Gerakan Ayah Antar Anak ke Sekolah Jadi Momentum Bangun Karakter Generasi Maluku, Disdikbud Dukung Penuh Program BKKBN

18

Ambon, JejakInfo.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Maluku menyatakan dukungan penuh terhadap program Gerakan Ayah Antar Anak ke Sekolah yang digagas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program ini dinilai bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah nyata memperkuat peran ayah dalam tumbuh kembang anak, terutama pada hari-hari penting di lingkungan pendidikan.

Hari pertama sekolah bukan sekadar awal dimulainya proses belajar mengajar. Di balik langkah kecil seorang anak menuju gerbang sekolah, tersimpan momen berharga yang mampu membentuk rasa percaya diri, menghadirkan ketenangan, sekaligus mempererat ikatan emosional antara anak dan orang tua, khususnya ayah.

Semangat itulah yang diusung dalam Gerakan Ayah Antar Anak ke Sekolah yang digagas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Maluku karena dinilai menjadi bagian penting dalam membangun karakter, kesehatan mental, dan masa depan generasi muda.

Kepala Disdikbud Provinsi Maluku, Dr. Salota Singerin, M.Pd, menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berbicara tentang ruang kelas, kurikulum, atau capaian akademik. Anak-anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan kehadiran orang tua sebagai fondasi utama dalam proses tumbuh kembang mereka.

"Kehadiran ayah saat mengantar anak ke sekolah bukan sekadar rutinitas pagi. Itu adalah bentuk dukungan emosional yang membuat anak merasa dihargai, dicintai, terlindungi, dan lebih siap menghadapi aktivitas belajar. Karena itu kami mendukung penuh program BKKBN ini," ujar Singerin.

Sebagai bentuk komitmen, Disdikbud Maluku telah menyiapkan lima sekolah sebagai sekolah percontohan (role model). Namun pelaksanaan Gerakan Ayah Antar Anak ke Sekolah dilakukan secara serentak di seluruh kabupaten dan kota di Maluku pada hari pertama masuk sekolah.

Ribuan ayah terlihat mengantar putra-putri mereka ke sekolah. Momen tersebut diabadikan melalui dokumentasi video sebagai simbol kepedulian dan dedikasi seorang ayah terhadap pendidikan anak. Bagi Disdikbud, gerakan ini bukan hanya menciptakan suasana hangat di lingkungan sekolah, tetapi juga mengirim pesan kuat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga dan sekolah.

Lebih dari itu, Disdikbud Maluku juga menyambut baik lahirnya program Ayah Wira, sebuah inovasi yang dihadirkan untuk memastikan tidak ada anak yang merasa kehilangan figur ayah di lingkungan sekolah.

Program tersebut memberi ruang kepada guru maupun unsur komite sekolah untuk menjadi sosok pendamping, motivator, sekaligus tempat berbagi bagi peserta didik yang tumbuh tanpa kehadiran ayah atau mengalami minimnya peran ayah dalam kehidupan sehari-hari.

Singerin menjelaskan, Ayah Wira bukanlah pengganti orang tua. Program ini justru menjadi wadah edukatif yang menghadirkan figur inspiratif di sekolah sehingga anak-anak tetap memperoleh dukungan moral, motivasi, serta bimbingan dalam koridor pendidikan yang diatur melalui standar operasional yang ketat.

Menurutnya, tidak sedikit anak yang tumbuh dalam kondisi lost father, baik karena kehilangan ayah maupun karena ayah tidak menjalankan perannya secara optimal. Situasi tersebut sering kali berdampak pada kondisi psikologis anak, mulai dari menurunnya rasa percaya diri, kesulitan beradaptasi, hingga rendahnya semangat belajar.

"Karena itu sekolah harus hadir sebagai ruang yang aman. Anak-anak harus merasa bahwa masih ada sosok yang mendengar mereka, memberi motivasi, dan mendorong mereka untuk terus berprestasi," katanya.

Singerin meyakini kolaborasi antara BKKBN dan dunia pendidikan menjadi langkah strategis dalam membangun generasi Maluku yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, emosional, dan karakter.

"Kalau anak merasa dicintai, dihargai, dan didampingi sejak dari rumah hingga di sekolah, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, lebih berani bermimpi, dan lebih siap menghadapi masa depan. Itulah tujuan besar dari gerakan ini," tandasnya. 

Singerin berharap kolaborasi antara BKKBN dan dunia pendidikan mampu memperkuat pendidikan karakter di Maluku. Baginya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi juga oleh dukungan keluarga dan lingkungan yang mampu membentuk anak menjadi pribadi yang percaya diri, tangguh, serta siap meraih masa depan. (ji2)

1 Menyukai postingan ini