-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Kairatu, JejakInfo.id — Kunjungan kerja jajaran manajemen Bank Maluku Maluku Utara ke Pulau Seram tidak hanya menyasar para kepala daerah selaku pemegang saham. Kantor-kantor cabang hingga kantor cabang pembantu juga menjadi perhatian.
Hal itu terlihat saat Direktur Kepatuhan Bank Maluku Malut, Abidin, bersama dua Komisaris, Maichel Papilaya dan Faizal Kilian, menyempatkan diri singgah di Kantor Cabang Pembantu (KCP) Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), sebelum bertolak kembali ke Ambon.
Kunjungan tersebut dimanfaatkan untuk melihat secara langsung kondisi pegawai sekaligus memberikan pembinaan terkait operasional dan pelayanan perbankan.
Dalam arahannya, Abidin menegaskan bahwa kepatuhan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu bagian atau pejabat tertentu. Menurutnya, seluruh insan bank memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan setiap kegiatan berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
“Kepatuhan adalah tanggung jawab semua. Kegiatan apa pun yang dilakukan harus berdasarkan SOP dan implementasinya. Tolong ini menjadi catatan dan perhatian dalam kegiatan operasional bank setiap hari,” tegas Abidin.
Ia juga memberikan perhatian serius terhadap potensi fraud atau kecurangan dalam aktivitas perbankan.
Abidin menegaskan, tidak boleh ada ruang bagi praktik fraud di lingkungan Bank Maluku Malut. Sikap perusahaan terhadap kecurangan tersebut harus tegas dan tanpa kompromi.
“Tidak boleh ada fraud. Yang namanya fraud tidak ada toleransi. Zero tolerance soal fraud,” ujarnya.
Di hadapan para pegawai KCP Kairatu, ia juga mengingatkan bahwa keberlangsungan bank sangat bergantung pada kinerja seluruh pegawai. Karena itu, tata kelola harus dijalankan dengan benar, transparan, dan bertanggung jawab.
“Tanpa kalian, bank ini tidak dapat beroperasi. Tata kelola harus benar dan transparan,” katanya.
Sementara itu, Komisaris Bank Maluku Malut, Faizal Kilian, lebih banyak memberikan motivasi kepada jajaran KCP Kairatu. Ia mengingatkan agar setiap pegawai bekerja dengan penuh perhitungan, terutama dalam menjalankan aktivitas yang berhubungan dengan kredit dan transaksi nasabah.
Menurutnya, pertumbuhan bank pada akhirnya sangat bergantung pada bagaimana seluruh pegawai menjalankan tugas secara profesional.
“Kerja di bank ujung-ujungnya bank tumbuh besar. Jangan dipaksakan kalau kredit. Jangan lakukan transaksi dengan nilai besar tanpa verifikasi,” tegas Faizal.
Ia menjelaskan, potensi fraud bahkan bisa bermula sejak proses pembukaan rekening. Ketika sebuah rekening telah dibuka, berbagai aktivitas transaksi dapat dilakukan melalui rekening tersebut. Kondisi itu, jika tidak diawasi dengan baik, dapat membuka ruang terjadinya penyalahgunaan posisi maupun jabatan.
“Awal fraud itu dari buka rekening. Kalau rekening sudah dibuka, maka banyak hal yang akan dilakukan lewat transaksi. Itu memungkinkan terbuka ruang penyalahgunaan posisi dan jabatan,” jelasnya.
Faizal juga mengingatkan para pegawai mengenai risiko dan reputasi bank. Menurutnya, pengalaman di industri perbankan menunjukkan bahwa publikasi negatif dapat berdampak langsung terhadap kepercayaan nasabah.
“Risiko dan reputasi. Pengalaman terhadap publikasi negatif, banyak nasabah yang lari meninggalkan bank,” katanya.
Karena itu, ia meminta seluruh pegawai lebih mengedepankan profesionalisme dalam bekerja dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan perasaan.
“Kerja pakai otak, jangan pakai hati. Nanti malu hati itu terus membayang,” ujarnya.
Ia pun mendorong seluruh pegawai menjadikan Bank Maluku Malut sebagai ruang untuk membangun karier. Prestasi, kata dia, harus menjadi jalan bagi setiap pegawai untuk berkembang dan mencapai jenjang yang lebih tinggi.
“Jadikan bank ini sebagai legal motivasi, supaya bisa naik ke level yang paling atas dengan sendirinya lewat prestasi. Kualitas pelayanan harus dijaga,” pesannya.
Komisaris: Bank Harus Menjadi Rumah Bersama
Di tempat yang sama, Komisaris Non Independen Bank Maluku Malut, Maichel Papilaya, mengatakan penunjukan dirinya oleh Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa sebagai Pemegang Saham Pengendali merupakan sebuah kepercayaan yang harus dijaga.
Kepercayaan tersebut, kata Papilaya, dijalankan melalui fungsi pengawasan dan pemberian arahan kepada jajaran direksi. Selain itu, ia juga menjalankan tugas fungsional serta mewakili kepentingan pemegang saham.
“Ini pekerjaan yang harus dilihat sebagai tanggung jawab. Karena itu kami berharap ada kerja sama dan kolaborasi. Bank ini harus dilihat sebagai rumah bersama. Kerja sama dan kerja bersama-sama penting,” kata Papilaya.
Ia menjelaskan, tugas tersebut juga mencakup pengawalan kepentingan kelompok usaha atau korporasi pemegang saham yang berada dalam struktur bank.
Dalam menjalankan fungsi pengawasan, pihaknya turut memastikan penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG), manajemen risiko, serta kepatuhan terhadap berbagai regulasi yang berlaku di industri perbankan.
Menurut Papilaya, pengawasan tidak hanya dilakukan di tingkat manajemen atas. Kondisi dan kinerja di tingkat bawah juga menjadi perhatian.
Selain itu, pihaknya terus membangun komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk para pemegang saham yang merupakan kepala daerah, dalam rangka mendorong penambahan penyertaan modal bagi Bank Maluku Malut.
Upaya tersebut dinilai penting karena Bank Maluku Malut merupakan salah satu bank milik daerah yang memiliki tanggung jawab sosial dalam mendukung pembangunan di Provinsi Maluku dan Maluku Utara.
Pendapatan KCP Kairatu Meningkat
Sementara itu, Kepala KCP Kairatu, Rahayu Kaplale, mengaku bersyukur sekaligus berterima kasih atas kehadiran Direktur Kepatuhan dan dua Komisaris Bank Maluku Malut di kantor yang dipimpinnya.
Menurut Rahayu, kehadiran langsung jajaran manajemen memberikan energi baru bagi seluruh pegawai untuk meningkatkan kinerja.
“Tentunya ini menjadi spirit dan motivasi bagi kita di Cabang Pembantu Kairatu untuk lebih meningkatkan kinerja,” ucapnya.
Ia mengakui, kunjungan langsung jajaran komisaris dan direktur ke kantor cabang pembantu seperti KCP Kairatu terbilang jarang dilakukan. Selama ini, pihaknya lebih banyak diarahkan untuk mengikuti kegiatan kunjungan di cabang utama, yakni Cabang Piru.
Meski demikian, Rahayu memastikan kinerja KCP Kairatu menunjukkan perkembangan positif. Salah satunya terlihat dari peningkatan pendapatan bank dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun kemarin pendapatan bank sebesar Rp63 miliar, namun di tahun ini sudah mendekati angka Rp65 miliar,” ungkapnya.
Menurut Rahayu, pendapatan tersebut berasal dari kredit konsumtif maupun kredit produktif.
Memasuki triwulan ketiga, ia optimistis target yang telah ditetapkan dapat tercapai.
“Itu semua berasal dari kredit konsumtif dan kredit produktif. Memasuki triwulan ketiga, Insya Allah target sudah bisa tercapai,” tandasnya. (ji7)



