-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Ambon, JejakInfo.id — Menjelang perayaan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru), Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Panca Karya mulai memperketat persiapan armada kapal. Lonjakan penumpang yang diperkirakan terjadi pada akhir tahun menjadi perhatian serius manajemen, terutama untuk memastikan konektivitas transportasi laut antarpulau di Maluku tetap berjalan lancar.
Persiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Maluku dan sejumlah pemangku kepentingan terkait di kantor Dishub Maluku, pekan lalu.
Direktur Utama Perumda Panca Karya, Muhammad Rany Tualeka, menegaskan bahwa perusahaan siap mendukung arahan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa untuk mengoptimalkan pelayanan transportasi laut selama periode Nataru.
Menurutnya, pelayanan kepada masyarakat tidak boleh terganggu hanya karena meningkatnya kebutuhan perjalanan pada momentum hari besar keagamaan dan pergantian tahun. Karena itu, kesiapan kapal, jadwal pelayaran hingga pemenuhan standar keselamatan menjadi perhatian utama.
"Pelayanan Nataru menjadi agenda utama dan perhatian serius operator. Hukumnya wajib bagi kami untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, kesiapan armada menjadi perhatian penting," tegas Tualeka di Ambon, Senin (2/11/2026).
Sejumlah kapal telah dipersiapkan untuk mendukung pelayanan tersebut, di antaranya KM Bandaleon, KM Tanjung Kuako, KM Tatihu dan beberapa armada lainnya yang disesuaikan dengan jadwal operasional masing-masing.
Namun, persiapan itu bukan tanpa tantangan. Manajemen harus memperhitungkan jadwal perawatan atau docking sejumlah kapal yang waktunya berdekatan dengan periode Nataru.
Kondisi ini membutuhkan pengaturan yang cermat agar kepentingan perawatan kapal tidak sampai mengorbankan kebutuhan masyarakat terhadap transportasi laut.
Tualeka mengatakan, perhatian khusus diberikan kepada kapal-kapal yang melayani lintasan strategis, seperti penyeberangan Hunimua-Waipirit serta sejumlah jalur subsidi, di antaranya Ambon-Waisala, Teluk Bara, Manipa, Namlea dan wilayah sekitarnya.
Lintasan tersebut merupakan jalur penting bagi mobilitas masyarakat Maluku. Keterlambatan atau terganggunya pelayanan dapat berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, perjalanan keluarga hingga distribusi kebutuhan masyarakat.
"Kami terus melakukan koordinasi untuk memastikan kesiapan kapal, termasuk mengatur jadwal operasional dan perawatan agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu," ujarnya.
KMP Banus Belum Kembali Beroperasi
Di tengah persiapan menghadapi Nataru, persoalan belum beroperasinya kapal Bahtera Nusantara (Banus) turut menjadi perhatian.
Tualeka menjelaskan, kondisi mesin kapal tersebut sebenarnya sudah dinyatakan bersih dan tidak mengalami persoalan teknis berarti. Namun, Banus belum bisa kembali beroperasi karena telah memasuki kewajiban menjalani docking.
Ia mengungkapkan, jadwal perawatan yang sebelumnya tertunda sejak Agustus membuat manajemen harus kembali mengatur waktu pelaksanaan docking.
"Untuk Banus, secara engine sudah clear and clean. Hanya persoalannya, kapal ini memang sudah waktunya naik docking. Jadwal docking sebelumnya tertunda sejak Agustus, sehingga sekarang harus disesuaikan kembali," jelasnya.
Tualeka menegaskan, docking bukan sekadar agenda perawatan rutin, melainkan kewajiban yang berkaitan langsung dengan keselamatan dan kelayakan kapal untuk beroperasi.
Karena itu, Panca Karya tidak ingin memaksakan pengoperasian Banus sebelum seluruh kewajiban perawatan dipenuhi. Manajemen kini berupaya menyesuaikan jadwal docking dengan mempertimbangkan kondisi teknis kapal serta kemampuan keuangan perusahaan.
Persoalan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Panca Karya. Di satu sisi, perusahaan harus memastikan seluruh armada memenuhi standar keselamatan. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap transportasi laut menjelang Nataru juga semakin mendesak.
Tualeka berharap koordinasi dengan Dishub dan seluruh pihak terkait dapat menghasilkan pengaturan operasional yang tepat, sehingga pelayanan transportasi laut di Maluku tetap berjalan maksimal.
"Ini menjadi perhatian manajemen. Kami akan berupaya mengatur semuanya sesuai kemampuan perusahaan, tetapi keselamatan pelayaran dan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi hal yang harus diperhatikan," pungkasnya.
Bagi masyarakat Maluku yang tersebar di berbagai pulau, kesiapan armada Panca Karya bukan sekadar urusan operasional perusahaan. Lebih dari itu, ketersediaan kapal menjadi penentu kelancaran perjalanan masyarakat untuk merayakan Natal bersama keluarga maupun menyambut Tahun Baru di kampung halaman. (ji6)

