Deklarasi Calon Ketua dan Sekretaris Umum Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) di Jakarta, Sabtu (25/5). (Ist)

Deklarasi Caketum PIKI, BMW Angkat Tema Bertanding Untuk Bersanding

19

Jakarta, JejakInfo.id — Riuh tepuk tangan dan semangat perubahan menyatu dalam deklarasi pencalonan Ketua Umum Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI), ketika Dr. Michael Wattimena, SE.,SH.,MM tampil membawa pesan yang tak setengah-setengah: PIKI harus berani keluar dari bayang-bayang rutinitas.

Mengusung tema “Bertanding untuk Bersanding demi Gereja, Masyarakat dan Bangsa”, sosok yang juga dikenal sebagai Komisaris Pertamina International Shipping itu menegaskan bahwa organisasi intelektual tak boleh lagi berhenti pada wacana.

“Sudah waktunya kita berhenti sekadar berbicara. PIKI harus hadir, memberi solusi, dan memimpin perubahan,” ujarnya lantang dalam rangkaian sosialisasi visi-misi di Yogyakarta, sebelum deklarasi resmi digelar di Jakarta, Sabtu (25/4).

Bagi Wattimena, perubahan zaman menuntut keberanian baru. Ia menilai, peran intelektual Kristen selama ini belum sepenuhnya menjawab persoalan nyata bangsa. Forum diskusi, katanya, tak lagi cukup jika tidak berujung pada tindakan.

Di hadapan para tokoh gereja, pemuda, dan simpatisan yang memenuhi ruang deklarasi, ia mengajak PIKI meninggalkan zona nyaman. Organisasi ini, menurutnya, harus menjadi kekuatan pemikiran yang hidup, tajam dalam analisis, namun juga nyata dalam aksi.

Dalam visinya yang bertajuk “Menyatakan Kasih dan Kebenaran”, Tenaga Ahli Menteri ESDM ini menawarkan arah baru yang berani. Ia ingin PIKI berdiri di dua kaki sekaligus: kuat dalam pemikiran, dan kokoh dalam spiritualitas.

Empat pijakan utama ia bentangkan sebagai fondasi gerakan. Mulai dari keberanian berpikir kritis, menjaga integritas iman, mendorong aksi sosial berbasis keilmuan, hingga membangun jejaring lintas sektor yang solid. Bagi dia, sekat-sekat lama sudah waktunya dibongkar.

“PIKI tidak boleh menjadi penonton. Kita harus hadir sebagai pelaku utama dalam menghadirkan keadilan dan kesejahteraan,” tegasnya.

Dr. Michael Wattimena, SE.,SH.,MM dan Pdt. Penrad Siagian.

Dalam kontestasi ini, Wattimena tidak sendiri. Ia menggandeng Pdt. Penrad Siagian sebagai calon Sekretaris Jenderal. Keduanya tampil dengan chemistry yang menekankan kolaborasi, bukan sekadar kompetisi.

Pesan “bertanding untuk bersanding” terasa kuat sepanjang acara. Perbedaan pilihan, menurut mereka, tidak boleh merusak persaudaraan. Justru dari dinamika itulah, organisasi diharapkan tumbuh lebih dewasa.

Dukungan pun mengalir dari berbagai kalangan. Seorang pemuda yang hadir menyebut pasangan ini membawa harapan baru, bukan hanya karena pengalaman dan jaringan, tetapi juga keberanian menawarkan arah yang jelas.

“Tema ini mengajarkan bahwa kita boleh bersaing, tapi tetap bersatu untuk tujuan yang lebih besar,” ujarnya.

Harapan itu sederhana namun mendalam: PIKI yang lebih dekat dengan generasi muda, lebih peka terhadap persoalan masyarakat, dan lebih berani mengambil peran dalam pembangunan bangsa.

Deklarasi berlangsung hangat, penuh keakraban, sekaligus sarat optimisme. Doa-doa dipanjatkan agar proses pemilihan berjalan damai dan demokratis.

Di tengah perubahan zaman yang kian cepat, momentum ini terasa seperti persimpangan. Tetap berjalan di tempat, atau melangkah lebih jauh menjadi kekuatan intelektual yang benar-benar diperhitungkan. (ji1)