-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Ambon, JejakInfo.id — Pertarungan menuju Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Maluku Barat Daya (MBD) memang masih cukup jauh. Namun, peta kekuatan di Bumi Kalwedo mulai menunjukkan arahnya setelah Musyawarah Daerah (Musda) IV Partai Golkar MBD berlangsung dalam tensi politik yang tinggi.
Musda yang digelar sejak 17 September 2026 itu tidak berjalan mulus. Perbedaan pandangan mengenai peserta dan pemilik hak suara berujung pada deadlock dan melahirkan dua klaim mengenai kepemimpinan DPD II Golkar MBD.
Di satu sisi, Johand Alexius Mose dinyatakan terpilih melalui forum yang dilanjutkan oleh kelompok peserta Musda. Di sisi lain, Desianus Odie Orno juga ditetapkan sebagai ketua terpilih dalam forum berbeda yang mendapat dukungan jajaran DPD I Golkar Maluku.
Dengan demikian, posisi Odie sebagai pimpinan Golkar MBD belum sepenuhnya lepas dari perdebatan internal. Bahkan, sejumlah kader yang keberatan disebut memiliki ruang untuk membawa persoalan tersebut melalui mekanisme organisasi, termasuk ke Mahkamah Partai.
Namun terlepas dari dinamika tersebut, munculnya nama Odie Orno sebagai figur yang mendapatkan dukungan DPD I Golkar Maluku membuat konstelasi politik MBD ke depan menarik untuk dicermati.
Sebab, apabila kepemimpinan Odie akhirnya mendapatkan pengesahan secara organisatoris, posisi tersebut tidak sekadar menjadi jabatan struktural di internal partai. Ia berpotensi menjadi modal politik penting dalam menentukan arah Golkar menghadapi agenda politik berikutnya, termasuk Pilkada MBD.
Odie dan Anos, Dua Nama dalam Satu Arena
Nama Desianus Orno alias Odie bukan figur baru dalam percaturan politik MBD. Ia sebelumnya juga pernah masuk dalam dinamika pencalonan kepala daerah di bumi berjuluk Kalwedo tersebut.
Kini, dengan posisinya yang diarahkan untuk memimpin Golkar MBD, ruang politik Odie kembali terbuka.
Di sisi lain, terdapat nama Anos Yermias yang selama ini juga dikenal sebagai salah satu figur penting Golkar Maluku. Anos merupakan anggota DPRD Provinsi Maluku sekaligus Sekretaris DPD Golkar Maluku.
Jika kedua figur tersebut sama-sama masuk dalam radar Pilkada MBD, maka persaingan tidak lagi sekadar berbicara mengenai siapa yang akan maju sebagai calon kepala daerah. Pertarungan juga dapat bersinggungan dengan konfigurasi kekuatan internal Partai Golkar, baik di tingkat MBD maupun Provinsi Maluku.
Di sinilah Musda IV Golkar MBD menjadi penting. Hasil forum tersebut memperlihatkan bahwa perebutan pengaruh di tubuh Golkar MBD cukup kuat.
Dua nama, Johand Mose dan Odie Orno, bahkan sama-sama muncul dalam klaim kepemimpinan setelah Musda berakhir dalam situasi penuh perdebatan.
Sebelum Musda berlangsung, kedua nama tersebut memang sudah tercatat sebagai bakal calon Ketua DPD II Golkar MBD. Mereka sama-sama menyerahkan berkas dukungan untuk mengikuti proses verifikasi.
Karena itu, dinamika yang terjadi tidak dapat dilepaskan dari perebutan kendali organisasi dan arah politik Golkar MBD ke depan.
Pilkada MBD Mulai Terbaca
Pilkada MBD berikutnya juga memiliki karakter berbeda dibandingkan kontestasi sebelumnya karena tidak lagi berada dalam situasi yang sama dengan periode ketika petahana masih menjadi pusat gravitasi politik.
Kondisi ini membuka ruang lebih luas bagi munculnya figur-figur baru maupun tokoh lama yang kembali masuk ke gelanggang politik.
Dalam konteks tersebut, posisi ketua partai menjadi strategis. Ketua DPD bukan hanya mengendalikan struktur organisasi, tetapi juga memiliki peran penting dalam konsolidasi kader, komunikasi politik, serta menentukan arah partai menghadapi agenda elektoral.
Karena itu, apabila Odie benar-benar mengonsolidasikan kepemimpinan Golkar MBD, maka sangat terbuka kemungkinan dirinya kembali diperhitungkan dalam bursa Pilkada.
Pada saat yang sama, Anos Yermias juga memiliki modal politik sendiri. Selain memiliki pengalaman sebagai anggota DPRD Maluku, Anos merupakan bagian dari struktur penting Golkar Maluku.
Artinya, jika keduanya kelak berada dalam arena yang sama, persaingan tidak hanya akan berlangsung di MBD. Konstelasi tersebut berpotensi ikut memengaruhi dinamika di tubuh Golkar Maluku.
Efeknya Bisa Menjalar ke Golkar Maluku
Musda MBD juga memperlihatkan adanya keterlibatan jajaran DPD I Golkar Maluku dalam proses penyelesaian dinamika Musda.
Ketua Harian DPD I Golkar Maluku, Ridwan Rahman Marasabessy, menyatakan bahwa seluruh tahapan Musda telah selesai, sembari membuka ruang bagi kader yang keberatan untuk menggunakan mekanisme organisasi.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan Musda MBD masih memiliki ruang penyelesaian secara internal.
Apalagi, sejumlah pimpinan kecamatan sebelumnya telah menyampaikan keberatan kepada DPP Golkar terkait penentuan peserta dan pemilik hak suara. Persoalan yang diperdebatkan antara lain penggunaan data kepengurusan yang tercatat dalam SIPOL dengan kepengurusan hasil Musyawarah Kecamatan.
Situasi ini menjadi pekerjaan rumah bagi Golkar Maluku. Sebab, konsolidasi partai membutuhkan soliditas struktur dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Ketika proses pergantian kepemimpinan di sejumlah daerah justru diwarnai perbedaan klaim, keberatan dan deadlock, energi partai berpotensi terserap ke dalam konflik internal.
MBD bukan satu-satunya daerah yang menghadapi dinamika konsolidasi. Proses Musda di sejumlah daerah lain di Maluku juga masih menjadi perhatian internal partai.
Jika persoalan-persoalan tersebut tidak segera menemukan titik temu melalui mekanisme organisasi, dampaknya bukan hanya terhadap kepengurusan, tetapi juga terhadap kesiapan Golkar menghadapi agenda politik mendatang.
Karena itu, Musda IV Golkar MBD dapat dibaca sebagai salah satu sinyal awal perubahan peta politik menuju Pilkada berikutnya.
Odie Orno kini berada di salah satu titik strategis. Anos Yermias juga memiliki basis politik dan posisi struktural yang tidak bisa diabaikan.
Apakah keduanya benar-benar akan berhadapan di Pilkada MBD, tentu masih terlalu dini untuk dipastikan. Namun satu hal mulai terlihat: perebutan kendali Golkar MBD telah membuka kembali ruang persaingan sejumlah figur untuk memperebutkan panggung politik di Bumi Kalwedo.
Dan jika dinamika internal partai terus berlanjut, pertarungan sesungguhnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi ketua DPD II Golkar MBD, melainkan siapa yang nantinya mampu mengonsolidasikan kekuatan partai menuju pertarungan politik yang lebih besar. (ji3)
