-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Ambon, JejakInfo.id — Jembatan Merah Putih selama ini berdiri megah sebagai simbol kemajuan dan kebanggaan warga Kota Ambon. Namun belakangan, wajah ikon itu berubah muram. Dalam waktu kurang dari sebulan, dua nyawa melayang setelah terjun dari atas jembatan tersebut. Sebuah rangkaian peristiwa yang menyisakan duka sekaligus kegelisahan.
Pada Jumat, 20 Maret, seorang perempuan mengakhiri hidupnya di lokasi itu. Belum genap sebulan, pada Rabu malam, 8 April, seorang pria melakukan hal serupa. Ia sempat mendapat pertolongan warga, namun tak tertolong. Rentetan kejadian ini bukan sekadar angka statistik. Ia adalah alarm keras bagi kota yang mulai merasa kehilangan rasa aman di ruang publiknya sendiri.
Di tengah masyarakat, peristiwa ini memantik beragam tafsir. Ada yang mengaitkannya dengan mitos lama yang beredar sejak masa pembangunan jembatan. Kisah tentang tiang pancang yang konon “hilang” ke dasar laut sebelum akhirnya berhasil ditanam setelah doa-doa dipanjatkan oleh tokoh adat dan pemuka agama.
Cerita-cerita seperti ini kembali mencuat, seolah mencari penjelasan di tengah ketidakpastian. Nama Tanjung Marthafons pun ikut terseret dalam percakapan. Legenda cinta tragis antara Martha dan Alfonzo.
Dua insan yang memilih melompat ke laut demi mempertahankan ikatan mereka kembali diingat. Kisah lama itu seperti menemukan gaungnya di masa kini, meski konteksnya berbeda.
Namun di balik semua narasi yang berkembang, ada kenyataan yang tak bisa dihindari: ini adalah persoalan nyata yang menuntut respons nyata. Mengaitkan kejadian berulang dengan mitos atau takdir semata berisiko mengaburkan akar masalah yang sesungguhnya.
Pertanyaan mendasarnya justru lebih dekat tentang keamanan, kewaspadaan, dan kondisi mental manusia yang kerap luput dari perhatian.
Jembatan yang seharusnya menjadi ruang penghubung kini berubah menjadi titik rawan. Tanpa langkah pencegahan yang jelas, kekhawatiran publik akan terus membesar.
Upaya seperti peningkatan pengamanan fisik, pengawasan di jam-jam rawan, hingga kehadiran layanan darurat di sekitar lokasi bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak.
Di sisi lain, isu kesehatan mental tak bisa terus berada di pinggiran. Peristiwa-peristiwa ini menyiratkan adanya pergulatan batin yang mungkin tak terlihat oleh orang sekitar.
Kota ini membutuhkan lebih dari sekadar reaksi setelah kejadian. Ia memerlukan sistem dukungan, ruang konseling, dan kesadaran kolektif untuk saling menjaga.
Peran pemerintah daerah, tokoh agama, dan pemangku adat menjadi krusial. Bukan hanya untuk meredam keresahan dengan doa dan pendekatan kultural, tetapi juga menghadirkan langkah konkret yang berkelanjutan. Duduk bersama, merumuskan solusi, dan bertindak cepat adalah bagian dari tanggung jawab yang tak bisa ditunda.
Kini, Jembatan Merah Putih berdiri dalam dua wajah: sebagai kebanggaan, sekaligus sebagai pengingat. Bahwa sebuah kota tidak hanya diukur dari kemegahan infrastrukturnya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga setiap nyawa yang melintas di atasnya. (*)
