Pengumuman pemenang Lomba Sayembara Logo dan Maskot Kongres XL GMKI oleh Panitia Kongres bersama Dewan Juri di Sekretariat GMKI Cabang Ambon, Rabu (8/7). (Ist)

Erasth Jansen So Jawara Sayembara Logo dan Maskot Kongres XL GMKI, Angkat Kearifan Lokal Maluku dalam Semangat Kristiani

79

Ambon, JejakInfo.id – Proses panjang pencarian identitas visual Kongres XL Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) akhirnya menemukan pemenangnya. Dari puluhan karya yang bersaing, desain milik Erasth Jansen So dinobatkan sebagai karya terbaik dalam Lomba Sayembara Logo dan Maskot Kongres XL GMKI.

Pengumuman pemenang disampaikan Panitia Kongres bersama Dewan Juri di Sekretariat GMKI Cabang Ambon, Rabu (8/7), disaksikan Wakil Sekretaris Panitia Jimmy Pieter Papilaya, ST., MT, Ketua Koordinator Divisi Humas dan Protokoler Jafri Taihuttu, SH, Wakil Sekretaris BPC GMKI Ambon Yondry Siletty, serta dua anggota Dewan Juri, yakni Seniman Maluku Dr. Hengky Sopacua, S.Pd., SH., MH dan pakar teknologi informasi Charisma Frans, S.Kom. Ada dua dewan juri yang tidak berkenan hadir dalam pengumuman hasil yakni: Ketua Panitia Kongres XL, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd dan Drs. Pelis Latuheru (Seniman).

Dalam sambutannya, Jimmy Pieter Papilaya menjelaskan bahwa Panitia Kongres XL GMKI Tahun 2027 telah dibentuk sejak Mei 2026 dengan Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd sebagai Ketua Panitia dan Pdt. Berty Latupeirissa sebagai Sekretaris.

Menurut Jimmy, penyelenggaraan Kongres XL GMKI bukan sekadar agenda organisasi, melainkan momentum untuk memperkenalkan Kota Ambon dan Provinsi Maluku sebagai laboratorium harmonisasi kehidupan sosial di Indonesia. Lebih dari itu, kongres ini juga diharapkan menjadi ruang untuk mendorong perhatian pemerintah pusat maupun publik nasional terhadap berbagai kebutuhan percepatan pembangunan di Maluku.

Karena itu, Panitia berkepentingan memperkenalkan agenda besar Kongres XL GMKI kepada masyarakat Ambon, Maluku hingga Indonesia. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menggelar sayembara logo dan maskot sebagai bentuk sosialisasi sekaligus membuka ruang partisipasi publik dalam menyukseskan pelaksanaan kongres.

"Lomba ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan keterlibatan masyarakat dalam mendukung agenda besar GMKI," ujar Jimmy.

Ia menjelaskan, sayembara dibuka sejak 15 Juni hingga 30 Juni 2026 dan berhasil menarik minat 28 peserta yang mengirimkan karya terbaik mereka.

Untuk menjaga independensi dan kredibilitas penilaian, seluruh karya diserahkan kepada dewan juri tanpa mencantumkan identitas peserta.

"Panitia hanya menyampaikan dokumen desain logo dan maskot kepada dewan juri tanpa diketahui nama pesertanya. Hal ini dilakukan agar proses penilaian berlangsung objektif dan dapat dipertanggungjawabkan," jelasnya.

Jimmy menambahkan, seluruh keputusan pemenang sepenuhnya berada di tangan dewan juri yang melakukan penilaian berdasarkan parameter yang terukur.

Atas nama Panitia Kongres XL GMKI, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Divisi Humas dan Protokoler yang dinilai mampu bekerja efektif dalam waktu kurang dari satu bulan hingga seluruh tahapan sayembara dapat berjalan dengan baik.

Ia mengungkapkan, dalam waktu dekat logo dan maskot terpilih akan segera diluncurkan secara resmi oleh Pengurus Pusat GMKI.

Tak lupa Jimmy mengucapkan terima kasih kepada seluruh 28 peserta yang telah berpartisipasi, dewan juri yang bekerja secara profesional, serta insan pers yang selama ini menjadi mitra dalam memberitakan seluruh rangkaian persiapan menuju Kongres XL GMKI Tahun 2027 di Kota Ambon.

Logo Kongres XL GMKI

Sementara itu, Ketua Dewan Juri, Dr. Hengky Sopacua menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara menyeluruh dan terbagi dalam dua kategori utama, yakni kemampuan mendesain secara manual serta identifikasi apakah karya dibuat murni oleh desainer atau menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Menurutnya, salah satu anggota dewan juri memiliki keahlian khusus di bidang teknologi informasi sehingga mampu menilai aspek penggunaan AI dalam setiap karya yang masuk.

Selain itu, dewan juri menetapkan empat aspek utama dalam penilaian, yaitu kesesuaian, originalitas, tampilan, dan filosofi kedaerahan.

Pada aspek kesesuaian, juri menilai sejauh mana seorang desainer mampu menerjemahkan kebutuhan penyelenggara, yakni menghadirkan identitas visual yang benar-benar mencerminkan Kongres XL GMKI sebagai organisasi yang bernafaskan nilai-nilai Kristiani.

Aspek originalitas menjadi perhatian penting. Dewan juri menginginkan karya yang lahir dari kreativitas dan talenta para desainer, bukan sekadar mengandalkan teknologi AI.

Maskot Kongres XL GMKI

"Di zaman sekarang AI saja tidak cukup. Karya-karya anak bangsa yang lahir dari talenta memiliki nilai yang sangat luar biasa," ujar Hengky.

Selanjutnya pada aspek tampilan, dewan juri menilai bagaimana setiap peserta menafsirkan gagasan visual melalui pendekatan desain yang utuh dan memiliki daya tarik artistik.

Sedangkan pada aspek filosofi kedaerahan, setiap karya harus mampu menghadirkan identitas Maluku melalui simbol-simbol lokal yang mudah dipahami masyarakat.

"Maskot merupakan ikon atau identitas Kongres XL GMKI. Karena itu harus didasarkan pada potensi daerah dan kearifan lokal Maluku," tegas Hengky.

Ia mengakui seluruh karya yang masuk memiliki kualitas yang baik. Bahkan dari 28 peserta terdapat sedikitnya 10 karya yang dinilai sangat layak menjadi pemenang.

"Semua karya bagus. Tetapi dalam sebuah perlombaan hanya ada satu yang menjadi terbaik dari yang terbaik," katanya.

Berdasarkan hasil penilaian akhir, Erasth Jansen So berhasil meraih nilai tertinggi, yakni 87, sekaligus keluar sebagai pemenang Sayembara Logo dan Maskot Kongres XL GMKI, dan meraih bonus sebesar Rp5 juta.

Dalam desain logonya, Erasth memadukan berbagai simbol yang merepresentasikan identitas Maluku dan semangat Kristiani. Logo tersebut menampilkan Perahu Belang, Baileo, kekayaan budaya Maluku (Culture of Mollucas), serta simbol Salib yang memancarkan cahaya sebagai representasi kekuatan iman dan semangat pelayanan.

Sementara itu, maskot yang diberi nama Burung Nuri Raja digambarkan sedang menabuh tifa sebagai simbol suara perdamaian dari Tanah Maluku. Sosok sang raja yang berdiri sambil memainkan tifa menghadirkan pesan tentang kepemimpinan, persaudaraan, serta kesiapan masyarakat Maluku menyambut pelaksanaan Kongres XL GMKI Tahun 2027.

Maskot tersebut juga merepresentasikan seorang pemimpin yang siap menyatukan seluruh potensi GMKI di Maluku maupun di seluruh Indonesia dalam semangat damai, persaudaraan, dan pelayanan. (ji1)