-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Langgur, JejakInfo.id – Lima puluh hari bukan waktu yang singkat. Selama berada di tengah masyarakat, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pattimura (Unpatti) tidak hanya menjalankan tugas akademik, tetapi ikut menyelami kehidupan warga, mengenali persoalan, menggali potensi, dan menanamkan sejumlah gagasan baru.
Kini, mahasiswa itu harus kembali ke kampus. Namun bagi Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, kepulangan mahasiswa tidak boleh menjadi tanda berakhirnya seluruh kerja yang telah mereka mulai.
Justru setelah mahasiswa meninggalkan lima ohoi lokasi KKN-PPM, masyarakat dan pemerintah ohoi ditantang untuk menjaga agar pengetahuan, inovasi, dan gagasan yang telah tumbuh tetap hidup dan berkembang.
Pesan itu disampaikan Thaher saat menghadiri silaturahmi Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara bersama mahasiswa KKN UGM dan Unpatti di Ohoi Danar, Kabupaten Maluku Tenggara, Sabtu (8/8/2026).
Di hadapan para kepala ohoi, mahasiswa, dan pimpinan organisasi perangkat daerah, Thaher meminta pemerintah ohoi tidak membiarkan berbagai program pemberdayaan yang dirintis selama 50 hari berjalan begitu saja setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Lima ohoi yang menjadi lokasi pengabdian tersebut yakni Ohoi Elaar Let, Elaar Lamagorang, Elaar Ngursoin, Ohoidertutu, dan Ohoidertom, yang berada di Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan dan Kei Kecil Barat.
“Para kepala ohoi harus memperhatikan catatan atau saran yang disampaikan mahasiswa KKN untuk pengembangan pembangunan di masing-masing ohoi,” tegas Thaher.
Jangan Berhenti Ketika Mahasiswa Pulang
Bagi Thaher, keberhasilan sebuah program KKN tidak semata-mata dilihat dari berapa banyak kegiatan yang mampu diselesaikan mahasiswa selama berada di desa.
Ukuran yang lebih penting adalah apa yang tersisa setelah mereka pergi. Apakah pengetahuan yang dibagikan masih digunakan? Apakah gagasan yang diperkenalkan bisa dikembangkan? Apakah masyarakat mampu melanjutkan sesuatu yang sebelumnya mulai dirintis bersama mahasiswa?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menurut Thaher harus menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat di lima ohoi tersebut.
“Jangan sampai setelah mahasiswa kembali ke kampus, semua yang sudah dilakukan berhenti. Apa yang baik harus diteruskan, dikembangkan, dan menjadi bagian dari pembangunan ohoi,” ujarnya.
Ia melihat mahasiswa KKN bukan sekadar peserta program akademik yang datang, menjalankan tugas, lalu pulang. Kehadiran mereka merupakan kesempatan bagi masyarakat untuk melihat persoalan dari sudut pandang baru sekaligus membuka ruang bagi lahirnya inovasi.
Selama berada di tengah warga, mahasiswa berinteraksi langsung dengan masyarakat, memetakan berbagai persoalan, mengenali potensi lokal, dan mencoba menawarkan pendekatan yang dapat memberi manfaat bagi kehidupan warga.
Karena itu, pemerintah ohoi diminta tidak menutup ruang bagi gagasan-gagasan tersebut setelah mahasiswa meninggalkan lokasi pengabdian.
Sebaliknya, program yang dinilai bermanfaat harus dirawat, diperbaiki, dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Ohoi Tidak Hanya Dibangun dengan Fisik
Thaher juga mengingatkan bahwa pembangunan ohoi tidak boleh hanya dipahami dalam bentuk pembangunan fisik.
Ada pembangunan manusia yang jauh lebih panjang dan membutuhkan perhatian terus-menerus.
Pendidikan, literasi, kreativitas, kesehatan, ekonomi masyarakat, lingkungan, hingga pemanfaatan potensi lokal merupakan bagian dari pekerjaan besar yang harus dilakukan secara berkelanjutan.
Dalam konteks itulah, kehadiran mahasiswa KKN dinilai dapat menjadi pemantik.
“Mahasiswa sudah memberikan ide dan pengalaman. Tugas kita adalah menjaga dan mengembangkannya agar memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Thaher.
Menurut dia, keberlanjutan tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah ohoi. Masyarakat harus menjadi bagian utama dari proses tersebut.
Pemuda, kelompok perempuan, sekolah, dan berbagai unsur masyarakat lainnya dapat mengambil peran untuk memastikan program yang telah dimulai tidak kehilangan arah.
Dengan demikian, apa yang dibawa mahasiswa tidak berhenti sebagai kenangan selama 50 hari, tetapi perlahan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Dari Kei untuk Dibawa Pulang
Di sisi lain, Thaher menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa UGM dan Unpatti yang memilih Maluku Tenggara sebagai ruang pengabdian sekaligus pembelajaran.
Baginya, pengalaman hidup bersama masyarakat Kei selama 50 hari merupakan sesuatu yang tidak hanya bernilai bagi masyarakat, tetapi juga bagi para mahasiswa.
Ia bahkan meminta mahasiswa membawa pulang cerita-cerita positif tentang Maluku Tenggara.
“Ceritakan hal-hal positif yang kalian alami dan hadapi selama 50 hari di Ohoi Elaar Let, Lamagorang, Ngursoin, Ohoidertutu dan Ohoidertom,” pesannya.
Pengalaman tersebut, kata Thaher, dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan Maluku Tenggara kepada masyarakat yang lebih luas.
Ada kehidupan masyarakat yang unik, nilai sosial yang kuat, potensi wilayah, serta berbagai cerita tentang kehidupan di ohoi yang mungkin tidak akan ditemukan mahasiswa di ruang-ruang kampus.
Karena itu, Thaher berharap hubungan yang telah terbangun antara mahasiswa dan masyarakat tidak ikut berakhir ketika masa KKN selesai.
“Kembali ke kampus, tiba dengan selamat, bertemu orang tua, dan jangan pernah melupakan Maluku Tenggara,” pesan Thaher.
Kalimat itu sekaligus menjadi penutup dari perjalanan pengabdian mahasiswa di lima ohoi.
Mereka boleh kembali ke kampus. Program KKN boleh dinyatakan selesai. Tetapi benih pengetahuan dan inovasi yang telah ditanam selama 50 hari di tengah masyarakat diharapkan tidak ikut pulang.
Pemkab Maluku Tenggara pun mendorong kerja sama dengan perguruan tinggi terus diperkuat. KKN diharapkan bukan hanya menjadi ruang bagi mahasiswa belajar dari masyarakat, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi lahirnya gagasan yang benar-benar bisa bertahan dan memberi manfaat dalam jangka panjang.
Sebab, pembangunan yang baik bukan tentang siapa yang pertama kali menanam sebuah gagasan, melainkan siapa yang bersedia merawatnya hingga tumbuh dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Di lima ohoi itu, tugas mahasiswa mungkin telah selesai. Tetapi pekerjaan untuk membuat perubahan tetap hidup baru saja dimulai. (ji4)

