Ketua TP PKK Kepulauan Aru, Ny. Klaudiya Imarisa Kaidel menerima penghargaan dari Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa di Ambon, Jumat (17/4). (Ist)

Kepulauan Aru Buktikan Diri: Dari Pulau Terluar, Melompat ke Panggung Juara PKK Maluku

39

Ambon, JejakInfo.id — Tak banyak yang menaruh perhatian pada gugusan pulau di ujung timur Maluku ini. Namun dari sanalah kejutan besar datang.

Kabupaten Kepulauan Aru, wilayah yang kerap dicap terpencil, justru melesat hingga meraih juara II dalam lomba pelaksana terbaik 10 Program Pokok PKK tingkat Provinsi Maluku pada peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54.

Kabar kemenangan itu datang seperti petir di siang bolong bagi para penggeraknya. Ketua TP PKK Kabupaten Kepulauan Aru Ny. Klaudiya Imarisa Kaidel saat menerima penghargaan dari Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa di Ambon mengaku tak kuasa menyembunyikan keterkejutannya saat nama daerahnya diumumkan.

“Jujur saya kaget sekali. Ini benar-benar di luar dugaan kami. Tapi ini menunjukkan bahwa kerja keras kader di lapangan akhirnya terjawab,” tuturnya, masih terbawa haru.

Di balik capaian itu, ada denyut kerja sunyi yang berlangsung jauh dari sorotan. Para kader PKK bergerak dari desa ke desa, menembus keterbatasan akses dan fasilitas. Desa Lola, yang menjadi lokus penilaian, tampil sebagai wajah dari upaya tersebut—sebuah desa yang berhasil menunjukkan praktik terbaik, sekaligus mematahkan anggapan bahwa kualitas hanya milik wilayah yang mudah dijangkau.

“Ini bukan hanya prestasi kabupaten, tapi prestasi desa. Desa Lola membuktikan bahwa walaupun jauh, mereka mampu menunjukkan kualitas yang tidak kalah,” ujarnya tegas.

Penghargaan ini bukan sekadar piala. Ia menjelma menjadi simbol—bahwa jarak geografis bukanlah penghalang untuk diakui. Bahwa desa-desa di garis terluar pun punya peluang yang sama untuk berdiri sejajar.

“Ini berkah untuk desa-desa jauh. Artinya, kalau kita kerja sesuai indikator, pasti ada hasil. Tidak ada alasan untuk tidak bisa,” katanya.

Namun di balik rasa bangga, terselip harapan yang tak kalah penting. Ia menekankan perlunya penilaian yang tetap adil dan objektif, tanpa bias terhadap letak wilayah.

“Jangan karena jauh lalu dipandang sebelah mata. Kalau layak, harus dihargai,” ucapnya.

Prestasi ini kini menjadi api pemantik. Bukan hanya untuk diperingati, tetapi untuk ditularkan. Desa-desa lain di Kepulauan Aru diharapkan ikut bergerak, mengejar bahkan melampaui capaian yang telah diraih.

“Kami ingin ini jadi pemicu. Desa lain harus ikut bergerak. Bahkan ke depan, kita harus bisa lebih dari ini,” katanya penuh optimisme.

Di ujung pernyataannya, ia kembali mengingatkan bahwa kemenangan ini lahir dari ketulusan.

“Terima kasih untuk semua kader PKK. Mereka bekerja dengan hati, di tengah keterbatasan. Ini kemenangan bersama,” ucapnya bangga.

Dari Kepulauan Aru, sebuah pesan sederhana bergema: prestasi tidak mengenal batas wilayah. Bahkan dari tempat yang paling jauh di peta, kerja keras tetap bisa menemukan jalannya menuju pengakuan. (ji3)