-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2025
LANGGUR, JejakInfo.id — Sebanyak 36 peserta Wanderful SAIL to Indonesia Tahun 2025 singgahi pantai Ngiar Varat, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara.
Sejak beberapa tahun belakangan ini, yacht rally SAIL to Indonesia menyinggahi Ohoi Debut. Kali ini, atas inisiatif Pemkab Malra titik lokasi yang akan disinggahi itu dialihkan ke Ngiar Varat, Ohoidertawun.
Tujuannya ialah memperkenalkan kembali bahwa pariwisata bahari bukan di satu titik saja, melainkan beberapa destinasi wisata yang memesona dan layak dikunjungi para wisatawan domestik maupun mancanegara.
Rabu (23/7) digelar upacara penyambutan peserta Wonderful SAIL to Indonesia yang dipimpin Wakil Bupati Charlos Viali Rahantoknam tepatnya di Pantai Ngiar Varat, Ohoidertawun, Kei Kecil, Maluku Tenggara.
Hingga pelaksanaan penyambutan berlangsung baru 21 kapal yang telah berlabuh dengan jumlah penumpang sebanyak 56 tourist. Sementara 15 kapal lainnya masih daalm perjalanan menuju lokasi.
Mengapa Maluku Tenggara ditetapkan sebagai entry point atau pintu masuk penyelenggaraan Wonderful SAIL to Indonesia 2025? Berikut ulasan, International Yacht Rally Organizer, Remon Lesmana.
Yacht rally adalah sebuah acara pelayaran yang melibatkan kapal pesiar (yacht) dan biasanya diselenggarakan sebagai bagian dari promosi pariwisata bahari dan untuk memperkenalkan destinasi wisata di suatu wilayah.
"Jadi acara kita ini disebut Sail to Indonesia. Karena acara ini sudah berlangsung selama 20 tahun," seloroh Raymond di sela-sela pembukaan penyambutan peserta.
Untuk Maluku Tenggara, kata Raymond, sudah mulai sejak tahun 2008. Dan misinya adalah menjadikan Indoensia sebagai ruang berlayar terbaik di dunia.
"Seperti yang anda lihat sekarang mereka sangat terpesona dengan pantai. Terpesona dengan adat, dengan penyambutan hospitality kita sangat hebat. Nah, itu sudah menjadi suatu jaminan bahwa kita sebetulnya sangat nyaman untuk didatangi para pelayar dunia," akuinya.
Oleh karenanya rally ini mencakup 90 persen wilayah di Indonesia. Rute dari Ngiar Varat ke Banda, Ambon, Tifu (Bursel), Wakatobi, Buton Selatan, selanjutnya ke Flores, Sumbawa, Lombok, Bali, Banyuwangi, Bawean, Kumay, Belitung dan berakhir di Batam (Kepulauan Riau).
"Nah, ada 19 titik yang kita singgahi. Dan total langkah jarak itu lebih dari 2000 kilometer nautical males," sebutnya.
"Kita itu mempunyai rally terpanjang. Kalau di Asia kita menang. Cuma kita tidak pernah di dengar. Kita tidak pernah mengekspose, we are the best. Nah saya mencoba itu, tapi kuasa saya cuma menyampaikan, membuat rally ini menjadi sesuatu yang sangat berguna," sambungnya.
Prinsipnya, lanjut Raymond, semua pihak mendukung dan menyukseskan rally ini semua aspek. Dalam semua lini.
"Ini bukan Raymond. Ini namanya Sail to Indonesia yang sudah didukung oleh pemerintah pusat. Ini bukan rally saya lagi. Rally kalian ini loh. Maluku Tenggara, ya kamu punya. Ambon, ya kamu punya. Jadi saya hanya membuat program. Kemudian program itu saya serahkan ke Menko. Menko bilang oke kita koordinasikan. Koordinasikan dengan semua destinasi. Kemudian kami menyambung dengan masyarakat," tutur Raymond.
Terkait destinasi yang dikunjungi, Raymond sangat menganggumi indahnya alam dan pantai Ngiar Varat.
"Bagus! Bagus! Pantainya indah sekali. Lihat saja, mereka (peserta) sangat menganggumi. Alamnya, warganya. Mereka menerima apa adanya kita. Apapun yang ada di kita. Dsn mereka menyadari this is Indonesia (ini Indonesia). So, untuk saya, benar-benar welcome to Indonesia," ujarnya bangga dengan keindahan alam pantai Ngiar Varat yang memukau.
Berharap Pemkab Malra Tetapkan Lokasi Pelabuhan Pariwisata
Raymond berharap Pemkab Malra dapat menetapkan lokasi mana yang tepat untuk dijadikan sebagai pelabuhan pariwisata.
Pasalnya, sudah 17 tahun yacht rally dilewati, namun belum ada titik sentral pelabuhan yang menjadi prioritas peserta event ini berlabuh.
"Catatannya Maluku Tenggara ini sudah 17 tahun kami lewati. Kami mengharapkan adanya satu cetusan dari pemeirntah daerah untuk menempatkan dimana pelabuhan pariwisata akan diadakan. Sehingga dengan demikian kebijakan yang baru dari imigrasi itu nanti bisa diantisipasi tahun depan," pintanya.
Dengan disiapkannya titik lokasi pelabuhan pariwisata, tambah Raymond, maka pihaknya akan menyampaikan ke kementerian untuk membantu dan meresmikannya.
"Bahwa oke, kami bersedia menjadi entry dan exit point. Kalau demikian kami bisa tentukan entry dan exit point itu berada di titik mana, gitu ya. Nah, dengan demikian kita baru bisa melakukan koordinasi dengan pusat agar bisa diresmikan," janjinya.
Ia berharap, semoga kedepannya, Maluku Tenggara menjadi kabupaten yang memiliki kantor imigrasi, karantina dan bea cukai. Tidak tergantung ke kota tua. Atau ada pos khusus, sehingga implementasi tindakan atau kebijakan untuk peserta dengan sangat lancar bisa dilakukan. (ji4)