-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Langgur, JejakInfo.id – Ohoi Namar, Kecamatan Manyeuw, Kabupaten Maluku Tenggara, tidak lama lagi akan memiliki sebuah penanda sejarah yang berdiri kokoh di tengah masyarakat.
Monumen Pater Yohanes Kusters SJ mulai dibangun dengan ketinggian sekitar 8 meter. Namun, bangunan ini tidak dirancang sekadar menjadi patung atau penghias kawasan. Di sekelilingnya, pemerintah bersama masyarakat menyiapkan ruang publik yang dilengkapi taman, air mancur, bangku, lampu taman hingga jalur pedestrian.
Dengan konsep tersebut, monumen diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk mengenang seorang tokoh, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk berhenti sejenak, mengenal sejarah, menikmati lingkungan, sekaligus merefleksikan nilai-nilai pelayanan dan pengabdian yang diwariskan Pater Yohanes Kusters SJ.
Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, meninjau langsung proses pembangunan monumen tersebut di Ohoi Namar, Sabtu (8/8/2026).
Saat dikunjungi, pekerjaan telah memasuki tahap pengecoran dasar. Thaher melihat langsung perkembangan pekerjaan sekaligus berdialog dengan para donatur dan pekerja yang terlibat dalam pembangunan.
Bagi Thaher, pembangunan monumen ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar menghadirkan sebuah bangunan baru.
“Pembangunan ini bukan hanya soal mendirikan sebuah monumen. Yang lebih penting adalah nilai dan keteladanan yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Thaher.
Bukan Sekadar Patung
Pater Yohanes Kusters SJ dikenang melalui semangat pelayanan yang menempatkan kasih, pendidikan, iman, dan kepedulian kepada sesama sebagai bagian penting dalam kehidupan.
Karena itu, monumen yang dibangun di Ohoi Namar diproyeksikan menjadi simbol dari semangat tersebut.
Bagi umat Katolik Paroki Namar, kehadiran monumen ini diharapkan menjadi ruang untuk mengenang perjalanan pelayanan sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai yang pernah ditanamkan melalui pengabdian kepada masyarakat.
Pesan itu menjadi penting karena sebuah monumen tidak akan memiliki arti apabila hanya berhenti sebagai bangunan yang dilihat dan difoto.
Monumen justru akan menemukan maknanya ketika generasi yang datang setelahnya memahami alasan mengapa ia dibangun dan nilai apa yang hendak diwariskan.
Di titik itulah pembangunan Monumen Pater Yohanes Kusters SJ diharapkan memiliki peran sebagai media pendidikan sejarah dan nilai bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Patung Lima Meter Berdiri di Atas Pedestal
Berdasarkan desain pembangunan, kawasan monumen akan memiliki diameter sekitar 10 meter.
Patung Pater Yohanes Kusters SJ dirancang setinggi 5 meter dan ditempatkan di atas pedestal setinggi 3 meter. Jika seluruh konstruksi berdiri sesuai desain, ketinggian monumen akan mencapai sekitar 8 meter.
Patung direncanakan menggunakan material perunggu atau bronze. Sementara pedestal dibangun menggunakan beton dengan sentuhan akhir batu alam.
Kawasan sekelilingnya juga tidak dibiarkan kosong.
Tanaman hias dan paving akan memperkuat penataan kawasan. Air mancur disiapkan sebagai salah satu elemen utama, sementara lampu taman, bangku dan jalur pedestrian akan membuat kawasan monumen lebih nyaman untuk dikunjungi.
Konsep tersebut membuat monumen memiliki dua wajah sekaligus.
Di satu sisi, ia menjadi penanda sejarah dan penghormatan terhadap Pater Yohanes Kusters SJ. Di sisi lain, kawasan tersebut dipersiapkan sebagai ruang publik yang dapat digunakan masyarakat.
Sejarah yang Tidak Boleh Berhenti pada Batu dan Perunggu
Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara menilai sejarah tidak cukup hanya disimpan dalam buku atau diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sejarah juga perlu dihadirkan dalam ruang yang dapat dilihat, dikunjungi dan dikenalkan kepada anak-anak muda.
Karena itu, monumen ini diharapkan menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah bukan hanya tentang infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga ingatan kolektif masyarakat.
“Keteladanan seperti ini harus terus dihidupkan. Bukan hanya dikenang, tetapi diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pelayanan, kepedulian, gotong royong, dan penghormatan kepada sesama,” kata Thaher.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tetap relevan dalam kehidupan masyarakat Maluku Tenggara yang dikenal memiliki keberagaman sekaligus tradisi persaudaraan yang kuat.
Semangat pelayanan, kepedulian dan penghormatan terhadap sesama menjadi nilai yang dapat memperkuat kehidupan sosial masyarakat di tengah perubahan zaman.
Dari Ohoi Namar untuk Generasi Berikutnya
Pembangunan Monumen Pater Yohanes Kusters SJ juga memperlihatkan bagaimana prakarsa masyarakat yang memiliki nilai sejarah, sosial, pendidikan, budaya dan keagamaan dapat memperoleh perhatian pemerintah daerah.
Bagi masyarakat Ohoi Namar dan umat Katolik Paroki Namar, monumen ini bukan hanya sebuah proyek pembangunan.
Ia adalah upaya untuk menjaga sebuah cerita agar tidak hilang bersama waktu.
Ketika nantinya patung setinggi lima meter itu berdiri di atas pedestal tiga meter, yang diharapkan hadir bukan sekadar kemegahan fisiknya. Lebih dari itu, setiap orang yang melihatnya diharapkan memahami pesan yang dibawanya: bahwa pengabdian kepada sesama merupakan warisan yang layak dijaga.
Jika pembangunan berjalan sesuai rencana, kawasan tersebut akan menjadi ruang yang mempertemukan sejarah, iman, pendidikan nilai dan kehidupan masyarakat.
Dari Ohoi Namar, kisah tentang pelayanan Pater Yohanes Kusters SJ diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu.
Ia justru dihidupkan kembali melalui sebuah ruang yang dapat dikunjungi, dipelajari dan diwariskan kepada generasi Maluku Tenggara berikutnya. (ji4)
