Anggota DPRD Maluku Tengah, Eka Istinugiarti (Haji Eka). (Ist)

Eka Istinugiarti, Ketika Politik Menjadi Jalan Pengabdian bagi Rakyat Kecil

15

Masohi, JejakInfo.id — Bagi sebagian orang, politik adalah panggung kekuasaan. Namun bagi Eka Istinugiarti, politik justru dimaknai sebagai jalan pengabdian.

Tidak lahir dari rahim partai politik dan tidak pula dibesarkan dalam hiruk-pikuk dunia politik, perempuan yang akrab disapa Haji Eka itu datang ke panggung legislatif dengan bekal yang berbeda: pengalaman sebagai pengusaha dan kedekatan dengan masyarakat.

Perjalanan itu tentu bukan sesuatu yang mudah. Dari seorang pengusaha kecil, Eka perlahan membangun usahanya hingga berkembang dan menjangkau berbagai daerah, termasuk wilayah-wilayah yang jauh dari pusat perkotaan. Dalam perjalanan tersebut, ia tidak hanya membangun jaringan usaha, tetapi juga membangun hubungan dengan masyarakat.

Dari situlah politik kemudian menemukan maknanya. Ketika memutuskan bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Eka memilih bertarung di Daerah Pemilihan (Dapil) I Maluku Tengah. Dapil yang mencakup Kecamatan Amahai, Kota Masohi, Teon Nila Serua (TNS), dan Teluk Elpaputih itu bukanlah medan yang mudah.

Dapil I bahkan kerap disebut sebagai salah satu dapil yang paling sengit (dapil neraka) dalam perebutan kursi DPRD Maluku Tengah. Namun Eka mampu melewati pertarungan itu.

Ia berhasil mengamankan satu kursi dan melangkah ke Baileo Rakyat Pamahanunusa sebagai anggota DPRD Maluku Tengah periode 2024-2029.

Bagi Haji Eka, kemenangan tersebut bukanlah akhir perjalanan. Justru dari situlah tanggung jawab sebenarnya dimulai.

Hampir dua tahun menjalankan amanah sebagai wakil rakyat, Eka memilih untuk tetap menjaga hubungan dengan masyarakat, terutama warga di daerah pemilihannya.

Teluk Elpaputih dan sejumlah negeri di sekitarnya menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius.

Bantuan tidak hanya disalurkan melalui jalur aspirasi sebagai anggota DPRD. Dalam sejumlah kesempatan, Eka juga menggunakan sumber daya pribadi untuk membantu kebutuhan masyarakat maupun lembaga-lembaga sosial dan keagamaan. Gereja dan masjid menjadi bagian dari perhatian tersebut.

Bagi Eka, rumah ibadah bukan sekadar bangunan. Di tempat itulah masyarakat berkumpul, membangun kebersamaan, memperkuat kehidupan sosial, sekaligus menanamkan nilai-nilai keagamaan.

Salah satu perhatian itu terlihat di Desa Liang, Kecamatan Teluk Elpaputih. Di desa tersebut, masyarakat sebelumnya masih menggunakan masjid lama yang dinilai tidak lagi representatif untuk menampung jamaah. Kondisi itu semakin terasa ketika pelaksanaan salat Jumat maupun salat Idulfitri dan Iduladha.

Persoalan tersebut kemudian menjadi aspirasi yang dibawa Eka sejak masa kampanye Pemilu 2024.

Ia berjanji membantu pembangunan masjid baru. Janji itu tidak berhenti di atas panggung kampanye.

Setelah terpilih menjadi anggota DPRD Maluku Tengah, Eka mulai memperjuangkan aspirasi tersebut. Tepat sekitar satu tahun setelah dirinya terpilih, bantuan sebesar Rp450 juta dari dana aspirasi dikucurkan untuk pembangunan Masjid Al-Barkah di Desa Liang.

Pada Kamis, 2 Oktober 2025, bantuan tersebut diserahkan secara simbolis kepada imam dan panitia pembangunan masjid.

Bagi warga, bantuan itu menjadi bagian penting dari perjalanan pembangunan rumah ibadah yang mereka harapkan sejak lama.

Bagi Eka sendiri, penyerahan bantuan tersebut memiliki makna yang lebih dalam.

Ia melihatnya sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat yang telah memberikan kepercayaan dan mengantarkannya ke kursi legislatif.

“Masjid kami bangun dari nol dan alhamdulillah sampai hari ini pekerjaan sudah mencapai 90 persen. Saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat yang ada di Kecamatan Teluk Elpaputih karena negeri-negeri tetangga banyak membantu kami dalam proses pembangunan,” kata Eka.

Desa Liang bukan sekadar tempat Eka menyalurkan bantuan. Wilayah itu juga menjadi pengingat bahwa politik, menurutnya, harus memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 kepala keluarga, keberadaan rumah ibadah yang layak menjadi kebutuhan penting bagi warga.

Karena itu, bantuan pembangunan Masjid Al-Barkah diharapkan bukan hanya memperbaiki fasilitas fisik, tetapi juga menghidupkan aktivitas keagamaan dan mempererat hubungan sosial masyarakat.

“Ini adalah langkah penting dalam meningkatkan sarana ibadah kita, sekaligus memperkuat komunitas dan kegiatan keagamaan di Desa Liang,” ujar Eka.

Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan masjid tersebut dengan sebaik-baiknya.

Lebih dari sekadar tempat menjalankan ibadah, masjid diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat keimanan, membangun kebersamaan, serta menumbuhkan kepedulian antarwarga.

“Mari kita bersama-sama menjaga dan memanfaatkan fasilitas ini untuk kebaikan bersama,” tuturnya.

Di tengah kesibukan sebagai anggota legislatif, Eka juga tidak ingin perhatian terhadap rumah ibadah berhenti di Desa Liang.

Ia menegaskan, gereja dan rumah-rumah ibadah lainnya juga menjadi bagian dari tanggung jawab sosial yang ingin terus ia jalankan.

“Ini merupakan langkah awal dari saya menjadi anggota DPRD Maluku Tengah. Saya tentu akan melihat dan membantu rumah-rumah ibadah yang lain seperti gereja dan lain-lain di tahun-tahun berikutnya. Ini sebagai bentuk kerja dan pertanggungjawaban sosial saya kepada masyarakat di Dapil 1,” kata Eka.

Politik yang Berangkat dari Kepedulian

Jauh sebelum duduk di kursi DPRD, Eka mengaku telah terbiasa membantu masyarakat.

Karena itu, kepedulian sosial bukan sesuatu yang baru muncul setelah dirinya menjadi politisi.

Pengalaman sebagai pengusaha membuatnya bersentuhan langsung dengan berbagai lapisan masyarakat. Dari kelompok kecil hingga masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.

Pengalaman itu pula yang kemudian menjadi modal ketika ia memasuki dunia politik.

Eka menyadari, menjadi wakil rakyat bukan perkara memiliki kursi dan jabatan. Ada kepercayaan masyarakat yang harus dijaga.

Sebab itu, ia berulang kali menekankan pentingnya menyerap aspirasi dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat.

“Selama ini aspirasi dari warga kita selalu diperjuangkan Fraksi PKB, terutama di Dapil I dan umumnya di Maluku Tengah. Namun memang tidak bisa kita pungkiri bahwa itu juga masih belum maksimal,” ujar Eka dalam sebuah kesempatan.

Menurutnya, perjuangan politik Fraksi PKB juga diarahkan pada persoalan-persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, terutama kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan.

“Ini perjuangan-perjuangan yang harus dilakukan Fraksi PKB,” tegasnya.

Eka menyadari pekerjaan sebagai wakil rakyat bukan pekerjaan ringan.

Justru karena berat, ia berharap Fraksi PKB dapat menjalankan tugas dan fungsi legislatif secara sungguh-sungguh serta menjadi contoh dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Ini adalah tugas yang berat, tapi harus benar-benar dilaksanakan dan diwujudkan,” katanya.

Memaknai Jabatan sebagai Amanah

Ada satu hal yang menjadi pegangan Eka dalam menjalankan aktivitas sosialnya: kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.

Ia meyakini setiap bantuan dan kebaikan yang diberikan kepada orang lain pada akhirnya akan kembali kepada diri sendiri dalam bentuk yang mungkin tidak selalu dapat dilihat secara langsung.

Keyakinan itu sejalan dengan nilai yang ia pegang dari ajaran Islam, termasuk pesan dalam Surat Al-Isra ayat 7 tentang balasan atas kebaikan yang dilakukan manusia.

Ia juga berpegang pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Bukhari bahwa setiap kebaikan adalah sedekah.

Nilai tersebut menjadi alasan bagi Eka untuk tidak melihat jabatan sebagai sesuatu yang harus dinikmati sendiri.

Sebaliknya, jabatan adalah amanah yang harus dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk kerja nyata.

Dari seorang pengusaha kecil, kemudian masuk ke dunia politik tanpa latar belakang panjang di partai, Eka kini menjalani perannya sebagai wakil rakyat.

Jalannya masih panjang hingga 2029. Namun bagi perempuan yang memilih PKB sebagai kendaraan politiknya itu, ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa lama seseorang duduk di kursi dewan. Yang lebih penting adalah seberapa banyak masyarakat merasakan kehadiran wakilnya.

Dan di Desa Liang, salah satu jejak itu kini berdiri dalam bentuk Masjid Al-Barkah yang perlahan menuju penyelesaian.

Bagi Eka, mungkin itulah cara paling sederhana untuk menerjemahkan politik menjadi pengabdian: mendengar, memperjuangkan, kemudian hadir ketika masyarakat membutuhkan. (*)