-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Ambon, JejakInfo.id — Tensi politik Partai Demokrat Maluku mulai memanas menjelang Musyawarah Daerah (Musda). Sejumlah nama disebut-sebut berpotensi masuk dalam bursa perebutan kursi Ketua DPD Partai Demokrat Maluku, salah satunya politisi muda Halimun Saulatu.
Nama Halimun bukan pendatang baru dalam percaturan politik Maluku. Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang pengkaderannya di Makassar itu dikenal tenang, low profile, namun memiliki jaringan organisasi yang luas itu kini berada dalam radar kader Demokrat untuk menahkodai partai berlambang bintang mercy tersebut.
Jauh sebelum terjun ke politik praktis, Halimun telah menghabiskan banyak waktunya dalam aktivitas organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan.
Pengalamannya di lingkungan organisasi, termasuk kiprahnya di lingkaran DPD KNPI Maluku, menjadi modal penting ketika ia memutuskan masuk ke dunia politik.
Partai Demokrat kemudian menjadi kendaraan politik yang dipilihnya.
Dari kawasan jazirah Leihitu-Salahutu, Halimun berhasil merebut kepercayaan masyarakat hingga mengantarkannya ke Baileo Rakyat Pamahanunusa sebagai anggota DPRD Maluku Tengah periode 2009—2014.
Di lembaga legislatif, kesempatan itu tidak disia-siakannya. Ia berupaya menjalankan fungsi sebagai wakil rakyat sekaligus membangun komunikasi politik dengan berbagai elemen masyarakat.
Halimun kemudian dipercayakan kembali menduduki kursi parlemen Maluku Tengah untuk periode kedua 2014—2019.
Ketika periode politik tersebut berakhir. Dan dirinya memilih naik kelas ke DPRD Provinsi Maluku, nasib berkata lain. Ia hanya finis di posisi runner-up dalam kontestasi berikutnya.
Halimun tidak memilih meninggalkan panggung politik. Ia justru bertahan di tengah dinamika politik internal. Alhasil, perjalanan politik kemudian kembali membawanya ke Baileo Rakyat Karang Panjang. Halimun dipercaya menduduki kursi wakil rakyat melalui mekanisme Pengganti Antarwaktu (PA) sebagai anggota DPRD Maluku periode 2019—2024.
Kesempatan itu kembali dimanfaatkannya untuk memperkuat pengalaman sekaligus jaringan politiknya.
Setelah periode tersebut berakhir, Halimun kembali mendapatkan mandat masyarakat. Ia terpilih sebagai anggota DPRD Maluku periode 2024—2029 dari daerah pemilihan Maluku Tengah dan kini dipercaya menduduki posisi Ketua Fraksi Partai Demokrat.
Posisi tersebut menjadi salah satu indikator penting dari perjalanan politiknya di internal partai.
Kini, ketika Musda Partai Demokrat Maluku mulai mendekat, nama Halimun kembali mencuat. Bukan semata karena posisinya sebagai Ketua Fraksi, tetapi juga karena rekam jejak organisasi, pengalaman legislatif, serta komunikasi politiknya dengan kader di berbagai tingkatan.
Demokrat Butuh Energi Baru
Dengan karakteristik Maluku sebagai daerah kepulauan yang luas dan memiliki tantangan geografis tersendiri, kepemimpinan partai politik membutuhkan figur yang tidak hanya memiliki kemampuan komunikasi di tingkat elite, tetapi juga mampu menjangkau kader hingga ke daerah.
Di titik inilah Halimun dinilai memiliki keunggulan. Pengalamannya dalam organisasi kepemudaan, dunia legislatif dan struktur politik Demokrat membuatnya relatif memahami dinamika internal partai sekaligus persoalan yang dihadapi masyarakat di berbagai daerah.
Kedekatan dengan sejumlah kader, khususnya di tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC), juga menjadi modal politik yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Apalagi saat ini dia dipercayakan oleh Ketua DPD Elwen Roy Pattiasina sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPC Partai Demokrat Maluku Tengah.
Musda pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang paling kuat secara politik, tetapi siapa yang mampu meyakinkan pemilik suara bahwa dirinya sanggup membawa Demokrat Maluku menghadapi pertarungan politik yang semakin kompetitif.
Sebab sesungguhnya penentuan Ketua DPD tidak hanya ditentukan oleh pimpinan cabang, melainkan diskresi dan kewenangan Ketua Umum DPP Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Karena itu komunikasi ke tingkat pusat yang mesti lebih diintensifkan.
Halimun tampaknya menyadari betul hal itu. Karena itu, komunikasi politik secara perlahan terus dibangun. Ia tidak ingin bergerak secara terburu-buru, namun juga tidak menutup pintu jika mendapatkan mandat dari kader, serta membangun jejaring di level pusat.
“Musda memang masih jauh, tapi Insyaallah, saya siap,” kata Halimun saat dihubungi JejakInfo.id melalui telepon selulernya, Minggu (23/8/2026).
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa dirinya tidak sekadar menjadi nama yang disebut-sebut dari luar arena. Halimun mulai membuka ruang untuk bertarung jika mendapatkan dukungan dari pemilik suara dalam Musda.
Obsesi merebut kursi yang akan ditinggalkan Elwen Roy Pattisina pun disebut bukan sekadar ambisi personal.
Konsolidasi dan komunikasi dengan sejumlah kader terus dilakukan. Namun Halimun memilih tidak mengklaim dukungan sebelum proses politik internal benar-benar berjalan.
“Ya, untuk saat ini komunikasi masih cair. Saya serahkan sepenuhnya ke pimpinan cabang. Jika amanah itu diberikan, maka saya akan berjuang bersama membesarkan partai dan merebut kejayaan di Maluku,” tandasnya.
Sejatinya, sebut Halimun, tantangan terbesar Partai Demokrat kedepan adalah bukan sekadar memenangkan Pemilu, tapi memangkas kembali hati rakyat. Karena partai yang besar bukan memiliki banyak kursi, tapi memiliki akar yang kuat di tengah masyarakat.
Ia mengajak, kader Partai Demokrat agar tetap solid di tengah dinamika politik lokal maupun nasional. Hadir di tengah-tengah masyarakat sampai ke desa-desa dan pulau-pulau, serta berjuang secara nyata untuk kepentingan masyarakat Maluku.
"Demokrat Maluku harus berubah dari partai yang hanya dikenal saat Pemilu, menjadi partai yang hadir setiap hari dalam kehidupan rakyat. Kita tidak boleh hanya datang meminta suara, tapi harus datang membawa perjuangan dan solusi," tutup Halimun.
Sikap tersebut justru memperlihatkan gaya politik Halimun yang selama ini dikenal tenang. Ia tidak banyak mengumbar manuver, tetapi perlahan membangun jejaring.
Musda Partai Demokrat Maluku nantinya akan menjadi panggung untuk menguji seberapa kuat modal politik tersebut.
Apakah Halimun Saulatu mampu mengubah dukungan dan jaringan yang selama ini dibangunnya menjadi tiket menuju kursi Ketua DPD Partai Demokrat Maluku? Jawabannya akan ditentukan sepenuhnya oleh Ketum AHY.
Namun satu hal mulai terlihat: Halimun tidak lagi sekadar nama dalam percakapan politik Demokrat Maluku. Ia mulai masuk dalam arena perebutan kepemimpinan partai. (ji1)

