Gubernur Hendrik Lewerissa menyerahkan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat FTPI kepada Hendrik Watubun memimpin FTPI Provinsi Maluku, Jumat (29/5). Penyerahan SK disaksikan langsung Ketum FTPI Neneng A. Tuty dan Ketua DPRD Benhur G. Watubun. (Ist)

Hendrik Watubun Resmi Pimpin FTPI Maluku, Mandat Diserahkan Gubernur di Ajang Pattimura International Big Fight 2026

38

Jakarta, JejakInfo.id – Politisi PDI Perjuangan, Hendrik Watubun, resmi menerima mandat sebagai Ketua Federasi Tinju Profesional Indonesia (FTPI) Provinsi Maluku. Penyerahan Surat Keputusan (SK) dilakukan langsung oleh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, disaksikan Ketua Umum FTPI Neneng A. Tuty, dalam pembukaan ajang Pattimura International Big Fight 2026 di Studio Utama TVRI, Senayan, Jakarta, Jumat (29/5) malam.

Momentum penyerahan mandat tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam gelaran tinju internasional yang mempertemukan para petinju berbakat dari berbagai daerah dan negara. Sebelum menyerahkan SK kepada Hendrik Watubun, Gubernur Maluku terlebih dahulu membuka secara resmi kejuaraan yang digagas sebagai wadah pembinaan sekaligus promosi atlet-atlet tinju Maluku ke level yang lebih tinggi.

Dalam sambutannya, Hendrik Lewerissa (HL) memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bergotong royong menyukseskan penyelenggaraan Pattimura International Big Fight 2026. Menurutnya, kolaborasi antara berbagai elemen menjadi bukti nyata komitmen bersama dalam memajukan olahraga tinju di Maluku.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Maluku dan masyarakat Maluku, saya menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.

HL menilai, ajang tersebut bukan sekadar pertandingan olahraga, tetapi juga panggung untuk menunjukkan potensi besar atlet-atlet Maluku yang selama ini dikenal memiliki semangat juang tinggi.

Ia menegaskan, penggunaan nama Pattimura dalam kejuaraan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengenang seorang pahlawan nasional. Nama itu, katanya, merepresentasikan karakter masyarakat Maluku yang berani, tangguh, dan menjunjung tinggi harga diri.

“Pattimura adalah simbol keberanian dan keteguhan hati orang Maluku. Nilai-nilai itu yang ingin terus diwariskan kepada generasi muda, termasuk melalui dunia olahraga,” kata HL.

Menurutnya, semangat perjuangan Kapitan Pattimura tercermin dalam setiap petinju yang naik ke atas ring. Mereka bertanding bukan untuk menunjukkan permusuhan, melainkan mengedepankan sportivitas, disiplin, dan mental juara.

“Di atas ring inilah kita melihat lahirnya Pattimura-Pattimura muda yang bertarung dengan semangat, teknik, dan karakter kuat untuk meraih prestasi,” ujarnya.

Gubernur juga menegaskan bahwa Maluku tidak pernah kekurangan talenta di cabang olahraga tinju. Karena itu, ruang pembinaan dan kompetisi harus terus diperluas agar semakin banyak atlet yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

“Ajang ini membuktikan bahwa Maluku memiliki banyak petinju berbakat. Harapan kita, dari sini akan lahir juara-juara baru yang mampu mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia,” tuturnya.

Kepada para petinju yang bertanding, ia berpesan agar menjunjung tinggi nilai sportivitas dan menampilkan kemampuan terbaik selama pertandingan berlangsung.

“Bertandinglah dengan jiwa ksatria, tunjukkan teknik terbaik, dan tetap menjaga sportivitas sebagai warisan semangat Kapitan Pattimura,” pesannya.

Selain pertarungan di atas ring, malam pembukaan juga diwarnai aksi kepedulian terhadap pembinaan olahraga. Sebuah lukisan legenda tinju Indonesia, Elias Pical, berhasil dilelang dengan nilai Rp50 juta. Hasil lelang tersebut diserahkan untuk mendukung pembinaan olahraga tinju serta pengembangan generasi muda Maluku.

Acara ini turut dihadiri Ketua Umum FTPI Neneng A. Tuty, Ketua Umum GRIB Raya Rosario de Marshal atau Hercules, Ketua DPRD Maluku Benhur George Watubun, jajaran Direksi TVRI, Ketua Umum KKBMM Djamaludin Koedoeboen, Ketua Umum DPP Angkatan Muda Pattimura Rido Nilson D. Tutuiha, tokoh masyarakat Maluku Nikolas Johan Kilikily, para promotor, ofisial, juri, serta petinju yang ambil bagian dalam kejuaraan tersebut. (ji2)