-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026




Ambon, JejakInfo.id – Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menghadiri penahbisan Majelis Pekerja Harian Sinode Gereja Protestan Maluku (MPH GPM) masa pelayanan 2025-2023.
Proses penahbisan berlangsung dalam kebaktian Minggu (26/10), sore, di Gereja Maranatha, Sirimau, Kota Ambon.
Gubernur menegaskan, momen mulia ini bukan sekadar seremonial administrasi gereja sebagai sebuah organisasi. "Ini adalah peristiwa iman, peristiwa rohani yang mengingatkan kita bahwa kepemimpinan dalam gereja bukan hasil ambisi manusia, tetapi panggilan dari Allah sendiri," ucapnya.
Ia pun mengutip pesan firman dalam Yesaya 6 ayat 8–“lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku? maka aku menjawab: Ini aku, utuslah aku”.
"Dalam pemahaman kami, ayat ini menggambarkan hakikat seorang pemimpin rohani, bukan orang yang mencari posisi, tetapi orang yang menjawab panggilan kudus," ingatnya.
Atas nama pemerintah provinsi dan seluruh rakyat Maluku, Gubernur menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Bapak-Ibu telah memimpin gereja ini dengan ketulusan dan keteguhan, melewati masa-masa yang tidak mudah: Pandemi Covid-19, masa transformasi sosial yang rentan dengan konflik, tekanan dan krisis ekonomi, serta dinamika digitalisasi dan masyarakat yang berubah cepat. Namun di tengah itu semua, GPM tetap tegak berdiri sebagai gereja yang setia, melayani umat, dan menjadi mitra pemerintah dalam menjaga kehidupan sosial dan moral masyarakat maluku.
"Kami percaya, jejak pengabdian bapak-ibu tidak akan hilang, dia akan tetap hidup dalam hati umat, dalam karya gereja, dan dalam catatan kasih Tuhan sendiri," ucapnya.
Hari ini, sebut Gubernur, umat menyaksikan serah terima dari satu periode pelayanan ke periode yang baru. Dalam dunia pemerintahan, serah terima biasanya berisi laporan, program, dan dokumen. Tetapi di gereja, lebih dari kepentingan berorganisasi, ini adalah pewarisan spiritualitas, doa, ketaatan dan roh pelayanan.
"Kepada MPH Sinode GPM periode 2025–2030, saya ingin mengucapkan selamat melayani. Tuhan tidak memanggil orang yang sempurna, tetapi menyempurnakan orang yang ia panggil," serunya.
Gubernur mengingatkan, MPH yang baru akan memimpin gereja ini menuju dekade penting menjelang satu abad GPM tahun 2035. Itu berarti bukan hanya melanjutkan pelayanan, tetapi juga bertanggung jawab menentukan arah bergereja memasuki abad baru pelayanan GPM.
Ia pun meminjam pesan tokoh revolusioner, mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela–“Jika kamu ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Tetapi jika kamu ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama”.
Karena itu, Gubernur menitipkan 3 pesan penting bagi MPH yang baru: Pertama; perkuat visi gereja transformatif. GPM harus terus mengembangkan diri sebagai gereja transformatif, yang tidak hanya memberitakan kabar baik, tetapi juga menjadi kabar baik itu sendiri. Dalam masyarakat yang masih berjuang melawan kemiskinan, keterbelakangan, dan konflik sosial, gereja dipanggil untuk hadir sebagai agen perubahan, membawa nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan damai.
"GPM dengan basis umat yang luas di seluruh Maluku, bahkan sampai ke Maluku Utara, memiliki kekuatan sosial yang luar biasa. Gunakan kekuatan itu untuk memperjuangkan pendidikan yang bermutu, ekonomi jemaat yang mandiri, dan lingkungan hidup yang lestari," ingatnya di pesan awal.
Kedua, lanjut Gubernur, bangun gereja yang inovatif dan responsif. Gereja tidak boleh alergi terhadap inovasi. Zaman ini menuntut pelayanan yang kreatif dan responsif terhadap realitas baru–pelayanan digital, pembinaan iman anak dan remaja secara daring, pemanfaatan media sosial untuk pekabaran injil, serta pendekatan pastoral yang kontekstual.
"Inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi menyegarkan cara kita melayani. Kalau Tuhan hadir di tengah dunia, maka gereja pun harus berani turun ke lapangan, ke dunia nyata, ke ruang-ruang digital di mana umat hidup, terutama anak-anak muda dalam berkomunikasi dan berinteraksi," ingatnya.
Ketiga, tambah Gubernur, teruslah menjaga spirit kemitraan. Gereja dan pemerintah sesungguhnya berjalan di jalan yang sama, jalan pelayanan.
"Kita melayani manusia dalam dimensi yang berbeda, tapi dengan hati yang sama. Gereja juga mesti menjaga kemitraan dengan agama-agama lain, bahkan dengan semua stakeholder di daerah dalam berbagai bidang seperti: pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, keamanan, pembinaan generasi muda, pertanian, perkebunan, perikanan dan masih banyak lagi. Semua itu adalah modal sosial yang mesti di elaborasi secara bijak," tandasnya.
Akhirnya selamat mengemban amanat besar ini. Berlayarlah dengan kompas kasih, kendalikan arah pelayanan dengan hati yang berhikmat, dan percayalah bahwa tuhan yesus sendiri adalah nakhoda gereja ini.
Seorang Martin Luther King Jr. mengatakan: “Ukuran sejati seorang pemimpin bukanlah di saat kenyamanan, tetapi di saat menghadapi tantangan dan kontroversi.”
"Biarlah sidang yang telah berlalu dan peneguhan hari ini menjadi tonggak pembaharuan rohani dan komitmen pelayanan baru, agar GPM semakin teguh menjadi gereja yang melayani dengan kasih, berpikir strategis, dan bertindak profetis," pungkasnya.
Penahbisan MPH dan MP MPH Sinode GPM masa pelayanan 2025-2030 berlangsung dalam kebaktian yang dipimpin Pendeta Elifas Tomix Maspaitella.
Dalam khotbahnya Pendeta Maspaitella menegaskan bahwa sejatinya proses yang baru terjadi, bukan bagian dari hukum balas jasa, melainkan karena kasih Allah yang menuntun. Kasih yang tulus, kasih yang memberi.
Bagi Paulus di dalam kesusahan, Tuhan memberinya kekuatan lewat pemberian umat. Karena itu wujud partisipasi warga gereja dalam pekerjaan Allah melalui pemberian haruslah dihargai oleh seluruh pelayan gereja. Sebab, mereka (umat) tahu bahwa dengan melayani Tuhan, dengan memberi bagi pekerjaan pelayanan itu bentuk iman yang nyata. Tidak ada yang sia-sia. Tidak ada yang berkekuarangan. Merasakan apa yang jemaat rasakan. Kerendahan hati dan kesederhanaan.
"Kita hidup dari kolekta kita hidup dari upah janda miskin. Itu modal spiritual kita (Pendeta) hidup di tengah-tengah umat. Tidak usah memperhitungkan apapun melainkan mengukur kadar iman kita untuk tetap ada bersama, mendengar dan merasakan apa yang umat rasakan. Kasih jemaat itulah yang menyanggupkan kita untuk terus ada dan melayani pekerjaan pelayananNya," tutup Pendeta Maspaitella.
Turut hadir ex Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, Uskup Diosis Amboina Mgr Seno Inno Ngutra, Ketua Walubi Maluku Welhelmus Jauwerissa, Rektor IAKN Ambon Yance Rumahuru, para pejabat akademik UKIM, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, Ketua DPRD Kota Ambon Morits Libreght Tamaela, perwakilan GPM di Belanda, Anggota DPRD Maluku Anos Yermias, beberapa pimpinan OPD lingkup Pemprov Maluku, para pelayan dan umat. (ji1)



