Festival dan Pameran Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara resmi digelar, Senin (27/4). (Ist)

Festival Pendidikan Maluku Tenggara: Dari Panggung Kreativitas Siswa hingga Denyut Ekonomi Lokal

5

Langgur, JejakInfo.id — Lapangan Upacara Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara berubah wajah. Bukan sekadar ruang seremonial, melainkan panggung hidup tempat ide, bakat, dan harapan bertemu dalam satu perayaan. Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dibuka dengan Festival dan Pameran Pendidikan, Senin (27/4), menghadirkan suasana yang jauh dari kesan formal, lebih mirip perayaan karya dan kolaborasi.

Sejak pagi, deretan stan dipenuhi karya siswa: kerajinan tangan, produk olahan, hingga inovasi sederhana yang lahir dari ruang kelas. Di sisi lain, panggung pertunjukan tak pernah sepi. Tarian tradisional, vokal, hingga nyanyian adat bergantian mengalun, menegaskan bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga ruang tumbuhnya identitas dan keberanian berekspresi.

Wakil Bupati Maluku Tenggara, Charlos Viali Rahantoknam, melihat lebih dari sekadar festival tahunan. Ia menyebut kegiatan ini sebagai potret nyata perubahan cara pandang terhadap pendidikan. Sekolah, menurutnya, telah berkembang menjadi ruang yang mampu mengasah bakat menjadi sesuatu yang bernilai nyata.

“Karya-karya siswa hari ini menunjukkan bahwa kreativitas bisa menjadi kekuatan ekonomi,” ujarnya di tengah keramaian pengunjung.

Yang menarik, festival ini tidak berdiri sendiri. Pelaku UMKM dan Tim PKK turut ambil bagian, membuka ruang interaksi langsung antara siswa dan dunia usaha. Di sinilah pelajaran kewirausahaan tidak lagi sebatas teori di buku, melainkan pengalaman nyata: melihat, belajar, dan bahkan terlibat dalam proses ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Rahantoknam menekankan bahwa pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Keterlibatan berbagai pihak, termasuk dunia usaha, menjadi kunci. Baginya, mendidik anak adalah kerja bersama, bukan tugas satu institusi semata.

Nada serupa datang dari Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Maluku Tenggara, Bin Raudah Arif Hanoeboen. Ia menyebut festival ini sebagai panggung pembuktian, tempat hasil pembinaan di sekolah tampil ke publik. Bukan sekadar unjuk bakat, tetapi juga cermin proses panjang yang berlangsung di balik layar pendidikan.

Festival ini akan berlangsung hingga Jumat, dengan puncak acara pada Sabtu, 2 Mei 2026. Tema busana Nusantara dipilih sebagai penutup, menghadirkan warna-warni budaya dalam satu peragaan yang merangkum semangat keberagaman.

Menariknya, peringatan Hardiknas tahun ini juga memberi ruang khusus bagi peran keluarga. Tema parenting diangkat untuk mengingatkan bahwa pendidikan tidak berhenti di sekolah. Orang tua, dengan segala perannya, menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter anak.

Di sela-sela pertunjukan dan pameran, diskusi publik digelar. Topiknya serius: transformasi pendidikan di wilayah kepulauan. Namun suasananya tetap cair, menyatu dengan semangat festival yang terbuka dan partisipatif.

Lebih dari itu, festival ini juga menghadirkan dampak nyata bagi ekonomi lokal. Stan-stan UMKM ramai dikunjungi, transaksi terjadi, dan produk lokal mendapat panggung yang layak.

Pada akhirnya, festival ini bukan hanya perayaan pendidikan. Ia adalah pertemuan banyak kepentingan: sekolah, keluarga, pelaku usaha, dan masyarakat yang bergerak dalam satu irama. Dari Langgur, pesan itu mengalir jelas: pendidikan yang kuat lahir dari kolaborasi, dan masa depan daerah dibangun dari sana. (ji4)