-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Ambon, JejakInfo.id — Di tengah gegap gempita rencana megaproyek energi di Maluku, sebuah suara lantang justru datang dari ruang diskusi mahasiswa. Bukan soal angka investasi, melainkan soal nasib manusia di balik proyek raksasa itu.
Wakil Rektor IV Universitas Pattimura, Dr. Ruslan H. S. Tawari, M.Si tampil menggugah dalam Rapat Kerja PCPS GMKI Ambon yang digelar di Ballroom Hotel Manise, Sabtu (1/5).
Di forum bertema “Tumbuhkan Benih Kasih di Atas Ladang Persaudaraan” itu, suasana yang semula hangat berubah menjadi reflektif ketika Ruslan mulai menyinggung satu isu krusial: kesiapan orang Maluku menghadapi Blok Masela.
Dengan nada tenang namun tajam, ia mengingatkan bahwa proyek strategis nasional itu tak boleh sekadar dipandang sebagai peluang ekonomi di atas kertas. Ada pertaruhan besar yang sering luput dibicarakan. Apakah masyarakat lokal benar-benar siap terlibat? Atau justru tersisih di tanahnya sendiri.
“Disrupsi ekonomi itu pasti datang, tinggal kita tentukan, mau jadi penonton atau pemain utama,” ujarnya.
Kalimat itu menggantung, sekaligus menampar kesadaran peserta forum. Ruslan menilai, Maluku kini berada di titik genting. Potensi besar dari sektor energi memang terbuka lebar, tetapi tanpa kesiapan sumber daya manusia, peluang itu bisa berubah menjadi ironi: kekayaan alam yang melimpah, namun manfaatnya mengalir ke luar daerah.
Ia pun menekankan satu hal yang kerap diucapkan namun jarang dijalankan yakni kolaborasi. Pemerintah, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat, kata dia, harus bergerak bersama membangun SDM yang tangguh dan adaptif. Tanpa itu, proyek sebesar Masela hanya akan menjadi cerita megah yang tak sepenuhnya dirasakan rakyat Maluku.
Rapat kerja GMKI Ambon kali ini pun terasa berbeda. Ia bukan sekadar agenda organisasi, melainkan ruang bagi generasi muda untuk membaca arah pembangunan daerah dengan lebih kritis.
Di tengah euforia investasi dan janji pertumbuhan, forum ini justru menegaskan satu kenyataan sederhana: pembangunan tidak pernah hanya soal proyek. Ia selalu, dan seharusnya, tentang manusia. (ji6)
