiri sebagai satu tubuh di dalam Kristus.

“Natal berbicara tentang Kristus yang datang membawa damai. Bukan hanya bagi dunia, tetapi juga bagi relasi yang pernah diuji oleh waktu, kepentingan, dan situasi,” tuturnya dengan nada reflektif.

Menurut Pdt. Grace, damai sejahtera yang Yesus tinggalkan bukanlah damai yang lahir dari keberhasilan agenda atau tercapainya tujuan bersama. Damai itu adalah warisan iman—tidak bersyarat, tidak goyah oleh keadaan, dan mampu merangkul kembali perbedaan yang pernah ada.

Ia juga mengingatkan bahwa sukacita Natal sejati tidak bertumpu pada romantisme masa lalu. Natal, khususnya di Minggu Advent Ketiga, mengajak umat untuk menatap ke depan dengan pengharapan, berjalan bersama Kristus dalam relasi yang terus diperbarui.

Dalam sambutannya, Ketua BRIGIF 708 SATRIA, Maichel Papilaya, menegaskan pentingnya menjaga persekutuan yang telah terbangun.

Ia mengakui bahwa perjalanan BRIGIF 708 SATRIA pernah diwarnai fase perjuangan yang intens, namun justru dari sanalah solidaritas dan rasa kebersamaan ditempa.

“Kita pernah berjuang bersama. Sekarang tanggung jawab kita adalah menjaga persekutuan ini tetap solid, setia, dan saling menjaga rasa,” ujarnya. 

Papilaya, yang juga menjabat Komisaris Bank Maluku dan Maluku Utara, menekankan bahwa kebersamaan adalah warisan yang harus dirawat, bukan sekadar dikenang.

Ibadah Natal kemudian ditutup dengan pembagian bingkisan, sebuah gestur sederhana yang sarat makna. Bukan nilai bingkisannya yang utama, melainkan pesan kasih dan kepedulian yang menjadi inti perayaan Natal itu sendiri.

Dari Airlouw malam itu, satu pesan kembali diteguhkan: dari jejak perjuangan, Tuhan menuntun umat-Nya menuju persekutuan yang manis, persekutuan yang berdamai dengan masa lalu, hidup dalam kasih hari ini, dan melangkah ke depan dengan pengharapan. (ji3)