Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun menyambangi petugas kebersihan dan membangun dialog. (Foto: Diskominfo Malra)

HUT Ke-81 RI di Maluku Tenggara Tak Harus Mewah, Hanubun: Efisiensi Bukan Alasan Matikan Nasionalisme

3

Langgur, JejakInfo.id – Merah Putih tak harus berkibar di tengah pesta yang mewah. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Maluku Tenggara justru diminta tetap menyala.

Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, mengajak masyarakat menjadikan keterbatasan anggaran sebagai ruang untuk melahirkan kreativitas. Menurutnya, kemeriahan kemerdekaan tidak selalu diukur dari besarnya biaya yang dikeluarkan, tetapi dari seberapa kuat semangat kebangsaan tumbuh di tengah masyarakat.

Pesan itu disampaikan Hanubun usai mengikuti kerja bakti bersama di kawasan Pasar Langgur, Jumat (7/8/2026).

“Efisiensi bukan berarti mematikan inovasi dan nasionalisme. Masyarakat Maluku Tenggara harus kreatif merayakan HUT ke-81 Republik Indonesia. Semangat para pahlawan harus terus kita gelorakan untuk membangun Maluku Tenggara di segala bidang,” tegas Hanubun.

Bagi Hanubun, bulan kemerdekaan bukan sekadar rangkaian acara seremonial. Lebih dari itu, Agustus harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat persatuan, gotong royong, patriotisme dan kepedulian terhadap lingkungan.

Karena itu, ia mendorong masyarakat di desa-desa untuk mengambil bagian dalam berbagai kegiatan sederhana yang dapat mempererat hubungan sosial sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap daerah dan bangsa.

Kemerdekaan Tak Hanya Dirayakan, tetapi Dihidupkan

Hanubun mengingatkan bahwa nasionalisme tidak berhenti pada upacara, perlombaan atau pemasangan atribut kemerdekaan.

Semangat kemerdekaan, kata dia, justru dapat terlihat dari hal-hal sederhana yang dilakukan masyarakat setiap hari. Menjaga lingkungan tetap bersih, bergotong royong, menghormati jasa para pahlawan, menjaga persatuan serta ikut mengambil bagian dalam pembangunan merupakan bentuk nyata mengisi kemerdekaan.

“Masyarakat harus terlibat bersama-sama. Kembangkan nilai gotong royong, nasionalisme, patriotisme, cinta tanah air, dan kerelaan berkorban demi kepentingan bangsa. Itulah semangat yang diwariskan para pendiri bangsa dan harus terus hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Untuk memastikan semangat tersebut benar-benar terasa hingga ke tingkat desa, Hanubun menyatakan akan turun langsung memantau sejumlah desa selama bulan kemerdekaan.

Ia ingin melihat bagaimana masyarakat menyambut HUT ke-81 RI, mulai dari pengibaran Bendera Merah Putih, pemasangan umbul-umbul hingga kebersihan lingkungan.

Bagi Hanubun, desa yang bersih dengan Merah Putih berkibar di setiap sudut bukan hanya memperindah suasana bulan kemerdekaan. Itu juga menjadi simbol penghormatan kepada para pejuang yang telah mengorbankan tenaga, pikiran bahkan nyawa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Merah Putih Harus Lebih Dibanggakan

Ada satu hal lain yang menjadi perhatian Hanubun: kebanggaan masyarakat terhadap simbol-simbol kebangsaan.

Ia menyinggung antusiasme masyarakat ketika menyaksikan kompetisi sepak bola internasional. Ketika pertandingan olahraga mampu membuat masyarakat begitu bangga mengibarkan bendera negara lain, menurutnya, semangat yang sama bahkan harus lebih kuat ketika memasuki bulan kemerdekaan Indonesia.

“Kalau saat Piala Dunia kita bangga mengibarkan bendera negara lain, maka pada bulan kemerdekaan ini kita harus lebih bangga mengibarkan Merah Putih di seluruh pelosok Maluku Tenggara,” ungkapnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi ajakan agar perayaan HUT ke-81 RI tidak kehilangan makna di tengah suasana efisiensi.

Kemeriahan tetap boleh hadir, tetapi tidak harus dengan kegiatan yang menghabiskan anggaran besar. Kreativitas masyarakat, menurut Hanubun, justru menjadi kekuatan utama untuk membuat bulan kemerdekaan tetap hidup.

Kerja bakti, kegiatan olahraga, perlombaan rakyat, penghiasan lingkungan, pengibaran Merah Putih hingga berbagai kegiatan sosial dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan memperkuat solidaritas.

Dari Kampung, Semangat Pembangunan Dimulai

Pada akhirnya, Hanubun ingin semangat kemerdekaan tidak berhenti setelah rangkaian perayaan Agustus berakhir.

Ia berharap nilai persatuan dan gotong royong yang tumbuh selama bulan kemerdekaan dapat dibawa ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dan menjadi energi bagi pembangunan Maluku Tenggara.

Sebab, membangun daerah kepulauan seperti Maluku Tenggara tidak hanya membutuhkan kebijakan pemerintah, tetapi juga partisipasi masyarakat.

“Semangat para pahlawan harus terus kita gelorakan untuk membangun Maluku Tenggara di segala bidang,” tegasnya.

Dengan demikian, HUT ke-81 RI di Maluku Tenggara diharapkan tidak sekadar menjadi perayaan yang meriah, tetapi menjadi pengingat bahwa kemerdekaan memiliki tanggung jawab yang harus terus diisi.

Tak perlu pesta besar untuk menunjukkan kecintaan kepada Indonesia. Cukup dengan Merah Putih yang berkibar, lingkungan yang bersih, masyarakat yang bergotong royong, dan semangat membangun daerah yang tidak pernah padam. (ji4)