-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Haruku, JejakInfo.id — Ibadah Minggu di Jemaat Kariu, Kecamatan Pulau Haruku, Minggu (18/1), berlangsung dengan nuansa yang jauh dari biasa. Di antara wajah-wajah jemaat yang menyimpan luka panjang dan harapan yang belum sepenuhnya pulih, hadir Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama istri, Maya Baby Lewerissa, Ketua TP-PKK Provinsi Maluku. Kehadiran ini bukan sekadar kunjungan, melainkan pesan kuat bahwa Kariu tidak sendirian.
Di negeri yang masih menyimpan jejak konflik sosial itu, kehadiran orang nomor satu di Maluku terasa seperti pelukan bagi jemaat yang bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan.
Gubernur datang bersama sejumlah pimpinan OPD Provinsi Maluku, menyertai ibadah sekaligus meninjau langsung kondisi masyarakat yang hingga kini masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Usai ibadah, rombongan bergerak menuju lokasi pengungsian. Di sanalah kenyataan pahit kembali tersaji tanpa perlu kata-kata. Deretan tenda darurat, lantai tanah, atap yang rapuh, dan cerita tentang rumah yang dijanjikan namun belum terwujud sepenuhnya. Dari ratusan unit rumah yang dibutuhkan, baru sekitar 50 unit yang rampung. Sebanyak 207 unit lainnya masih menjadi tanda tanya besar bagi warga Kariu.
Di hadapan jemaat dan warga, Gubernur Hendrik Lewerissa berbicara dengan nada yang jujur dan emosional.
“Kerinduan beta untuk kembali beribadah bersama basudara di Kariu akhirnya dijawab Tuhan hari ini. Beta pernah berjanji akan kembali, dan Minggu pagi ini beta datang, bukan hanya sebagai Gubernur, tapi sebagai saudara seiman,” ucapnya, disambut mata-mata yang berkaca-kaca.
Ia menegaskan, kehadirannya adalah panggilan nurani. Negara, katanya, tidak boleh membiarkan warganya merasa terabaikan.
“Beta tidak mau masyarakat Kariu merasa tertinggal. Beta mau basudara semua tahu, negara ini hadir, pemerintah ada, dan katong ada bersama-sama di Kariu,” tegasnya.
Meski harus membagi perhatian ke seluruh penjuru Maluku, dari Tenggara Raya, Buru, Seram, Banda, Lease hingga Ambon, Gubernur mengakui Kariu memiliki tempat tersendiri di hatinya.
Ia juga menjelaskan bahwa secara aturan, pembangunan kembali rumah-rumah warga Kariu merupakan kewenangan pemerintah pusat. Namun, waktu yang berlalu tanpa kepastian membuat penderitaan warga kian panjang.
“Kalau masyarakat sudah bertahun-tahun hidup gelisah, tinggal di tempat yang tidak layak, lalu pemerintah diam saja, itu tidak mungkin. Pemerintah yang baik harus berani mengambil keputusan demi rakyat,” katanya dengan suara bergetar.
Dari situ, janji itu disampaikan dengan tegas. Tahun 2026, apa pun kondisinya, Pemerintah Provinsi Maluku akan merencanakan pembangunan kembali rumah-rumah warga Kariu yang belum terselesaikan.
“Kita akan berkomunikasi dengan pemerintah pusat. Kalau ada program lanjutan, kita dukung. Tapi kalau tidak, pemerintah provinsi akan mengambil alih tanggung jawab itu,” ujar Lewerissa.
Di salah satu tenda pengungsian, Gubernur berdialog langsung dengan warga. Empi, seorang warga, mengeluhkan kondisi tenda yang bocor setiap kali hujan turun.
“Kalau hujan, air masuk ke dalam tenda,” katanya lirih.
Gubernur terdiam sejenak, lalu bereaksi spontan, “Mau berapa lama masyarakat kita hidup seperti ini? Ini tidak boleh.”
Saat ini, Pemprov Maluku memang tengah menjalankan program Manggrebe Biking Bae Rumah, yang sejak 2025 telah membangun 204 unit rumah dan direncanakan berlanjut pada 2027 dengan skala lebih besar. Melihat kondisi Kariu, Gubernur membuka peluang wilayah ini masuk dalam program tersebut, setelah ada kejelasan pembagian tanggung jawab dengan pemerintah pusat.
Menutup kunjungan, Lewerissa mengajak masyarakat Kariu untuk tetap bersatu dan bergotong royong.
“Kalau pemerintah datang membangun, beta mohon dukungan masyarakat. Sorong bahu, masohi bersama. Pemerintah tidak bisa kerja sendiri,” ujarnya.
Di tengah tenda-tenda pengungsian yang masih berdiri, kehadiran Gubernur dan janji yang disampaikan menyalakan kembali harapan. Bahwa Kariu tidak dilupakan. Bahwa luka panjang itu akan disembuhkan, pelan-pelan, dengan kehadiran, keberpihakan, dan kerja bersama. (ji1)



