-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Ambon, JejakInfo.id — Tangis itu pernah jatuh diam-diam. Di sebuah titik awal perjalanan kuliahnya, Clarise Franciska Lalineka dihadapkan pada kenyataan pahit: uang kuliah tunggal sebesar Rp3 juta harus dibayar, sementara sang ayah hanya seorang buruh.
Harapan nyaris goyah, namun orang tuanya memilih tetap berdiri teguh: meyakini bahwa selalu ada jalan bagi anaknya yang ingin belajar.
Keyakinan itulah yang kemudian mengubah arah hidup Clarise. Mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Pattimura itu akhirnya dinyatakan lolos sebagai penerima KIP Kuliah. Sejak saat itu, langkahnya tak lagi tertatih. Bantuan biaya pendidikan dan dukungan hidup yang ia terima menjadi pijakan kuat untuk menapaki dunia akademik, bukan sekadar bertahan, tetapi melesat.
Dalam waktu 3,5 tahun, Clarise menuntaskan studi sarjananya dengan hasil yang nyaris tak tersentuh: IPK sempurna.
Namun kisahnya tak berhenti di sana. Di tengah suasana haru prosesi wisuda April 2026, ketika para orang tua menyeka air mata bangga dan para lulusan menatap masa depan dengan harap, Clarise justru mendapatkan kejutan yang tak pernah ia bayangkan. Namanya disebut langsung dalam orasi oleh Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno.
Di hadapan seluruh hadirin, Eddy menyampaikan komitmennya.
Ia menawarkan dukungan bagi Clarise untuk melanjutkan studi ke jenjang magister. Bahkan, jika jalur KIP tidak tersedia, ia siap menanggung pendidikan S2 tersebut secara pribadi.
Ruangan mendadak hening, lalu bergemuruh oleh rasa haru. Bagi Clarise, itu bukan sekadar bantuan, melainkan jawaban atas doa-doa panjang yang ia panjatkan dalam diam.
“Saya tidak pernah membayangkan akan mendapatkan kesempatan ini,” ucapnya pelan.
“Keinginan untuk lanjut S2 memang ada, tapi saya sadar kondisi ekonomi. Untuk S1 saja, saya harus berjuang dengan beasiswa,” sambung Clarise dengan mata berbinar.
Perjalanan Clarise selama kuliah bukan hanya soal angka di atas kertas. Ia aktif dalam berbagai kegiatan, terlibat dalam riset bersama dosen, hingga dipercaya memimpin Inkubator Bisnis Mahasiswa. Di bawah kepemimpinannya, tim yang ia pimpin berhasil mengamankan pendanaan usaha sebesar Rp50 juta dari program pemerintah. Sebuah capaian yang menegaskan kapasitasnya bukan hanya sebagai mahasiswa berprestasi, tetapi juga pemimpin muda.
Meski kini pintu masa depan terbuka lebih lebar, Clarise tetap menjejak tanah tempat ia berasal. Ia tidak melupakan masa-masa sulit yang membentuknya.
“Percaya pada diri sendiri, jangan mudah menyerah, dan terus berusaha,” pesannya kepada mahasiswa lain yang tengah berjuang dari keterbatasan.
“Dukungan orang tua dan doa itu sangat penting,” ucapnya lagi.
Kisah Clarise bukan sekadar cerita tentang keberhasilan akademik. Ia adalah potret tentang harapan yang dirawat dalam keterbatasan, tentang kerja keras yang tak pernah berhenti, dan tentang bagaimana sebuah kesempatan ketika datang mampu mengubah seluruh arah kehidupan.
Dari KIP Kuliah, ia melangkah menuju mimpi yang lebih tinggi. Dan kini, mimpi itu tak lagi terasa jauh. (ji6)
