-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Ambon, JejakInfo.id — Senja di Auditorium Universitas Pattimura, Rabu (11/3), terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan hanya karena hidangan berbuka yang tersaji, tetapi juga karena suasana kebersamaan yang menyatukan civitas akademika dalam satu ruang—merenung, mendengar, dan memperkuat diri.
Di momen itulah Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd menyampaikan pesan yang melampaui sekadar seremoni. Ia berbicara tentang sesuatu yang kerap luput di tengah hiruk-pikuk dunia kampus: kekuatan mental dan spiritual mahasiswa.
Menurutnya, menjadi insan akademis tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual. Ada fondasi lain yang tak kalah penting: ketenangan batin, kedewasaan sikap, dan kedalaman iman.
“Kalau mental dan spiritual kita kuat, persoalan sebesar apa pun bisa dihadapi dengan bijaksana,” ujarnya, menatap para mahasiswa yang duduk khidmat menanti waktu berbuka.
Kegiatan Bina Mental dan Spiritual yang dirangkai dengan buka puasa bersama ini bukanlah agenda sesaat. Selama dua tahun terakhir, program serupa terus digelar secara rutin di Universitas Pattimura. Dari tingkat rektorat hingga fakultas, pembinaan ini menjadi denyut yang menjaga harmoni kehidupan kampus.
Rektor melihat, dari ruang-ruang sederhana seperti inilah lahir suasana akademik yang damai. Ia percaya, kampus yang tenang tidak tercipta dari aturan semata, melainkan dari pribadi-pribadi yang kuat secara batin.
Dalam refleksinya, ia juga mengingatkan bahwa kehidupan selalu berjalan di antara dua sisi—kebaikan dan tantangan. Namun, perbedaan dan dinamika itu tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan.
“Kita harus belajar menyikapi semuanya dengan kedewasaan dan saling menghargai,” pesannya.
Ia pun memberi apresiasi kepada jajaran pimpinan, khususnya bidang kemahasiswaan, yang dinilai terus bekerja menjaga stabilitas di tengah dinamika mahasiswa yang kian kompleks. Baginya, setiap upaya yang dilakukan dengan niat baik akan menemukan jalannya sendiri.
Acara semakin bermakna dengan hadirnya pemateri Grace Latuheru, S.Psi, M.Psi, M.Ag yang mengupas sisi psikologis pembinaan diri, serta tausiyah Ramadan yang disampaikan Rektor UIN Ambon, Ustad Dr. Abidin Wakanno, M.Ag menambah kedalaman suasana menjelang berbuka.
Saat adzan berkumandang, peserta pun membatalkan puasa bersama. Namun pesan yang disampaikan sore itu tak ikut selesai bersama hidangan. Ia tinggal, mengendap, menjadi pengingat bahwa di balik gelar akademik yang dikejar, ada karakter yang harus dibangun. Pelan, tapi pasti. (ji6)





