KM Sabuk Nusantara 104 menyingahi Pelabuhan Desa Eray, Kecamatan Wetar Utara, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Provinsi Maluku, Senin (17/8). (Ist)

KM Sabuk Nusantara 104 Singgah Eray, Tokoh Wetar: Hendrik Lewerissa Jiwa Orang Ambon, Tapi Rasa Orang Wetar

42

Ambon, JejakInfo.id — Tangis haru pecah di Pelabuhan Desa Eray, Kecamatan Wetar Utara, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Provinsi Maluku, Senin (17/8/2026). Bukan karena duka, melainkan karena kerinduan panjang masyarakat akhirnya menemukan jawaban.

Di tengah peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, KM Sabuk Nusantara 104 kembali menyinggahi Pelabuhan Eray. Bagi masyarakat setempat, kehadiran kapal perintis tersebut bukan sekadar soal transportasi laut. Ia adalah kembalinya urat nadi kehidupan yang sempat terputus.

Sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama hingga tenaga kesehatan di Wetar Utara pun memberikan apresiasi kepada Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang dinilai ikut mendorong terbukanya kembali akses transportasi laut menuju wilayah tersebut.

Bahkan, di kalangan masyarakat Wetar Utara muncul ungkapan yang menggambarkan kedekatan sang gubernur dengan persoalan warga.

“Gubernur Hendrik itu jiwa orang Ambon, tapi rasa orang Wetar.”

Ungkapan itu disampaikan sebagai bentuk penghargaan terhadap langkah Hendrik Lewerissa yang dinilai mampu membawa persoalan keterisolasian Wetar Utara hingga mendapat perhatian pemerintah pusat, khususnya Kementerian Perhubungan RI.

Kepala Desa Eray, Lamberthus Managa, tak kuasa menyembunyikan rasa harunya ketika KM Sabuk Nusantara 104 kembali merapat di dermaga desa mereka.

“Ini momentum bersejarah yang sekian purnama hilang. Jadi dengan sandarnya KM Sabuk Nusantara 104 di pelabuhan kami, kerinduan kami pun terobati,” ujar Lamberthus dengan mata berlinang.

Bagi Lamberthus, kembalinya kapal perintis itu mungkin terlihat sederhana bagi masyarakat di daerah lain. Namun bagi warga Wetar Utara, peristiwa tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar.

“Ini sebuah prestasi yang mungkin kecil di mata orang lain, tetapi besar bagi kami orang Wetar,” katanya.

Ia mengaku salut dan bangga terhadap Gubernur Hendrik Lewerissa yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Maluku.

Menurutnya, Gubernur HL tipe pemimpin yang luar biasa. Bukan sekadar mendengar keluhan masyarakat, tetapi ikut merasakan getaran kesulitan yang selama ini membelenggu warga di kawasan tersebut.

Lamberthus mengisahkan, beberapa waktu lalu sejumlah tokoh masyarakat dari beberapa desa di Wetar Utara melayangkan surat kepada Gubernur Maluku. Surat tersebut menggambarkan kondisi masyarakat yang menghadapi tingginya rentang kendali serta keterbatasan sarana transportasi laut.

Jika kondisi tersebut dibiarkan, kata dia, penderitaan masyarakat akan semakin berat. Persoalannya bukan hanya mobilitas warga, tetapi juga menyangkut kesehatan, pendidikan, kebutuhan pokok, aktivitas ekonomi hingga keselamatan masyarakat ketika membutuhkan pelayanan di luar pulau.

Dalam situasi tersebut, Hendrik Lewerissa disebut meminta Dinas Perhubungan Maluku menindaklanjuti persoalan itu melalui koordinasi dengan Direktorat Lalu Lintas Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.

“Yang saya dengar Dinas Perhubungan Provinsi Maluku diperintahkan menyurati Kementerian. Tetapi secara substansi Pak Gubernur Hendrik yang melobi Pak Menteri dan Pak Dirjen,” ujar Lamberthus.
Ia pun menyampaikan terima kasih atas perhatian tersebut.

Menurut Lamberthus, sandarnya KM Sabuk Nusantara 104 kembali membuka harapan baru bagi masyarakat Wetar Utara. Konektivitas antarpulau menjadi lebih terbuka, mobilitas masyarakat semakin mudah dan distribusi logistik maupun kebutuhan pokok diharapkan dapat berjalan lebih lancar.

Dampaknya pun diharapkan terasa pada harga barang di wilayah terluar dan terpencil seperti Wetar Utara.

Selama ini, kata Lamberthus, masyarakat hidup dalam tekanan akibat keterbatasan akses transportasi. Karena itu, diperlukan pemimpin yang tidak hanya berbicara dari balik meja pemerintahan, tetapi mampu melihat persoalan masyarakat dari perspektif kemanusiaan.

“Makanya adalah benar kalau sejumlah tokoh masyarakat Wetar menilai Gubernur Hendrik adalah putra Lease tapi rasa orang Wetar. Kenapa tidak, sebab bagi saya beliau telah membuktikannya. Sebab pemimpin itu sejatinya adalah pembuktian kata-kata, bukan retorika,” tegasnya.

Urat Nadi yang Kembali Berdenyut

Harapan serupa disampaikan Pdt. Deasy Tayanne, tokoh agama setempat. Ia mengatakan, sejak rute KM Sabuk Nusantara 104 dihentikan, dampaknya langsung dirasakan masyarakat dan jemaat di Eray serta wilayah sekitarnya.

Urat nadi kehidupan masyarakat, menurut dia, semakin terasa berat. Berbagai persoalan muncul mulai dari sektor kesehatan, pendidikan hingga kehidupan sosial ekonomi.

“Karena itu saya berharap ini menjadi awal yang baik untuk menggenapi harapan kami. Kemanusiaan kami sudah lama tertekan. Semoga di momentum HUT Proklamasi ke-81 Republik Indonesia ini, makna kemerdekaan itu pun terasa juga di Wetar,” ujar Pdt. Deasy.

Kembalinya KM Sabuk Nusantara 104, lanjutnya, membawa sukacita yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Bagi masyarakat Eray, kapal tersebut bukan sekadar alat angkut. Ia menjadi simbol bahwa perjuangan dan pergumulan panjang masyarakat akhirnya mendapat perhatian.

“Puji Tuhan Pak Gubernur Hendrik Lewerissa telah mencari jalan keluar dalam menjawab derita warga,” katanya.

Ia pun mengajak masyarakat dan jemaat untuk mensyukuri momentum tersebut. Pdt. Deasy berharap Gubernur Hendrik Lewerissa bersama Wakil Gubernur Maluku dapat terus mengawal keamanan, ketenteraman dan keberlanjutan pelayanan transportasi di seluruh wilayah Maluku, termasuk Wetar.

Harapannya sederhana: KM Sabuk Nusantara 104 yang telah kembali melayani masyarakat Wetar Utara tidak lagi dialihkan.

Bagi Puskesmas, Ini Soal Nyawa

Bagi Kepala Puskesmas Desa Eray, Grace Hobataman, kembalinya KM Sabuk Nusantara 104 memiliki arti yang jauh lebih serius. Ini menyangkut keselamatan manusia.

Grace mengatakan, dengan adanya kapal perintis tersebut, beban masyarakat setidaknya dapat dikurangi karena warga memiliki akses untuk melakukan rujukan ke luar pulau ketika pelayanan kesehatan tidak dapat ditangani di tingkat puskesmas.

“Bisa dibayangkan kalau tidak ada KM Sabuk Nusantara 104, krisis kemanusiaan kian nyata di sini. Pasien gawat darurat dan ibu melahirkan kehilangan rujukan aman ke rumah sakit luar pulau,” ujarnya.

Ia mengaku selama beberapa waktu masyarakat merasakan kesedihan akibat terbatasnya akses transportasi.

“Kami sedih sekali selama beberapa kurun waktu ini, tapi puji Tuhan atas perhatian Bapak Gubernur Maluku, persoalan kemanusiaan yang selama ini membelenggu dapat teratasi,” kata Grace.

Grace juga mengingatkan bahwa hidup di pelosok bukanlah sebuah ancaman ataupun alasan untuk dilupakan.

Justru sebaliknya, masyarakat di wilayah terluar merupakan bagian penting dari wajah Maluku dan Indonesia.

“Maluku yang indah bukan cuma ada di ibu kota provinsi, tetapi juga di kawasan ini,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap siapa pun yang memimpin daerah tidak mengabaikan masyarakat Wetar yang, menurutnya, memiliki kerinduan yang sama untuk merasakan arti kemerdekaan dan menjadi bagian utuh dari Indonesia.

Pemprov: Jangan Sampai Terulang Lagi

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Maluku Samuel Huwae turut menyambut baik kembali beroperasinya KM Sabuk Nusantara 104 di kawasan Wetar Utara.

Menurut Huwae, kehadiran kapal tersebut menjadi bagian penting dalam membuka keterisolasian wilayah dan memperkuat konektivitas antarpulau.

Dengan konektivitas yang kembali terbuka, berbagai persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat diharapkan dapat perlahan teratasi, terutama menyangkut distribusi kebutuhan pokok.

“Jadi Bapak Gubernur berharap dengan masuknya KM Sabuk Nusantara 104 di Pelabuhan Eray, maka tingkat kesulitan selama ini terpecahkan,” ujar Huwae.

Ia menilai transportasi publik yang murah dan terjangkau bagi masyarakat Wetar Utara tidak boleh berhenti sebagai harapan.

“Maka mari berdoa dan menjaga kedamaian, ciptakan lingkungan yang kondusif terutama dalam mendukung jiwa dan semangat UU Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, terlebih lagi Keputusan Dirjen Perhubungan Laut Nomor 618 Tahun 2025 tentang Penetapan Jaringan Trayek Penyelenggaraan Pelayaran Perintis Tahun Anggaran 2026,” katanya.

Huwae juga menyampaikan kembali pesan Gubernur Maluku dalam pidato HUT ke-81 Provinsi Maluku di hadapan Sidang Paripurna. Masyarakat di setiap level diminta ikut menjaga lingkungan, menciptakan suasana yang kondusif serta menghindari minuman keras dan berbagai perbuatan tercela lainnya.

Pesan tersebut, kata dia, juga penting bagi mereka yang bekerja sebagai awak kapal.

“Saya kira ini penting sebab jika ada keputusan Omisi lagi, maka yang rugi adalah masyarakat itu sendiri,” ujarnya.

Wetar Bukan Wilayah yang Harus Dilupakan

Huwae menegaskan, kawasan 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) di Maluku tidak boleh dipandang sebagai kawasan yang memiliki citra buruk.

Sebaliknya, kawasan tersebut merupakan wilayah dengan tantangan geografis dan kendala infrastruktur yang relatif tinggi, tetapi menyimpan potensi besar.

Di balik keterbatasan itu, terdapat kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang tidak sedikit. Lebih dari itu, masyarakat yang hidup di kawasan terluar sesungguhnya berada di garis depan dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Karena itu, bagi masyarakat Wetar Utara, sandarnya KM Sabuk Nusantara 104 pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI bukan sekadar kedatangan sebuah kapal.

Ia adalah simbol bahwa mereka masih dilihat, masih didengar dan masih menjadi bagian penting dari Indonesia.

Dan bagi para tokoh masyarakat Wetar Utara, perhatian Gubernur Hendrik Lewerissa terhadap persoalan tersebut menjadi bukti bahwa kepemimpinan tidak cukup hanya hadir melalui pidato.

Kepemimpinan harus terasa sampai ke dermaga-dermaga kecil, ke pulau-pulau terluar, dan terutama kepada masyarakat yang selama bertahun-tahun menunggu satu hal sederhana: akses untuk hidup dengan lebih layak. (ji1)