-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Ambon, JejakInfo.id — Ketegangan politik menggantung di bawah rindangnya pohon beringin. Sore itu, Kamis (30/4), suasana di Sekretariat DPD I Partai Golkar Maluku, Karang Panjang, Ambon, mendadak berubah panas.
Sekitar pukul 16.05 WIT, puluhan kader Partai Golkar Kota Ambon berbondong-bondong mendatangi kantor partai. Bukan untuk merayakan konsolidasi, melainkan menuntut jawaban.
Nama Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menjadi pusat sorotan. Keputusan mendadak menghentikan Musyawarah Daerah (Musda) X Golkar Kota Ambon memicu gelombang kekecewaan. Padahal, menurut para kader, seluruh tahapan berjalan mulus, tanpa riak berarti.
Informasi yang beredar di internal menyebutkan, penghentian itu berawal dari komunikasi langsung Ketua Umum kepada Ketua Harian DPD I Golkar Maluku, Ridwan Rahman Marasabessy. Namun hingga kini, alasan di balik keputusan tersebut masih gelap. Tidak ada penjelasan resmi, baik dari Ridwan maupun Ketua DPD Golkar Maluku, Umar Ali Lessy.
Kondisi semakin janggal ketika rangkaian acara pembukaan Musda diwarnai insiden tak terduga. Perwakilan Pemerintah Kota Ambon yang hendak menyampaikan sambutan Wali Kota, Bodewin Wattimena, tiba-tiba meninggalkan lokasi sesaat setelah prosesi penyambutan. Kepergian mendadak itu menambah tanda tanya di benak para peserta.
Di tengah situasi yang membingungkan, para kader memilih bergerak. Hampir 40 orang merangsek masuk kantor DPD I, mendesak kejelasan. Mereka diterima Sekretaris DPD I, Anos Yermias, namun dialog yang terjadi justru memperlihatkan akumulasi kekecewaan yang tak lagi terbendung.
Suara pertama datang dari Ketua AMPG, Hengki Hiskia. Dengan nada kecewa, ia mempertanyakan mengapa skorsing tak kunjung dicabut hingga sore hari. “Semua tahapan sudah berjalan baik. Kami ini peserta Musda, pemilik suara. Sangat disayangkan jika ini terus berlarut tanpa alasan jelas,” ujarnya.
Nada serupa disampaikan Lucky Sopalatu. Ia menilai penghentian Musda justru bertentangan dengan semangat demokrasi yang selama ini dijunjung Partai Golkar.
“Kalau tidak ada konflik, kenapa harus dihentikan? Ini tidak mencerminkan ruh partai,” katanya tegas.
Kekecewaan bahkan berkembang menjadi kecurigaan. Sejumlah kader mulai mempertanyakan apakah kekacauan ini sengaja diciptakan.
“Kalau memang mau dibuat kacau, katakan saja. Jangan ambil keputusan di luar nalar,” ujar salah satu kader dengan nada tinggi.
Di sisi lain, Julius Yongki Siwalette, Ketua Kecamatan Teluk Ambon, mencoba mengingatkan bahwa mereka adalah satu keluarga besar di bawah panji beringin. Namun ia tak menutupi keheranannya.
“Kita sudah masuk paripurna, semua berjalan lancar. Kenapa tiba-tiba dihentikan tanpa alasan?” ucapnya.
Kekecewaan paling tajam datang dari Leonard Leiwakabessy, Ketua Kecamatan Leitimur Selatan. Ia menyebut peristiwa ini sebagai sesuatu yang tak pernah ia bayangkan selama puluhan tahun berproses di partai.
“Partai ini katanya demokratis, tapi hari ini terlihat sebaliknya. Tidak ada kondisi darurat, tapi Musda dihentikan. Ada apa?” katanya.
Bahkan, ia secara emosional menyatakan siap meninggalkan partai jika situasi seperti ini terus dibiarkan.
Pertanyaan demi pertanyaan terus bergulir. Nathalia Pattisina dari Nusaniwe hingga Joseph Ruban dari Baguala kompak menyuarakan hal yang sama: tidak ada alasan logis untuk menghentikan Musda yang berjalan tertib.
Di tengah tekanan itu, Anos Yermias mencoba meredam situasi. Dengan nada tenang, ia meminta waktu untuk berkoordinasi lintas pengurus. “Beri kami kesempatan berkoordinasi. Kami tidak ingin kejadian seperti di daerah lain terulang di sini,” ujarnya.
Ia kemudian meminta para kader untuk kembali dan menunggu keputusan resmi, sembari menjaga situasi tetap kondusif. Namun satu hal tak bisa disembunyikan: kepercayaan telah terguncang. Di bawah simbol beringin yang selama ini menjadi tempat berteduh, para kader kini menanti bukan sekadar keputusan, tetapi juga kejelasan arah dan keadilan bagi perjuangan politik mereka.
Ditempat terpisah ketika agenda hendak diselesaikan, ketegangan terjadi. Kader rame-rame meminta pertanggungjawaban DPD I Golkar Maluku akan penghentian Musda.
Ketua Dewan Pertimbangan DPD Golkar Kota Ambon, Yos Sigers menegaskan, seluruh kader Golkar Kota Ambon solid dan punya semangat membesarkan partai.
"Kita ini datang untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah dibahas di tingkat kecamatan dengan melibatkan desa/kelurahan. Keputusan itu akan kembali disampaikan nanti ke mereka. Lantas apa lagi yang akan kita sampaikan kalau hal ini tidak berkahir," sesalnya.
Ia menyebut, seluruh kader yang ada saat ini telah mendedikasikan diri dan keluarga untuk Partai Golkar. Mereka berdarah-darah membesarkan partai ini.
"Jika tidak ada keputusan, maka kuatir Golkar akan terpuruk di Kota Ambon," tandasnya.
Merespon hal itu, Ridwan menegaskan, reaksi kadee sengaja dibiarkan agar diketahui pimpinan pusat.
"Beta (saya) sengaja biarkan situasi ini. Kalau model ini sapa yang mau jadi tumbal di daerah. Beta cuma anak buah. Beta hanya sampaikan ke atas. Hasilnya beta akan sampaikan ke kawan-kawan. Dalam waktu cepat Musda ini akan dilaksanakan. Tapi tolong kasih dukungan doa," pesan Ridwan. (ji2)
