-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Oleh:
Dr. Ferad Puturuhu, S.P., M.Si
(Akademisi Universitas Pattimura)
MUSIM hujan di Maluku selalu membawa cerita yang kompleks. Gugusan pulau dengan topografi berbukit, pesisir yang panjang, serta pemukiman padat di tepian sungai dan teluk menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Banjir bandang di Seram, longsor, Banjir dan ROB di Kota Ambon, hingga abrasi di pesisir Lease adalah potret nyata bahwa hujan bukan sekadar fenomena alam, melainkan ujian bagi ketangguhan masyarakat.
Momentum Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2026 dengan Tema : BERSATU DALAM SIAGA, TANGGUH MENGHADAPI BENCANA, hadir tepat ketika Maluku kembali berhadapan dengan siklus hujan intens, menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah kebutuhan mendesak dan bukan pilihan tapi suatu KEHARUSAN.
Resiliensi masyarakat Maluku dapat ditakar dari kemampuan adaptasi lokal. Tradisi sasi yang membatasi pemanfaatan sumber daya alam, atau praktik gotong royong membersihkan saluran air, Nanaku dengan mengenal tanda tanda alam adalah modal sosial yang harus diperkuat, Namun, tantangan modern seperti urbanisasi di Ambon, konversi lahan pesisir, dan lemahnya infrastruktur drainase membuat ancaman banjir dan longsor semakin nyata. Di titik ini, kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan kearifan lokal, melainkan harus dipadukan dengan teknologi peringatan dini, tata ruang adaptif, dan kebijakan publik yang konsisten.
Pemerintah daerah bersama masyarakat perlu menjadikan Hari Kesiapsiagaan Bencana sebagai momentum refleksi dan aksi. Simulasi evakuasi di sekolah-sekolah, penyediaan jalur evakuasi di kawasan pesisir rawan tsunami, serta revitalisasi ruang terbuka hijau di Ambon adalah langkah konkret yang harus dilakukan. Infrastruktur hijau seperti taman kota dan jalur resapan air bukan sekadar estetika, tetapi benteng ekologis yang mampu menahan limpasan hujan. Tanpa itu, setiap musim hujan akan terus menjadi ancaman berulang.
Lebih jauh, kesiapsiagaan adalah soal solidaritas sosial. Ketika banjir melanda, apakah masyarakat siap menolong kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak? Apakah komunitas lokal memiliki mekanisme cepat untuk mengevakuasi warga di daerah rawan longsor? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab dengan aksi nyata, bukan sekadar slogan perayaan. Karena pada akhirnya, resiliensi Maluku bukan hanya tentang bertahan menghadapi hujan, tetapi tentang membangun budaya siaga yang berkelanjutan untuk MENUJU SELAMAT.
Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2026 adalah panggilan bagi Maluku untuk menakar sejauh mana kesiapan menghadapi musim hujan. Bukan hanya kesiapan teknis, tetapi juga kesiapan mental, sosial, dan kebijakan. Sebab, di tanah yang dikelilingi laut dan pegunungan, resiliensi masyarakat adalah benteng utama menghadapi bencana hidrometeorologi.
Kiranya opini ini akan memberikan kesiapan Masyarakat Maluku termasuk Kota Ambon sebagai ibu kota provinsi untuk memiliki kesiapan menghadapi bencana dimusim penghujan, paling tidak dapat meminimalisir bencana Longsor pada wilayah berlereng dan padat penduduk serta intens aktivitasnya, benjana banjir diwilayah sempadan sungai yang padat permukiman, banjir ROB disempadan pantai, dan kejadian pohon tumbang, dengan berbagai cara dan upaya mitigasi yang dapat dilakukan sesegera mungkin. Jangan TERLENA terhadap lingkungan sekitar; KESIAPAN, KETANGGUHAN, KEGOTONGROYONGAN ATAU MASOHI menjadi modal utama kita di Maluku. (*)


