Gubernur Hendrik Lewerissa bersama Ketua TP PKK Maluku Ny. Maya Baby Lewerissa saat tiba di Desa Rumberu, Kecamatan Inamosol, Kabupaten Seram Bagian Barat, Minggu (22/3), pagi. (Ist)

KETIKA SEORANG GUBERNUR TURUN KE LUMPUR DAN JANJI BERUBAH MENJADI KARYA

92

BAYANGKAN, Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Sejak saat itu, 17.504 pulau menyatu dalam satu bangsa. Pembangunan digaungkan, jalan dibangun, jembatan didirikan, sekolah dan puskesmas hadir di berbagai penjuru negeri. Tapi di Kecamatan Inamosol, Kabupaten Seram Bagian Barat, Pulau Seram desa-desa masuk kategori 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).

80 tahun, sejak Indonesia merdeka hingga hari ini, masyarakat Rumberu belum pernah merasakan jalan yang layak. Bukan satu tahun, bukan sepuluh tahun. TIDAK PERNAH.

Dan selama kurun waktu 80 tahun itu, ada kriminalitas kemanusiaan yang terjadi secara diam-diam dan tak pernah terucap dari luapan hati Masyarakat, hasil bumi yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan, justru membusuk di tanah sendiri.

Cengkeh, rempah yang pernah menjadi komoditas global yang memperebutkan Maluku. Pala rempah yang harganya selangit di pasar internasional. Coklat, yang permintaannya tak pernah surut. Hasil pertanian, yang seharusnya menghidupi ribuan keluarga. Seringkali dibuang. Karena tidak ada transportasi yang layak.

Bayangkan seorang petani di Inamosol. Berbulan-bulan merawat kebun cengkeh. Memanjat pohon tinggi-tinggi, memetik satu per satu, mengeringkan bahkan menyortir. Berharap hasil panennya bisa membiayai sekolah anak, bisa membeli kebutuhan sehari-hari, bisa merayakan tahun baru dengan pakaian baru. Tapi ketika panen tiba, ketika hasil bumi melimpah, tidak ada mobil yang bisa masuk. Jalan hanya lumpur, jalan hanya kubangan, jalan hanya penghalang.

Akhirnya, cengkeh yang bernilai tinggi di pasar global, dijual dengan harga murah di tingkat petani atau bahkan tidak laku sama sekali, lalu dibiarkan membusuk. 

INILAH REALITAS YANG DITANGGUNG MASYARAKAT INAMOSOL SELAMA 80 TAHUN, SEJAK MERDEKA!

Saudara-saudara, saya ingin anda membayangkan dengan mata hati anda sendiri. Jika anda ingin masuk ke Kecamatan Inamosol, anda tidak bisa menggunakan mobil biasa. Bukan Avanza. Bukan Xenia. Bahkan bukan Fortuner yang sering dipamerkan di jalanan kota. Jangan pernah membayangkan mobil Alphard dapat masuk di sini. Yang bisa melintasi jalanan Inamosol hanyalah mobil 4x4 double cabin dengan ground clearance tinggi, dengan ban khusus, dengan mesin yang meraung-raung melawan lumpur, batu, dan tanjakan ekstrem. 

Tapi itupun bukan perjalanan yang nyaman. Itu adalah perjuangan. Ban terkadang terperosok ke dalam kubangan. Mesin meraung menahan beban jalan yang tidak pernah rata. Suspensi bekerja ekstrem setiap detiknya. Pengemudi harus memiliki kemampuan ekstra untuk membaca medan yang setiap saat bisa berubah. 

Dan inilah yang paling menyayat hati, usia mobil yang digunakan untuk melintasi jalanan Inamosol, dari baru, paling lama hanya 4 tahun. Lalu hancur.

Sebuah mobil yang seharusnya bisa digunakan 10-15 tahun di jalan normal, di Inamosol hanya bertahan 4 tahun. Rangka mulai retak. Mesin mulai komplain. Transmisi mulai bermasalah. Suspensi rusak. Ban habis. Mobil yang nilainya ratusan juta rupiah, menjadi rongsokan hanya dalam 4 tahun.

Sekarang, coba renungkan: Berapa biaya operasional yang harus ditanggung oleh transportasi di Inamosol? Jika mobil baru harganya Rp.500-600 juta, dan hanya bertahan 4 tahun, maka biaya penyusutan per tahun adalah Rp.125-150 juta. Ditambah bahan bakar yang boros karena medan ekstrem. Ditambah biaya perawatan yang luar biasa mahal karena setiap kali melintas, ada bagian yang rusak. Ditambah risiko kecelakaan yang setiap saat mengintai.

SEMUA BIAYA ITU AKHIRNYA DIBEBANKAN KEPADA MASYARAKAT

Inilah kenapa harga kebutuhan pokok di pedalaman bisa 2-3 kali lipat dari harga di kota. Inilah kenapa hasil bumi petani dibeli dengan harga murah—karena biaya transportasi yang masuk sudah selangit. Inilah kenapa kemiskinan di desa 3T begitu sulit diatasi—karena infrastruktur penghubungnya tidak pernah dibangun. Dan selama 80 tahun, tidak ada pemimpin yang hadir untuk mengubah ini. 

Namun Sejarah tercatat, hari Minggu 22 Maret 2026. Biasanya, hari Minggu adalah hari untuk beristirahat. Untuk keluarga. Untuk menjauh dari hiruk-pikuk pekerjaan. Tapi tidak bagi Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa. Beliau memilih menghabiskan hari Minggunya di tempat yang mungkin tidak pernah terbayang oleh para pengkritiknya yang nyaman di balik layar ponsel, Desa Rumberu pedalaman Kecamatan Inamosol, Seram Bagian Barat. Bukan dengan konvoi mewah. Bukan dengan pengawalan panjang yang membuat jarak dengan rakyat. Bukan dengan pakaian rapi yang takut terkena debu dan lumpur.

Beliau datang dengan segala kerendahan hati. Beliau datang dengan niat untuk mendengar jeritan suara hati rakyat. Beliau datang dengan kesadaran bahwa selama 80 tahun, ada saudara-saudaranya yang hidup dalam keterisolasian.

Dan di Rumberu, beliau tidak berdiri di atas panggung. Beliau duduk. Beliau duduk bersama masyarakat. Di rumah pastori sederhana, di tempat yang sederhana. Di tempat yang menjadi saksi bisu dari penderitaan yang tak pernah usai.

Di Rumah Pastori Desa Rumberu itulah, masyarakat Kecamatan Inamosol yang diwakili oleh para kepala desa, camat, dan diketuai oleh Bapak Gerard Wakanno menyodorkan proposal. Sebuah proposal yang tebalnya tidak seberapa. Tapi beratnya segunung penderitaan yang ditanggung selama 80 tahun.

Proposal itu berisi satu permintaan yang sederhana namun monumental, JALAN. Jalan yang layak. Jalan yang menghubungkan Waimital hingga Manusa. Jalan yang akan membuka isolasi. Jalan yang akan mengakhiri era di mana hasil bumi dibuang karena tidak bisa keluar. Jalan yang akan menghentikan peredaran mobil-mobil 4x4 yang hanya bertahan 4 tahun sebelum hancur.

Gubernur Hendrik Lewerissa dan Ny. Maya Baby Lewerissa menyapa warga Desa Rumberu saat tiba.

Dan inilah momen yang membedakan seorang pemimpin sejati dari sekadar pejabat: 

Gubernur Hendrik Lewerissa tidak menumpuk proposal itu di meja. Beliau tidak menjawab dengan kalimat diplomatis “KAMI AKAN PELAJARI DULU”. Beliau tidak berjanji akan menindaklanjuti “DALAM WAKTU DEKAT” yang seringkali berarti tidak pernah.

Beliau langsung berinisiatif berdiskusi dengan Wakil Bupati Seram Bagian Barat dan Kepala Dinas PUPR Provinsi Maluku. Duduk bersama, membahas, menghitung serta memastikan.

Dan di hadapan masyarakat yang selama 80 tahun hanya menerima janji, Gubernur Lewerissa memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar ucapan KESEPAKATAN.

Jalan Waimital–Manusa akan dibangun. Dengan skema dana Inpres. Bukan rencana, bukan wacana. TAPI KOMITMEN YANG DIUCAPKAN DI DEPAN SAKSI MASYARAKAT RUMBERU, PARA KEPALA DESA, CAMAT, DAN RUMAH PASTORI YANG MENJADI SAKSI BISU.

Setelah kesepakatan itu lahir, setelah diskusi usai, setelah tangan-tangan bersalaman terjadilah sesuatu yang sangat mengharukan.

TIGA HARI SETELAH KUNJUNGAN GUBERNUR

Bukan tiga bulan. Bukan tiga tahun. Bukan “sampai kapan-kapan”. TIGA HARI. Tim teknis turun. Mereka mengukur, mereka memetakan, mereka menghitung, mereka mempersiapkan tahapan usaha untuk pembangunan jalan Waimital–Manusa.

Inilah yang disebut PEMIMPIN YANG MERAKYAT. Bukan pemimpin yang hanya muncul di baliho dan spanduk. Bukan pemimpin yang hanya pandai berpidato di acara-acara seremonial. Tapi pemimpin yang mau merasakan penderitaan rakyatnya, yang mau turun ke lumpur, yang mau mendengar jeritan dari pedalaman Pulau Seram. (*)